Pengunjuk rasa Palestina menghadapi aparat keamanan Israel dalam aksi menetang pengusiran di Tepi Barat, Jumat (17/6/2022). | EPA-EFE/ABED AL HASHLAMOUN

Internasional

04 Aug 2022, 03:45 WIB

IRAC: Penegakan Hukum Warga Palestina dan Israel Timpang

Jumlah warga Palestina yang menerima dakwaan dan hukuman lebih tinggi dibandingkan dengan warga Israel.

YERUSALEM -- Pusat Aksi Keagamaan Israel atau Israel Religious Action Center (IRAC) mengatakan, jumlah warga Palestina yang menerima dakwaan dan hukuman lebih tinggi dibandingkan dengan warga Israel. Sebagian besar warga Palestina didakwa atas hasutan untuk melakukan kekerasan.

Laporan tersebut berdasarkan riset yang dilakukan antara 2014 hingga 2021. Hasil riset menemukan 77 persen dari semua dakwaan terhadap warga Palestina adalah hasutan untuk melakukan kekerasan dan rasisme. Dakwaan ini diajukan terhadap warga Palestina dengan populasi hanya 20 persen dari total populasi di Israel.

"Data dengan jelas menunjukkan kebijakan penegakan yang tidak memadai. Kebijakan penuntutan tentang hasutan oleh orang Yahudi, khususnya, ditandai dengan penundaan (dakwaan)," ujar pengacara IRAC, Ori Narov dan Orly Erez-Likhovsky, dilansir Middle East Monitor, Selasa (2/8).

photo
Polisi Israel membubarkan warga Palestina di halaman Masjid Kubah Batu di komplkes Masjid al-Aqsha, Jumat (12/5/2022). - (AP Photo/Mahmoud Illean)

Laporan tersebut mengungkapkan, 51 persen dakwaan terhadap warga Palestina diajukan dalam waktu satu bulan sejak dugaan penghasutan itu terjadi. Sementara itu, 42 persen dakwaan terhadap orang Israel diajukan satu hingga dua tahun setelah penghasutan itu terjadi, sedangkan  21 persen lainnya diajukan dua hingga enam tahun kemudian.

Selain itu, 99 persen warga Palestina yang didakwa menerima hukuman penjara. Sementara sekitar 54 persen orang Yahudi yang didakwa tidak menerima hukuman penjara.

Laporan IRAC tersebut juga menyoroti bahwa sistem penegakan hukum sudah lama membisu terkait dengan hasutan liar dan tak berdasar dari sejumlah oknum rabi yang mengaku mendasarkan diri pada hukum Yahudi. Namun, hal yang sama tidak berlaku untuk ulama Muslim.

Organisasi tersebut mengklarifikasi bahwa pihaknya bukan menuntut agar dakwaan terhadap warga Palestina lebih sedikit. Namun, IRAC berharap dakwaan dan hukuman serupa juga berlaku bagi orang-orang Yahudi yang didakwa melakukan hasutan atau provokasi serupa.

photo
Polisi Israel menahan pemuda Palestina dalam aksi memprotes serangan Israel ke Gaza di Kota Tua Yerusalem, Selasa (18/5/2021). - (AP/Mahmoud Illean)

"Penegakan hukum yang salah terhadap penghasutan memungkinkan banyak aktivis terus menghasut sebanyak yang mereka mau tanpa dimintai pertanggungjawaban. Situasi ini mencemari dan membahayakan kehidupan manusia," ujar laporan IRAC.

IRAC adalah sayap advokasi dari Israel Movement for Progressive Judaism yang berpusat di Yerusalem. Laman IRAC menyebutkan, salah satu poin yang diperjuangkan adalah berupaya mencari jalan terbaik mewujudkan masyarakat bersama yang setara antara warga Yahudi dan Arab di Israel.

Sementara sebuah jajak pendapat yang diterbitkan awal tahun ini oleh televisi Israel Channel 12 mengungkapkan, 83 persen Arab Israel percaya bahwa, negara mempraktikkan "rasisme yang dilembagakan" terhadap komunitas Palestina. Dua pertiga responden mengatakan, mereka telah menghadapi diskriminasi di dalam institusi Israel. Jajak pendapat juga mengungkapkan, sebagian besar warga Palestina di Israel telah mengalami diskriminasi rasial oleh lembaga-lembaga publik dan di tempat-tempat umum.


Para Menlu ASEAN Bahas Krisis Myanmar

Bulan lalu, junta Myanmar telah mengeksekusi mati empat aktivis demokrasi.

SELENGKAPNYA

Riset Genetik-Arkeologi Jawab Asal Usul Manusia Indonesia

Perpaduan data artefak arkeologi dan riset genetika bisa menjawab asal usul manusia Indonesia.

SELENGKAPNYA

Spirit Muharram

Spirit Muharam sebagai bulan Haram (suci) hendaknya disikapi dengan penyucian diri

SELENGKAPNYA
×