Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

03 Aug 2022, 03:30 WIB

Spirit Muharram

Spirit Muharam sebagai bulan Haram (suci) hendaknya disikapi dengan penyucian diri

OLEH ALEXANDER ZULKARNAEN

Sejak zaman Jahiliyah, Muharram telah diyakini sebagai bulan suci. Hanya saja, kala itu bulan ini tidak disebut Muharram, melainkan bulan Shafar Awwal.

Ketika Islam datang, Allah SWT kemudian mengganti namanya menjadi Muharram. Karena itu, Muharram disebut juga Syahrullah (bulannya Allah) sebagaimana dijelaskan Imam as-Suyuti dalam kitabnya Syarah Suyuti ‘Ala Shahih Muslim.

Penisbatan bulan Muharram dengan lafaz Allah menunjukkan kemuliaan dan kesucian bulan salah satu Ashurul Hurum ini. Allah Ta’ala tidaklah menyandarkan asma-Nya di belakang sesuatu melainkan karena sesuatu itu pasti memiliki keistimewaan. Seperti Habibullah (Kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW), Khalilullah (Teman Allah, Nabi Ibrahim AS), Baitullah (Rumah Allah, Ka’bah), dan sebagainya.

Karena itu, Spirit Muharam sebagai bulan Haram (suci) hendaknya disikapi dengan penyucian diri (tazkiyatun nafs). Setidaknya ada beberapa hal yang mesti dilakukan di bulan yang menjadi awal tahun Hijriyah ini.

Pertama, perbaharui tobat kita. Muharram kita jadikan bulan penyemangat untuk kembali ke fitrah suci dengan memperbaharui tobat. Harus diakui tobat kita sebelumnya mungkin belum sungguh-sungguh. Tobat kita belum nashuha.

Maka, menjadi penting untuk mengucapkan kalimat tobat setiap harinya. Nabi kita yang ma’shum (terpelihara dari dosa) pun telah memberikan teladan kepada kita umatnya dalam bertobat. Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh aku selalu beristighfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR Bukhari).

Kedua, tinggalkan maksiat. Jangan rusak tobat kita dengan kembali berbuat dosa. Pandemi yang belum berhenti bahkan diberitakan tingkat keterisian ruang ICU meningkat, juga bagian dari maksiat kita. Allah tegaskan, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, (QS asy-Syura: 30).

Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Jawabul Kaafi menukil perkataan Ali bin Abi Thalib ra, “Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan tobat.” Ibnul Qayyim kemudian mengatakan dalam kitab yang sama, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan mendatangkan bencana (musibah).”

Hal ini sangat relevan dilakukan di masa pandemi ini karena sesungguhnya esensi Muharram dengan hijrahnya adalah meninggalkan dosa. “Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah SWT.” (HR Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa'i, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

Spirit Muharam di awal tahun Hijriyah 1444 H memotivasi kita dalam mensucikan diri dengan introspeksi (muhasabah) untuk kemudian bertobat nashuha dan melakukan peningkatan amal saleh secara berkesinambungan sehingga kita termasuk orang beruntung yakni orang yang lebih baik dari tahun lalu.

Allahumusta’an.


Dari Pencitraan ke Prestasi

Perayaan tahun baru Islam akan lebih bermakna jika setiap pribadi mengelola hidup dengan berorientasi prestasi.

SELENGKAPNYA

Pintu Tobat Selalu Terbuka

Sejauh hayat masih dikandung badan, Allah selalu membuka pintu tobat.

SELENGKAPNYA
×