Sejumlah pengantin menjalani prosesi akad saat Nikah Massal di Masjid Al Ukhuwah, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Kamis (31/3/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Fikih Muslimah

Jenis Pernikahan yang Dilarang oleh Agama

Jenis-jenis pernikahan yang dengan tegas dilarang oleh agama ada empat.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

Umat Islam perlu memahami bahwa terdapat jenis-jenis pernikahan yang dilarang dalam agama. Semua jenis pernikahan yang dilarang itu memiliki dasar hukum Islam dan juga mempertimbangkan sejumlah aspek yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Jenis-jenis pernikahan yang dengan tegas dilarang oleh agama ada empat. Yakni, nikah syighar, nikah mut'ah, meminang atas pinangan orang lain, dan nikah muhalil.

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid menjelaskan dasar dan sebab keempat jenis nikah tersebut dilarang. Tentang nikah syighar, para ulama sepakat bahwa contoh nikah yang satu ini ialah seorang lelaki menikahkan seorang wanita yang berada dalam perwaliannya kepada seorang lelaki dengan syarat orang tersebut menikahkan wanita yang berada dalam perwaliannya itu dengannya tanpa mas kawin pada pernikahan kedua tersebut.

photo
Pasangan pengantin melakukan sesi foto saat Nikah Massal di Masjid Al Ukhuwah, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Kamis (31/3/2022). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Sehingga, dalam hal ini mas kawinnya adalah alat kelamin yang dipertukarkan tersebut. Hal inilah yang membuat para ulama bersepakat bahwa hukum nikah syighar adalah haram. Namun, apakah pernikahan seperti itu bisa sah jika disertai dengan pemberian mahar mitsil?

Menurut Imam Malik, hal demikian tetap tidak bisa dan harus dibatalkan. Baik sesudah maupun sebelum terjadi dukhul. Imam Syafii pun setuju dengan pendapat ini, tetapi beliau berpendapat bahwa jika untuk salah seorang pengantin atau keduanya sekaligus disebutkan ada mas kawin, pernikahannya dianggap sah dengan mahar mitsil.

Nilai mahar mitsilnya sama atau hampir sama dengan nilai mahar yang pernah diterima oleh saudara, keluarga, dan tetangganya. Adapun mas kawin yang telah disebutkan itu tidak berlaku.

Menurut Imam Abu Hanifah, nikah syighar sah dengan memberikan mahar mitsil. Inilah pendapat al-Laits, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan at-Thabari. 

Adapun nikah mut'ah, sebagian besar sahabat Nabi dan semua ulama di kota-kota besar mengharamkan nikah mut'ah. Namun, ada riwayat terkenal dari Ibnu Abbas yang menghalalkannya.

 
Sebagian besar sahabat Nabi dan semua ulama di kota-kota besar mengharamkan nikah mut'ah.
 
 

Pendapat Ibnu Abbas ini diikuti oleh para pengikutnya di Makkah dan di Yaman. Namun, tentu saja, berdasarkan hasil kesepakatan ulama, mayoritasnya menyatakan bahwa nikah mut'ah adalah haram.

Kemudian, nikah yang diharamkan adalah meminang atas pinangan orang lain. Perihal pernikahan ini, setidaknya terdapat tiga pendapat terkaitnya.

Pertama, bahwa pernikahannya batal. Kedua, pernikahannya tidak batal. Ketiga, pernikahannya dibedakan apakah pinangan yang kedua dilakukan sesudah adanya kecenderungan dan mendekati pemufakatan atau tidak. Inilah pendapat dari Imam Malik.

Sedangkan nikah terakhir yang diharamkan adalah nikah muhallil. Yakni, pernikahan yang dimaksudkan untuk menghalalkan mantan istri yang telah ditalak ba'in, menurut Imam Malik ini adalah nikah yang batal. Namun, menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii, nikah ini adalah nikah yang sah. 

Menurut sebagian besar ulama, nikah muhallil (suami atau istri yang meminta seorang laki-laki atau wanita menikahi mantan suami atau istrinya terdahulu yang telah dicerai untuk menghalalkannya kembali dengannya) hukumnya adalah haram dan batal. Di antara mereka adalah al-Hasan, Ibrahim an-Nakha'i, Qatadah, Imam Malik, al-Laits, ats-Tsauri, Ibnu al-Mubarak, dan Imam Syafii. 

Contohnya adalah seperti kalimat, "Saya nikahkan kamu sampai ia digauli." Atau dengan mensyaratkan, "Jika ia sudah halal, maka pernikahan kalian batal." Atau dengan mengatakan, "Jika ia sudah halal untuk mantan suaminya, maka ceraikan ia."

 
"Saya nikahkan kamu sampai ia digauli." Atau dengan mensyaratkan, "Jika ia sudah halal, maka pernikahan kalian batal".
 
 

Menurut pendapat yang dikutip dari Imam Abu Hanifah, nikahnya dapat sah namun syaratnya batal. Sedangkan menurut Imam Syafii, untuk contoh yang pertama tadi hukumnya tidak sah.

Dan untuk contoh yang kedua dan ketiga, ada dua versi pendapat. Di antara yang membolehkan nikah muhallil (menyewa laki-laki atau wanita untuk menikahi mantan suami atau istri terdahulu yang telah dicerai agar bisa kembali hidup bersama) tanpa syarat ialah Abu Tsaur, beberapa ulama dari mazhab Hanafi, al-Muayyad Billah, dan ulama-ulama mazhab al-Hadi. Kata mereka, hadis-hadis yang melarang tadi kalau memang ada syarat bahwa itu adalah nikah tahlil.

Sedangkan Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa menurut riwayat sahih dari Atha tentang menikahi seorang wanita yang muhallal (yang diminta menikah dengan mantan suami untuk menghalalkannya kembali dengan istrinya yang sekarang yang dulunya telah bercerai dengannya) kemudian ia suka padanya sehingga tetap mempertahankannya sebagai isri, maka hal itu tidak apa-apa.

Menurut asy-Syu'bi, tidak apa-apa nikah tahlil asal bukan pihak suami yang menyuruhnya.

Pastikan Mutu Konsumsi Jamaah Haji

Dewi Gustikarini bersama 16 petugas harus mengawasi dapur penyedia makan jamaah haji.

SELENGKAPNYA

Kebijakan Spin Off dan Masa Depan Perbankan Syariah

Kebijakan kewajiban spin off pada 2023 terbukti mengakselerasi pertumbuhan industri perbankan syariah nasional.

SELENGKAPNYA

Usamah, Panglima Perang Termuda Sepanjang Sejarah

Usamah merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah.

SELENGKAPNYA