Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

25 Jul 2022, 10:56 WIB

Menyelami Hikmah di Balik Takdir

Jalan terakhir dalam menyikapi takdir adalah hanya bergantung kepada Allah Ta’ala.

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Tema pokok surah Yunus adalah iman kepada qada dan qadar-Nya Allah SWT. Memercayai bahwa tidak ada kejadian apa pun di muka bumi kecuali sesuai dengan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Para ulama menasihati, “Maa daamal qadar fii yadillaahi ithmain.” Artinya, “Selama takdir masih di tangan Allah, maka tenanglah.”

Tujuan iman kepada qada dan kadar adalah ketenangan hati. Dengan demikian, tidak ada prasangka buruk tentang situasi yang terjadi. Musibah apa pun terjadi bukan karena si fulan, melainkan takdir Allah.

Tidak ada pilihan bagi makhluk kecuali menerima apa-apa yang telah Allah takdirkan. Nabi Muhammad SAW menegaskan, “Wa’lam annal ummata law ijtamauu ‘alaa ayyanfaukaa lam yanfauuka illaa bisyai`in qad katabahullaahu laka. Walaw ijatamauu alaa ayyadhurruka bisyai`in lam yadhurruuka illaa bisyai`in qad katabhullahu alaika.”

Artinya, “Ketahuilah bahwa apabila semua manusia bersepakat untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali apa-apa yang telah Allah tetapkan. Sebaliknya, apabila meraka bersepakat untuk menimpakan bahaya kepadamu, mereka tidak akan bisa kecuali apa-apa yang telah Allah tetapkan.” (HR Turmidzi).

Adapun surah Yunus dalam Alquran mengarahkan tugas seorang hamba Allah bukanlah mempertanyakan alasan suatu hal terjadi. Dalam menerima takdir-Nya, ia mesti ridha sepenuh hati atas apa-apa yang menimpanya. Sebab, yang telah Allah takdirkan pastilah yang terbaik. Dikatakan oleh ahli hikmah, “Kulluma qaddarahullah fahuwa kahir.”

Arahan itu tidak bermaksud mendorong seorang Mukmin untuk tidak berusaha. Secara keduniaan, ia mesti tetap melakukan dan menunjukkan ikhtiar. Sebab, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa-apa yang telah Allah tetapkan atasnya. Namun, jika yang terjadi di luar keinginannya, janganlah kecewa hati. Sebab, pasti hal itu ada hikmahnya.

Ihwal mengambil hikmah itulah yang ditekankan dalam surah Yunus. Itulah mengapa, pembukaan surah tersebut berbunyi, “Alif laam raa, tilka aayaatul kitaabil hakiim.” Terjemahannya, “Alif laam raa, inilah ayat-ayat Alquran yang mengandung hikmah.”

Kata //al-hakiim//, penuh hikmah, sangat erat kaitannya dengan pesan utama surah tersebut mengenai iman kepada takdir-Nya. Bahwa dalam menjalani takdir, hamba Allah harus selalu berorientasi kepada upaya mencari hikmah di balik kejadian. Bukan justru, misalnya, mengatakan, “Seandainya aku tidak begitu, niscaya tidak terjadi ini.”

Alih-alih perkataan demikian, ucapkanlah, “Qadarullahu wa maa syaa faal.” (Ini takdir Allah sesuai dengan kehendak-Nya). Dengan sikap seperti itu, hati akan tenang dan terbebas dari kesedihan. 

Mengapa demikian? Sebab, seorang hamba akan sadar bahwa jalan terakhir dalam menyikapi takdir adalah hanya bergantung kepada Allah Ta’ala. Semua kekuatan makhluk apa pun di muka bumi tidak akan pernah mampu mengubah takdir-Nya.

Kita ingat, dalam Perang Badar, sekalipun jumlah orang kafir lebih banyak, yang kemudian menang adalah kaum beriman. Itu tidak lain karena Nabi SAW dan para sahabat setelah melakukan usaha maksimal, mereka bertawakal kepada Allah.


Masjid Gazi Husrev-Beg, Legasi Utsmani di Bosnia

Masjid Gazi sempat mengalami kerusakan saat masa Perang Bosnia.

SELENGKAPNYA

Ibu, Jalan Hidayah untukku

Mualaf Veronica tertarik mengenal Islam usai menyaksikan bundanya mendirikan shalat.

SELENGKAPNYA
×