Menurut Veronica Olivia Lolonlun, proses hijrahnya tidak terlepas dari peran ibundanya yang lebih dahulu berislam. | DOK TANGKAPAN LAYAR KISAH HIJRAHKU

Oase

24 Jul 2022, 09:31 WIB

Ibu, Jalan Hidayah untukku

Mualaf Veronica tertarik mengenal Islam usai menyaksikan bundanya mendirikan shalat.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Cahaya petunjuk Illahi menyinari siapapun yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah SWT telah menetapkan hidayah kepada seseorang, tidak satu pun yang mampu menghalangi. Hal itulah yang dirasakan Veronica Olivia Lolonlun.

Mualaf tersebut tidak pernah menyangka sebelumnya akan berislam. Sebab, dahulu dirinya sempat beranggapan, agama itulah yang telah menjauhkannya dari ibu tercinta. Ternyata, pada akhirnya sang bundalah yang membuatnya kenal akan ajaran tauhid.

Dalam acara bincang-bincang yang disiarkan kanal Ngaji Cerdas, mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto itu menuturkan kisahnya. Perempuan yang kini berusia 21 tahun itu berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran non-Islam. Bahkan, kakek dan neneknya dipandang masyarakat setempat sebagai tokoh agama.

Pada 2014, mereka dikejutkan oleh kabar, ibunda Veronica hendak memeluk Islam. Walaupun ditentang banyak anggota keluarga, keputusan sang bunda tidak tergoyahkan. Waktu itu, ia memandang kecewa terhadap ibunya sendiri.

 
Walaupun ditentang banyak anggota keluarga, keputusan sang bunda tidak tergoyahkan. Waktu itu, ia memandang kecewa terhadap ibunya sendiri.
 
 

Sebagai anak remaja, pikirannya belum begitu dewasa untuk menilai. Yang ia rasakan saat itu, ibunya terkesan egoistis. Karena keputusan bundanya itu, menurutnya, isi rumah tidak lagi harmonis.

Beberapa bulan kemudian, sang ibu datang ke rumah dengan mengenakan hijab. Melihat busana khas Muslimah itu, para anggota keluarga kembali heboh. Suara-suara kecaman tidak jarang terdengar.

“Saya waktu itu menganggap ibu saya telah mengkhianati ayah saya dengan berpindah keyakinan itu. Saya juga memandang, Ibu tidak lagi sayang dengan saya dan adik,” ujar wanita yang akrab disapa Vero itu dalam tayangan Ngaji Cerdas yang disaksikan Republika baru-baru ini.

Berkali-kali, ibunda Vero menjelaskan bahwa keislamannya tidak mengubah sama sekali rasa sayang kepada anak-anak dan kepala keluarga. Sebenarnya, komitmen itu tidak sekadar kata-kata. Vero sendiri merasa, kasih sayang ibunya itu tidak berkurang sama sekali.

Malahan, ia menyaksikan adanya perubahan ke arah yang lebih positif. Sejak menjadi seorang Muslimah, ibunya semakin disiplin dalam keseharian. Bangun pagi-pagi sekali, sebelum matahari timbul di ufuk timur.

Ada satu kebiasaan bundanya yang begitu mengesankannya. Vero memerhatikan, ibunya selalu melaksanakan doa harian sehari lima kali. Saat berdoa, berbagai gerakan dilakukannya, sembari mengenakan busana serba putih yang menutupi hampir seluruh tubuh.

 
Belakangan, Vero mengetahui bahwa ritual itu disebut sebagai shalat lima waktu.
 
 

Belakangan, Vero mengetahui bahwa ritual itu disebut sebagai shalat lima waktu. Adapun pakaian yang dikenakan itu bernama mukena. Ia juga mengenal, orang Islam wajib melaksanakan ibadah-ibadah lainnya, semisal puasa satu bulan penuh dan membayar zakat.

Dua tahun sejak keislaman ibundanya, Vero sebenarnya enggan menjalin komunikasi. Ia enggan berbicara dengannya. Akan tetapi, rasa penasarannya justru tumbuh semenjak memerhatikan perubahan sikap sang bunda.

Setelah beberapa tahun memeluk Islam, ibunya tampak mengalami perubahan sikap. Dahulu, bundanya itu sering “meledak-ledak”, kurang bisa mengontrol emosi. Namun, sejak menjadi Muslimah sang ibu lebih tenang, suka berlemah lembut dalam tutur kata, serta bersabar saat menghadapi masalah.

“Saat saya marah-marah, Bunda justru mendoakan saya agar menjadi anak yang salehah dan pintar,” kata Vero mengenang.

Ia juga mulai tertarik dengan memerhatikan keseharian ibundanya. Satu hal yang tidak bisa lepas dari pikirannya adalah shalat. Ibadah itu selalu dikerjakan sang ibu dengan penuh khidmat. Wajahnya begitu syahdu sesudah melakukan ritual tersebut.

Karena tidak bisa membendung rasa penasarannya, Vero pun mencari tahu tentang shalat. Saat ibunya pergi, ia diam-diam mengambil buku tuntunan shalat dari dalam kamar. Lantas, bacaan itu dibawanya ke kamar sendiri. Saat malam tiba dan seisi rumah sepi, barulah gadis itu membaca buku kecil tersebut.

Vero sempat bingung dengan tulisan yang tertera di sana. Tampaknya, bacaan doa-doa itu bukanlah dari bahasa Indonesia. Belakangan, ia baru menyadari bahwa itulah teks bahasa Arab.

Pada suatu malam, Vero mendengar ibunya sedang membaca sesuatu dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Keesokan harinya, ia pun bertanya tentang bacaan itu. Lantas, bundanya memberi tahu bahwa itulah ayat-ayat Alquran. Yang dibacanya kemarin adalah salah satu surah dari Juz Amma.

 
Akhirnya, Vero mengungkapkan ketertarikannya akan shalat dan Alquran kepada ibunya. 
 
 

Akhirnya, Vero mengungkapkan ketertarikannya akan shalat dan Alquran kepada ibunya. Ia kemudian diberi buku yang berisi tuntunan shalat dan beberapa surah pendek yang dilengkapi terjemahan bahasa Indonesia.

Beberapa pekan kemudian, Vero meminta kepada ibunya untuk diajarkan memakai hijab. Sang bunda terkejut mendengar permintaan itu. Sebab, tidak pernah dirinya meminta—apalagi memaksa—sang anak gadis untuk berbusana sama dengannya.

Setelah belajar berhijab, Vero pun diajak ibundanya untuk pergi ke sebuah kajian keislaman di Masjid Al Furqan yang terletak tidak jauh dari rumah. Gadis itu bersedia ikut. Lama kelamaan, majelis taklim menjadi agenda akhir pekan mereka berdua.

Hati Vero mulai luluh. Dari yang semula bersikap antipati pada Islam, kini terbuka pada pengetahuan akan ajaran tauhid. Ia juga senang menyimak ceramah-ceramah para ustaz, terutama yang membahas sejarah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

photo
Seorang mualaf, Veronica Olivia Lolonlun, saat menuturkan kisahnya di channel YouTube Ngaji Cerdas. - (DOK TANGKAPAN LAYAR NGAJI CERDAS)

Masuk Islam

Vero semakin memahami dorongan yang telah membuat ibunya memeluk Islam. Ia melihat, agama ini ternyata memberikan pemahaman kepada manusia tentang tujuan keberadaan di dunia. Tentunya, Islam juga mengajarkan bahwa hanya Allah yang patut disembah. Tidak ada Tuhan selain-Nya.

Dalam hatinya, telah terbit tekad kuat untuk berislam. Niat itu kemudian disampaikan kepada ibunya. Sang bunda terkejut dan lalu berucap syukur. Gadis itu lalu disarankannya untuk bertemu dengan seorang ustazah.

Ustazah di Masjid Al Furqan itu lantas mengajarkan kalimat syahadat kepadanya. Secara bertahap, Vero pun belajar shalat lima waktu. Meski tidak rutin untuk datang ke kajian, semangatnya tidak pernah redup.

Setelah merasa siap melafalkan syahadat dengan benar, ia pun mengutarakan niatnya untuk segera berikrar masuk Islam. “Tolong bantu Kakak (Vero) untuk menjadi seorang Muslimah, begitu saya meminta bantuan kepada Bunda,” ujarnya mengenang momen itu.

 
Tolong bantu Kakak (Vero) untuk menjadi seorang Muslimah, begitu saya meminta bantuan kepada Bunda
 
 

Bersama dengan ibunya, Vero berangkat ke Masjid Fatimah Az Zahra di area Universitas Jenderal Soedirman. Kala itu, tahun 2016, Vero bersyahadat. Resmilah dirinya menjadi seorang Muslimah.

Memang, sempat ada kekhawatiran dalam benaknya. Ia takut akan penolakan yang mungkin saja ditunjukkan ayah, kakek, atau neneknya. Bagaimanapun, Vero telah memantapkan hati untuk terlebih dahulu berislam.

Ia juga selalu mengingat, ibundanya begitu masuk Islam menjadi pribadi yang lebih baik. Sikap sang ibu tidak pernah menjelek-jelekkan keluarganya yang berlainan iman. Bahkan, kecaman dan cacimaki dihadapinya dengan penuh kesabaran.

“Saya menangis setelah bersyahadat dan meminta maaf kepada Bunda karena perilaku saya yang dahulu, terutama sikap dan kata-kata saya yang kasar,” tutur dia.

 
Saya menangis setelah bersyahadat dan meminta maaf kepada Bunda karena perilaku saya yang dahulu, terutama sikap dan kata-kata saya yang kasar.
 
 

Ibunya telah lama memaafkannya. Perempuan paruh baya itu juga tak kuasa menahan haru. Air mata bahagia menetes lantaran menyaksikan buah hatinya kini sudah menerima cahaya hidayah Allah Ta’ala.

Ibunda merasa bahagia karena bisa membimbing anaknya untuk menjalankan syariat Islam. Dan setelah mengenal agama tauhid, Vero merasa bahwa ketenangan dan ketenteraman batin inilah yang sering disebutkan sang ibu. Kini, ia merasakannya sendiri.

Tahun berganti tahun. Pada akhirnya, bahtera rumah tangga ayah dan ibunya tidak dapat terus dipertahankan. Keduanya memutuskan untuk bercerai.

Setelah kedua orang tuanya berpisah, Vero memutuskan untuk hidup bersama ibunya. Pihak keluarga ayahnya kerap mengingatkan, belum tentu kebutuhan hidupnya akan terjamin kalau tinggal serumah dengan bunda.

Vero tidak khawatir akan hal itu. Ia yakin, rezeki telah diatur Allah SWT. Yang terpenting baginya adalah dapat menjalankan ibadah dengan nyaman dan tenteram.

Dan dia yakin, seorang ibu yang telah melahirkannya di dunia tidak akan tergantikan. Sebagai seorang anak, tugasnya berbakti kepada ibunda. Apalagi, Nabi SAW mengajarkan bahwa “Surga di bawah telapak kaki ibu".

Saat ini untuk masalah ibadah, Vero terus mendapat bimbingan dari sang bunda terutama shalat dan mengaji. Mula-mula, memang agak sukar baginya, misal, untuk berwudhu secara benar.

Ia sering kali lupa urutan-urutan yang benar. Syukurlah, zaman kini kian canggih. Dengan mudah, ia dapat menonton panduan para ustaz dan ahli agama dari video-video konten dakwah di YouTube.

Bunda Vero pun sering mengajaknya untuk shalat berjamaah saat berada di rumah. Vero khawatir jika shalat sendiri, mungkin saja ada bacaan atau gerakannya yang salah. Untuk belajar mengaji, biasanya ia mulai usai shalat isya.

Vero berharap tak hanya ilmu agama yang dipelajari, tetapi juga kuliah lancar hingga lulus. Dan cita-cita untuk sukses serta membahagikan ibundanya dapat terwujud.

 


Tasawuf di Tengah Ruang Hampa Kehidupan Kota

Penghambaan kepada Allah, itulah tasawuf ajaran Nabi.

SELENGKAPNYA

Jalan Menuju Kesempurnaan Iman dan Akhlak

Tasawuf dinilai mampu menampilkan sisi paling mulia dalam Islam, yakni iman dan akhlak.

SELENGKAPNYA
×