ILUSTRASI Menurut para ahli tasawuf, tahalli berarti memperindah jiwa, yakni dengan beramal saleh. | DOK EPA MAST IRHAM

Laporan Utama

Jalan Menuju Kesempurnaan Iman dan Akhlak

Tasawuf dinilai mampu menampilkan sisi paling mulia dalam Islam, yakni iman dan akhlak.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA, IMAS DAMAYANTI

Pengajian tasawuf berkembang pesat di perkotaan. Ini terlihat dari majelis zikir atau zawiyah atau rauhah yang terus bertambah. Para mursyid di sana adalah mereka yang sanad keilmuannya bersambung hingga ke Rasulullah (thariqah mu'tabarah).

Sekretaris Awwal Idaroh Aliyah-Jam'iyyah Ahli Thoriqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (Jatman), KH Ali M Abdillah, mengatakan, majelis dan pusat kajian tasawuf yang tersebar di berbagai wilayah di Jakarta sangat aktif melakukan kegiatan. Terlebih, majelis tersebut dinaungi oleh Jatman sebagai wadah bagi puluhan tarekat mu'tabarah yang tersebar di Indonesia.

Ia mencontohkan, di Zawiyah ar-Raudhah di Jakarta Selatan yang dipimpin KH M Danial Nafis yang juga Mudir Jatman Idaroh Wustho DKI Jakarta dan pemegang sanad Tarekat Syadziliyah. Zawiyah ar-Raudhah aktif membuat kegiatan kajian tasawuf dan zikir.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Kiai Ali menjelaskan, sudah memiliki kepengurusan di seluruh wilayah Jakarta. Bahkan, di berbagai kota/kabupaten juga sudah ada. Artinya, majelis yang berada di bawah naungan Jatman sudah mulai bergerak aktif, bermunculan, dan dalam satu wadah, Jatman.

“Di Jatman itu bebas berbaiat kepada tarekat apa pun selama masuk kategori mu'tabarah," kata kiai Ali kepada Republika, beberapa hari lalu.

Kiai Ali mengatakan, hampir 90 persen orang bertarekat di Indonesia mengikuti tarekat yang diakui atau yang sanad keilmuannya bersambung sampai ke Rasulullah SAW. Kiai Ali menjelaskan, ada 44 tarekat yang diakui.

Berdasarkan data Jatman, tarekat yang banyak berkembang di perkotaan, seperti Jakarta, adalah Qadiriyah wa Naqsyabadiyah, Naqsabadiyah Khalidiyah, Tijaniyah, dan Syadziliyah. Tarekat-tarekat tersebut banyak diikuti oleh kalangan menengah atas.

photo
Santri mengikuti kajian Kitab Kuning di Ponpes Salafi Nurul Ihsan, Lebak, Banten, Kamis (14/4/2022). Kegiatan ngaji kitab kuning selama bulan suci Ramadhan merupakan tradisi di pondok pesantren tradisional atau salafi guna memperdalam ilmu agama mulai dari Alquran, fiqih, nahwu, sharaf, dan tasawuf. - (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Pengurus Majelis Zawiyah ar Raudhah, Ustaz Azka Fuadi Abdillah Akbar, mengakui geliat masyarakat perkotaan untuk bertarekat, khususnya di DKI Jakarta, sangat besar. Itu salah satunya dapat terlihat dari banyaknya jamaah yang mengikuti berbagai kegiatan di zawiyah yang dikelolanya.

Jamaah yang aktif mengikuti kegiatan di Zawiyah ar-Raudhah sebanyak 300-400 orang. Namun, ketika menggelar acara besar, jamaah Zawiyah ar-Raudhah bisa mencapai 1.500 orang. Ustaz Azka pun memberikan tips bagi masyarakat ketika hendak bertarekat.

Menurutnya, seseorang yang hendak bertarekat hendaknya melihat ketersambungan sanad gurunya, sehingga tarekat yang diikutinya merupakan tarekat yang mu'tabarah.

Ajaran Tasawuf di Masyarakat Urban

Geliat tasawuf dalam kurun waktu satu dekade terakhir tampak gegap gempita, khususnya bagi kalangan masyarakat urban. Tasawuf menjadi sebuah pilihan rehat dari riuh kehidupan yang serbamaterialistis dan juga sesak.

Pakar Filsafat Tasawuf (tasawuf-falsafi) Zainul Maarif mengatakan, masyarakat urban saat ini memang gemar mempelajari tasawuf sebagai sebuah gaya hidup yang baik. Tasawuf dinilai menjadi pilihan yang tepat di tengah munculnya arus dua pemahaman, antara paham ekstremis dan konservatif formalis.

"Ada pandangan yang ekstrem dan juga ada pandangan yang menampakkan Islam itu seakan-akan hanya formalitasnya. Jadi seakan-akan saleh, tapi apakah pandangan itu bagian dari way of life? Belum tentu juga. Karena itulah, kemudian mereka (kaum urban) memilih tasawuf," kata Zainul saat dihubungi. 

Menurutnya, tasawuf menjadi pilihan masyarakat urban karena dinilai sebagai jalan keluar atas paradigma yang berkembang saling bertabrakan. Tasawuf menjadi jalan tengah yang berimbang yang digemari oleh masyarakat urban karena dinilai mampu menampilkan sisi paling mulia dalam Islam, yakni iman dan akhlak.

photo
Sejumlah santri mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Amin, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (27/4/2021). Pada saat bulan suci Ramadhan mengaji kitab kuning merupakan salah satu tradisi pesantren untuk memperdalam ilmu agama antara lain yaitu tafsir Alquran fikih, akidah, ibadah, tasawuf, dan muamalah. - (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

Ajaran tasawuf yang paling digemari oleh masyarakat urban menurutnya adalah menampilkan esensi dari beragama. Yakni, memandang orang lain, apa pun perbedaannya, adalah dengan tolok ukur akhlak. Dengan begitu, orang yang mempelajari tasawuf akan merasa nyaman apabila ada perbedaan yang dia temui di suatu tempat tanpa perlu menanggalkan keyakinannya sama sekali.

Adapun orang yang bertasawuf bukan berarti orang yang meninggalkan segi duniawi secara keseluruhan. Sebab, tasawuf merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW yang sama sekali tidak melupakan aspek kehidupan dunia dalam berjalan menuju Allah SWT. 

Dia memisalkan sikap bertasawuf pada masa pandemi, yakni bagaimana umat Islam membiasakan sabar menghadapi pandemi. Mereka menahan diri saat mengetahui saudaranya wafat karena terserang wabah. Mereka juga bersabar saat terserang Covid-19, ekonominya jatuh, dan harus tetap berusaha menghidupi keluarga di tengah impitan.

"Tasawuf itu akhlak, sedangkan ajaran Islam kalau kita peras sungguh-sungguh ya itu intinya hanya dua: iman dan amal saleh," ujar dia. 

Tasawuf Sebagai Solusi Kehidupan Perkotaan

photo
Pimpinan Majelis Rasulullah Habib Nabiel Al Musawa memberikan ceramah saat Tabligh Akbar di Masjid Az-Zikra, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (31/5/2022). Tabligh Akbar yang terselenggara atas kerjasama antara Republika dan Majelis Az-Zikra tersebut mengambil tema Semangat Umat Merawat Bangsa.Prayogi/Republika. - (Prayogi/Republika. )

Masyarakat perkotaan semakin banyak yang mengikuti majelis tasawuf dan tarekat. Di sana mereka menghabiskan waktu berzikir, bertobat, dan mendekatkan diri kepada Allah. Apa gerangan yang membuat orang-orang meramaikan tasawuf? Wartawan Republika Andrian Saputra mewawancarai pimpinan Majelis Rasulullah SAW, Habib Nabiel Al-Musawa. Berikut kutipannya.

Bagaimana perkembangan ajaran tasawuf di perkotaan?

Jadi, sebetulnya kalau kita melihat perkembangan tasawuf itu, justru banyak di kota-kota besar, seperti di Jakarta. Kita melihat contohnya di Amerika, baik itu di New York, San Francisco, maupun London (Inggris), perkembangan tasawuf itu luar biasa. Bahkan, orang barat mencari itu bukan kelompok-kelompok harakah dan lain sebagainya, justru yang mereka cari adalah kelompok tasawuf.

Kita lihat di Jakarta bagaimana rutinitas sehari-hari ketika berkendara di jalan raya. Rebutan, macet, bikin tensi naik. Orang-orang berlomba-lomba cari uang sebanyak-banyaknya supaya dia bisa memuaskan kebutuhan dunia. Membunuh, menghantam, menghancurkan. Dalam keadaan seperti itu, tasawuf adalah jawaban. Tasawuf adalah solusi. Tasawuf adalah penyelamat bagi mereka.

Mengapa mengikuti tasawuf dan tarekat yang mu'tabar itu penting?

Tasawuf itu menjawab tiga pertanyaan yang mendasar dan paling substansial dalam hidup. Yaitu, dari mana kita? Dari Allah. Lalu, mau ke mana? Kembali ke Allah. Maka harus bagaimana? Harus sesuai dengan aturan Allah. Itulah yang dijawab tasawuf, maka itu penting. 

Lalu, mengapa harus mengikuti tarekat yang mu'tabar? Karena ada juga aliran yang menyimpang. Ada yang ghuluw atau berlebihan, ekstrem, yakni meninggalkan dunia sama sekali. Pokoknya ibadah saja tidak usah kerja, belajar. Menganggap dunia ini sudah tidak usah diurusi. Cukup zikir, tak bekerja jadinya malas. Seperti ini bahaya.

 
Menganggap dunia ini sudah tidak usah diurusi. Cukup zikir, tak bekerja jadinya malas. Seperti ini bahaya.
 
 

Imam Ghazali berkata kalau kamu melihat ada seorang laki-laki yang bisa terbang seperti burung, atau berjalan di atas air seperti ikan, jangan pernah kalian percaya sampai kamu lihat dia bisa tegak berjalan di atas syariat. Jadi, jangan sampai kita itu sibuk dengan karamah, tapi meninggalkan syariat. Ini bukan thariqah yang mu'tabarah kalau seperti ini.

Nabi Muhammad SAW itu sampai meninggal beliau tetap shalat, beliau puasa, zakat. Jadi, kita perlu memahami mengikuti tarekat yang mu'tabarah. Misalnya itu ada Naqsabandiyah, Syadziliyah, Tijaniyah, dan lainnya.

Kalau Majelis Rasulullah dan para habib itu adalah tarekat Alawiyyah atau tarekat Ba'alawi yang dipimpin Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, Imam Junaid al-Baghdadi, Habib Umar bin Muhammad bin Salim al-Hafizh dari Hadhramaut, Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith dari Madinah, dan juga Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki dari Makkah.

Itu seluruhnya tarekat Alawiyyah. Jadi, tarekat yang mu'tabar itu perlu diikuti. Sebab, kalau tidak begitu, nanti kita terbawa oleh orang, tapi malah menyimpang.

Seperti apa ulama perkotaan mengembangkan ajaran tasawuf?

Saya beri contoh adik kami (alm) Habib Munzir bin Fuad al-Musawa. Dari orang per orang beliau ajak sampai kemudian akhirnya berkumpul dari rumah ke rumah, kemudian dari mushala ke mushala, kemudian dari masjid ke masjid sampai akhirnya berkumpul di Masjid al-Munawar, Pancoran, itu sampai puluhan ribu orang. Itu contoh bagaimana ulama perkotaan mengajak masyarakat untuk mengikuti ajaran tasawuf.

Yang luar biasa lagi adalah bagaimana ketika Habib Munzir mengajak, itu justru yang ikut banyak anak muda. Kita tahu kalau secara logika anak muda itu paling jauh dengan tasawuf, tasawuf itu biasanya diikuti orang yang tua.

Kalau Habib Munzir justru kebalikannya. Justru, diajak itu anak-anak muda. Jadi, dari anak-anak muda remaja SMP-SMA itu mereka sudah asyik dengan dunia tasawuf, asyik berzikir, asyik baca maulid, asyik untuk baca ratib, dan melakukan hal yang disunahkan nabi Muhammad.

Itu satu contoh bagaimana mengembangkan ajaran tasawuf dari asalnya beberapa orang sekarang puluhan ribu. Sekarang di zaman saya, Majelis Rasulullah kita sudah punya cabang di 11 provinsi dan 5 negara. Singapura, Malaysia, Hong Kong, Australia, dan Maroko.

Itu semua dipimpin oleh pimpinan pusat Majelis Rasulullah. Masing-masing cabang itu banyak juga jamaahnya. Jadi, makin berkembang sekarang. Bukan hanya di Jakarta, tapi juga ke berbagai daerah.

Martabat Pejabat Negara

Apa yang hilang dari elite negeri, sehingga hilang martabat di mata rakyat?

SELENGKAPNYA

'Sekolah Bertanggung Jawab dalam Perundungan'

Polisi akan memeriksa sejumlah orang dewasa yang mengetahui peristiwa itu.

SELENGKAPNYA