Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

25 Jul 2022, 03:30 WIB

Hijrah Sepenuh Jiwa Raga

Umat Islam menyongsong 1444 H dengan harapan menjadi pribadi yang lebih baik.

OLEH SUPRIANTO

Perputaran waktu begitu cepat. Tak terasa tahun 1443 H sebentar lagi berlalu. Umat Islam menyongsong 1444 H dengan harapan menjadi pribadi yang lebih baik dalam seluruh aspek kehidupan.

Setiap pergantian tahun pada kalender Islam menjadi spirit bagi pribadi Muslim untuk selalu memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Hal itu bernilai positif karena peristiwa hijrah sangat bersejarah di awal perkembangan Islam yang diemban Rasulullah SAW.

Hijrah yang diinginkan Islam adalah hijrah secara lahir dan batin, sepenuh jiwa dan raga. Sebab, sejatinya hijrah itu bukan soal lahir, yakni berpindah secara geografis. Namun, batin lebih penting. Hijrah sepenuh raga dan jiwa bersinergi untuk lebih baik. Jadi jelas, hijrah tidak hanya soal lahir atau fisik, tapi hijrah harus melibatkan batin, menggunakan hati nurani.

Orang yang berhijrah pasti memiliki bobot keimanan paling sempurna dan paripurna. Bahkan, orang-orang yang benar-benar melakukan hijrah adalah mereka yang senantiasa bersungguh-sungguh di jalan Allah. Poin akhirnya, orang-orang yang berhijrah dengan keimanannya mereka pasti kehidupannya mendapatkan rahmat Allah.

‘’Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad atau bersungguh-sungguh di jalan Allah adalah hamba-hamba Allah yang berharap rahmat Allah. Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah [2] ayat 218).  

Hijrah atau berpindah tempat bukan soal lahir. Menjadi lebih baik pada tahun ini daripada tahun sebelumnya bukan soal material, melainkan soal batin, soal psikis, jiwa. Dan itu semua, hijrah hanya bisa terjadi bila kita berpegang kepada agama Allah.

Maka itu, momentum  1 Muharram 1444 H ini jadi tonggak berhijrah, untuk siapa pun yang ingin selalu memperbaiki diri. Berhijrahlah untuk memberikan bantuan kepada orang lain, sekolahkan anak-anak yatim dan dhuafa yang terancam putus sekolah.

Buatlah orang lain senang dengan berbagi, bukan malah bakhil atau kikir yang membuat orang benci. Hindari diri dari perilaku penyebar fitnah dan hoax yang bisa mengadu domba dan mengancam kesatuan dan persatuan umat.

Jadilah ahli manfaat bagi lingkungan sesuai kemampuan dan kapasitas diri kita, bukan justru memanfaatkan orang lain, apalagi menjadi beban hidup keluarga dan orang di sekitar kita. Bersikap untuk menghargai, bukan menghina. Mengangkat, bukan menjatuhkan. Itu semua cara sederhana untuk hijrah, momen tahun baru Islam yang lebih bermakna.

Wallahu a'lam bish shawab.


Teror Itu Bernama Reconquista

Sejak akhir abad ke-15, kaum Salibis ekstrem melakukan penindasan terhadap Muslimin Andalusia.

SELENGKAPNYA

Titik Nadir Andalusia

Granada merupakan kerajaan Islam yang tersisa di Andalusia.

SELENGKAPNYA
×