Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

23 Jul 2022, 03:30 WIB

Implementasi Nilai Haji

Kedatangan para jamaah haji semoga bisa menjadi tonggak reformasi mental segenap anak bangsa.

 

OLEH ABDUL SYUKKUR

Jamaah haji mulai berdatangan dari Tanah Suci. Besar harapan kita semua semoga ibadah haji yang mereka tunaikan menjadi haji mabrur, haji yang diterima oleh Allah SWT dan haji yang mendapatkan balasan surga dari Allah SWT.

Sebagaimana janji Allah melalui sabda Rasulullah SAW, “Umrah ke umrah merupakan kafarah (penghapus dosa) di antara keduanya. Sedang haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kemabruran haji para jamaah haji bisa memberikan berkah kepada bangsa kita, sebab doa-doa mereka didengar dan diterima oleh Allah SWT. Sehingga, dengan doa-doa mustajab itu bangsa kita bisa menjadi bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, bangsa yang cinta damai, bangsa yang bisa hidup rukun dalam keberagaman, dan yang paling utama menjadi bangsa yang selalu dalam lindungan dan keridhaan Tuhan.

Kemabruran haji bisa menjadi pemandu kebaikan bagi setiap anak bangsa karena para jamaah haji dituntut untuk mengimplementasikan nilai-nilai hajinya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti larangan rafats (berkata tidak senonoh), larangan fusuq (berbuat fasik atau maksiat), dan larangan jidal (saling berbantah-bantahan).

Hal ini termaktub dalam firman Allah, “Musim haji adalah beberapa bulan yang maklum. Barangsiapa yang meneguhkan niatnya untuk melaksanakan ibadah haji, maka tidak boleh rafats, tidak boleh fusuq (berbuat maksiat), dan jidal (saling berbantah-bantahan) pada waktu mengerjakan haji. Dan apa pun bentuk kebaikan yang kalian kerjakan niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, maka bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS al-Baqarah [2]: 197).

Pertama, dilarang berbuat atau berkata rafats. Dalam bahasa Arab, kata rafats berarti perbuatan atau perkataan yang bisa membangkitkan nafsu seks. Saat pelaksanaan ibadah haji, hal itu dilarang, baik kepada pasangan sahnya sendiri maupun kepada orang lain. Namun, di luar ritual haji, perkataan atau perbuatan rafats kepada pasangan sahnya tidak dilarang, tapi terhadap orang lain tetap terlarang, bahkan tergolong perbuatan yang memiliki ancaman azab sangat berat.

Kedua, dilarang berbuat fasik atau maksiat. Ketentuan itu berlaku secara mutlak, tidak mengenal tempat juga tidak mengenal waktu, baik sedang dalam pelaksanaan ritual haji maupun di luar ritual haji, baik di Tanah Suci maupun di luar Tanah Suci, seperti di Indonesia. Implementasi ritual haji ini menjadikan para jamaah haji selalu mewawas diri di mana pun dan kapan pun.

Ketiga, dilarang berbuat jidal (saling berbantah-bantahan), debat kusir, saling mengunggulkan kehebatannya, dan menjatuhkan pihak lain. Larangan ini sangat relevan diterapkan di negara kita yang sudah lama termakan polarisasi, setiap hal selalu dipertentangkan, mudah diperdebatkan, dan cenderung ingin menang sendiri. Walhasil, energi kita terkuras untuk mengurusi hal-hal kecil yang nirmanfaat.

Oleh sebab itu, kedatangan para jamaah haji tahun ini semoga bisa menjadi tonggak reformasi mental segenap anak bangsa, dengan implementasi berbagai nilai ritual haji yang telah ditunaikan. Amin.


Gerakan Keadilan Iklim

Alquran banyak mengulang larangan berbuat kerusakan di muka bumi.

SELENGKAPNYA

Setiba dari Tanah Suci

Diharapkan berperan aktif mencerdaskan umat setiba jamaah dari Tanah Suci.

SELENGKAPNYA
×