Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

22 Jul 2022, 03:30 WIB

Setiba dari Tanah Suci

Diharapkan berperan aktif mencerdaskan umat setiba jamaah dari Tanah Suci.

 

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Sejatinya, setiap ibadah dalam Islam selalu mengandung pesan moral yang tinggi (akhlak). Nilai-nilai tersebut bukan hanya tampak pada saat mengerjakan, tetapi harus membumi dalam perilaku dan interaksi sosial keseharian.

Artinya, beribadah tidak hanya bersifat personal antara pribadi dengan Allah SWT (kesalehan ritual), tetapi juga kontributif terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya (kesalehan sosial).

Syekh Muhammad al-Ghazali dalam buku Akhlak Seorang Muslim menegaskan, ibadah yang termaktub dalam rukun Islam bertujuan untuk membentuk akhlak seorang Muslim. Hal ini selaras dengan misi utama risalah kerasulan Nabi Muhammad SAW, yakni untuk menyempurnakan keluhuran akhlak (HR Ahmad).   

Nilai esetoris ibadah shalat akan membersihkan jiwa seseorang dari perbuatan keji dan mungkar yang menghinakan (QS al-Ankabut [29]: 45). Zakat dan sedekah untuk menanaman dan menumbuhkan kasih sayang serta merekatkan ukhuwah Islamiyah (QS at-Taubah [9]: 103).

Juga, puasa sebagai latihan menahan diri dari hawa nafsu untuk melakukan perbuatan yang terlarang seperti dusta dan penipuan (HR Bukhari). Demikian pula haji, selain menapaki jejak hidup Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS juga untuk menghindari perilaku yang merusak keharmonisan sosial (QS al-Baqarah [2]:197).

Orang bijak berkata bahwa keberhasilan sebuah pelatihan bukan pada saat dilakukan, tetapi setelah dilaksanakan. Sekembali dari Tanah Suci, para dhuyufur-rahman dinantikan kontribusinya sebagai wujud kemabruran hajinya.

Sebab, Nabi SAW pernah bersabda, “Haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga. Lalu, para sahabat bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah haji mabrur itu?” Beliau menjawab, “Ith’aamu ath-tha’aam (memberi makan orang lapar) dan ifsyaau as-salaam (menebarkan kedamaian). (HR Ahmad).

Pesan Nabi SAW tersebut menegaskan bahwa bukti kemabruran itu terlihat pada kesalehan sosial yakni kepedulian terhadap orang-orang miskin yang terlantar dan gerakan pemberdayaan umat. Oleh karena itu, seorang haji tidak patut berpangku tangan di tengah kondisi masyarakat yang buruk dan larut dalam kenikmatan spiritual dalam kesendiriannya.

Sejalan pula dengan petuah Prof KH Didin Hafidhuddin dalam buku Membangun Kemandirian Umat bahwa pascahaji seorang Muslim dituntut untuk berubah menjadi lebih baik (an-yakuuna ahsana min qablu) dan menjadi agen perubahan di lingkungannya (wa an-yakuuna qudwata ahli baladihi).

Artinya, kecintaan kepada Islam, ketaatan beribadah, kualitas kerja, mencari rezeki yang halal, kejujuran, kerendahan hati, kepekaan sosial, kedermawanan, serta perilaku utama lainnya harus tecermin dalam karakter seorang yang sudah menunaikan haji.

Akhirnya, seorang haji hendaklah gigih membangun ekonomi keluarganya dengan kerja keras, cerdas dan ikhlas agar bisa menolong kaum dhuafa dan mustadafin keluar dari belenggu kemelaratan.

Lalu, berperan aktif dalam mencerdaskan umat menjadi pribadi yang tangguh dan berkeadaban. Itulah buah tangan yang diharapkan setiba dari Tanah Suci.

Allahu a’lam bissawab.


HRS: Pembebasan Ini Bukan Pemberian

Dalam pernyataannya di Petamburan, HRS kembali menggaungkan revolusi akhlak.

SELENGKAPNYA

Gelombang Panas Picu Bencana di Eropa

Portugal melaporkan lebih dari 1.000 kematian akibat gelombang panas.

SELENGKAPNYA
×