Deretan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (10/5/2022). BPS menyatakan bahwa ertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada dalam zona positif pada kuartal I-2022. | Prayogi/Republika.

Kabar Utama

ABD Naikkan Proyeksi Pertumbuhan RI 

Kenaikan harga komoditas ekspor utama bisa mendatangkan keuntungan bagi Indonesia.

JAKARTA -- Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,2 persen. Pada proyeksi sebelumnya, yaitu pada April, ADB memperkirakan ekonomi RI tumbuh 5 persen tahun ini. 

Direktur ADB untuk Indonesia Jiro Tominaga mengatakan, peningkatan proyeksi tersebut didorong permintaan dalam negeri yang masih baik dan pertumbuhan ekspor yang stabil. Untuk tahun depan, ADB memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh 5,3 persen dan inflasi tumbuh 3,3 persen.

“Proyeksi tersebut selaras dengan naiknya proyeksi pertumbuhan Asia Tenggara. Pada kawasan ini, ADB kini memproyeksikan pertumbuhan 5 persen pada 2022, naik dari proyeksi pada April sebesar 4,9 persen,” ujarnya dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) Supplement, Kamis (21/7).

Meski demikian, ADB juga memprediksi kenaikan inflasi di Indonesia tahun ini menjadi sebesar 4 persen dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,6 persen. Kenaikan inflasi disebabkan oleh lonjakan harga komoditas. 

Jiro Tominaga mengingatkan, peningkatan inflasi akan menurunkan daya beli rumah tangga. Akan tetapi, kenaikan harga komoditas ekspor utama bisa mendatangkan keuntungan bagi Indonesia berupa penghasilan ekspor dan pendapatan fiskal. 

Dengan kondisi itu, kata dia, Pemerintah Indonesia dapat terus memberikan bantuan sosial bagi masyarakat di tengah kenaikan harga pangan, listrik, dan bahan bakar. "Indonesia juga bisa terus berupaya mengurangi defisit anggaran," katanya. 

Sejumlah proyeksi yang disampaikan ADB didasarkan pada kegiatan ekonomi di Indonesia yang terus berangsur normal. Meski ada kenaikan kasus Covid-19 belakangan ini, tingkat penularan dinilai masih terkendali. 

ADB pun menyatakan berkomitmen untuk membantu usaha mewujudkan kawasan Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. "Serta terus melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem." 

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, Indonesia tidak bisa menggantungkan pertumbuhan ekonomi pada harga komoditas. Saat ini, Indonesia memang sedang menikmati windfall harga komoditas. Akan tetapi, harga komoditas sangat fluktuatif dan bisa saja terkoreksi turun. Hal itu akan berimbas pada kemampuan negara untuk menahan harga BBM maupun tarif listrik. 

photo
Pedagang bumbu giling melayani pembeli di Pasar Senen, Jakarta, Jumat (1/7/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang bulan Juni 2022 sebesar 4,35 persen (yoy), dimana penyumbang inflasi tersebut berasal dari komoditas cabai merah, cabai rawit, bawang merah dan telur ayam ras. - (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.)

"Jadi, sebenarnya masih terlalu prematur jika kita beranggapan bahwa ekonomi Indonesia bisa menikmati windfall (kenaikan harga komoditas) itu sampai akhir tahun ini,” kata Bhima kepada Republika, Kamis (21/7).

Dia mengatakan, beberapa aktivitas masyarakat saat ini kembali diperketat. Salah satu pengetatan itu adalah adanya syarat vaksin booster untuk masuk ke mal atau pusat perbelanjaan. 

"Mobilitas masyarakat yang mulai normal kembali, dihambat dengan pengetatan berbagai aturan. Kemudian, siklus belanja pemerintah masih ditumpuk dan pencairan realisasi anggaran sampai akhir tahun,” ucapnya.

Deputy Director Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2022 sebesar 5,5 persen (yoy). Menurut dia, pertumbuhan didorong oleh momentum libur Lebaran yang membuat mobilitas masyarakat relatif meningkat dan aktivitas mudik yang membuat pergerakan transportasi meningkat signifikan.

"Pergerakan orang dan transportasi selama kuartal II relatif meningkat dan menuju normal dibanding kuartal II tahun lalu," ucapnya.

Apabila pertumbuhan ekonomi kuartal II mencapai angka itu, lanjut dia, akan muncul optimisme perekonomian yang berpengaruh terhadap kurs rupiah, indeks harga saham gabungan (IHSG), indeks keyakinan konsumen, dan indeks tendensi bisnis. "Pengaruhnya ke optimisme perekonomian," kata dia. 

Namun, dia tidak memungkiri, ke depan tetap akan ada risiko ekonomi dari peningkatan angka inflasi. Hal ini bisa berasal dari inflasi komponen bergejolak, inflasi inti, serta inflasi harga-harga yang diatur oleh pemerintah. Selain itu, nilai tukar rupiah masih akan menghadapi tekanan seiring agresivitas kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, the Fed. 

Risiko resesi global juga dapat menurunkan permintaan ekspor. "Meskipun Indonesia kemungkinan tidak akan mengalami resesi pada tahun ini," katanya. 

Mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi, sejumlah lembaga sebelumnya merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi RI. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada Juni 2022 menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2022 dari sebelumnya sebesar 5,2 persen pada rilis Desember 2021.

OECD menyebutkan, kelompok pengeluaran satu-satunya yang akan mengalami kontraksi berasal dari konsumsi pemerintah sebesar 6,3 persen. Sedangkan, kelompok pengeluaran lainnya, seperti konsumsi rumah tangga, diproyeksikan tumbuh 5,3 persen dan investasi sebesar 3,8 persen. Ekspor dan impor juga diprediksi tumbuh dua digit pada tahun ini, yakni masing-masing 13,1 persen dan 11 persen. Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi ini dipangkas, OECD menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik dari realisasi tahun lalu yang sebesar 3,7 persen. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani belum lama ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2022 berada di kisaran 4,8 persen sampai 5,3 persen. Hal itu didorong aktivitas perekonomian sangat kuat pada Juni 2022. Dalam paparannya, terdapat indikator yang menunjukkan tren penguatan ekonomi, khususnya masa Ramadhan dan Lebaran. Selain itu, aktivitas produksi masih tetap ekspansif dengan konsisten.

Adapun kegiatan ekspor-impor Indonesia juga masih tumbuh tinggi dan surplus. Dengan demikian, dari sisi pertumbuhan ekonomi agregat, mesin pertumbuhan ekonomi mulai didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan sisi eksternal. “Ini menggembirakan karena pertumbuhan ekonomi sekarang tidak tergantung lagi hanya dari sisi APBN,” ucapnya.

Kehadiran De Ligt Bukti Ambisi Muenchen

Die Bayern baru saja kehilangan Niklas Suele dan Omar Richards.

SELENGKAPNYA

Bank BUMN Catat Kenaikan Transaksi BI-Fast 

Periode Ramadhan dan Idul Fitri, transaksi BI-FAST mencapai nilai Rp 107,4 triliun.

SELENGKAPNYA

Garuda-Citilink Pastikan Harga Tiket Naik

INACA menilai pilihan kenaikan tarif PSC tidak bisa dihindari di bandara. 

SELENGKAPNYA