Petugas mengawasi aktivitas bongkar muat peti kemas saat pelepasan ekspor komoditas pertanian serentak di Pelabuhan Sukarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/8/2021). | ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Ekonomi

19 Jul 2022, 06:50 WIB

Peti Kemas SPTP Capai 5,3 Juta TEUs

Momentum merger Pelindo dapat digunakan untuk memaksimalkan pelabuhan di Sumatra.

JAKARTA -- Arus peti kemas di lingkungan subholding PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) pada semester I 2022 mencapai 5,3 juta twenty-foot equivalent unit (TEUs). SPTP mencatat jumlah arus peti kemas tumbuh satu persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2021. 

“Arus peti kemas tersebut terdiri atas 1,67 juta TEUs peti kemas luar negeri dan 3,68 juta TUEs peti kemas dalam negeri dari 27 terminal peti kemas yang dikelola oleh SPTP,” kata Corporate Secretary SPTP Widyaswendra dalam pernyataan tertulisnya, Senin (18/7). 

Widyaswendra menjelaskan, peningkatan arus peti kemas tersebut ditopang dengan tumbuhnya arus peti kemas dalam negeri. Widyaswendra mengatakan, arus peti kemas dalam negeri tumbuh 1,32 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. 

Sementara itu, untuk arus peti kemas luar negeri terealisasi dengan jumlah yang sama dibandingkan dengan periode 2021. Widyaswendra menyampaikan, arus peti kemas dalam negeri tercatat tumbuh signifikan. 

 

“Arus peti kemas dalam negeri yang mengalami pertumbuhan cukup signifikan ada TPK Tenau Kupang dengan pertumbuhan arus sekitar 23,76 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Widyaswendra.

Widyaswendra memerinci arus peti kemas luar negeri di lingkungan SPTP terdiri atas 811.364 TEUs peti kemas impor, 860.267 TUEs peti kemas ekspor, dan 5.531 TEUs peti kemas transhipment. Untuk peti kemas dalam negeri terdiri atas 1,76 juta TEUs peti kemas bongkar, 1,76 juta TEUs muat, dan 146.816 TEUs peti kemas transhipment. 

Widyaswendra memastikan, saat ini Pelindo Terminal Petikemas masih terus melakukan upaya transformasi, khususnya sejumlah transformasi di terminal peti kemas yang dikelola perusahaan. 

Widyaswendra menegaskan, transformasi tersebut meliputi standardisasi dan digitalisasi bisnis proses, peningkatan kompetensi, dan optimalisasi pekerja operasional.

photo
Petugas dibantu alat berat memindahkan peti kemas di Terminal peti kemas International Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara, Senin (22/11/2021). - (ANTARA FOTO/Fransisco Carolio)

Begitu juga dengan peningkatan kehandalan peralatan penunjang kegiatan terminal. Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menyebutkan, peningkatan arus peti kemas dalam negeri dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satu faktor yang berpengaruh, yakni ekonomi. 

Siswanto menilai, perekonomian yang semakin membaik mendorong meningkatnya permintaan barang yang semakin meningkat. Terlebih, Siswanto menambahkan, sebagian besar peti kemas dalam negeri berisi komoditas barang konsumsi yang dibutuhkan oleh masyarakat. 

“Peti kemas dalam negeri rata-rata berisi barang kebutuhan masyarakat, kebanyakan dikirim ke wilayah timur Indonesia. Hal itu juga terlihat dari data Pelindo Terminal Petikemas jika terdapat pertumbuhan arus peti kemas yang cukup signifikan di Kupang,” kata Siswanto. 

Sementara itu, akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji Kepulauan Riau Ady Muzwardi mendorong Pelindo Terminal Petikemas untuk memaksimalkan keberadaan terminal peti kemas yang ada di wilayah Sumatra. Ady menyebut, hingga saat ini Pelindo belum sepenuhnya dapat memanfaatkan keberadaan Selat Malaka sebagai pendukung industri kepelabuhanan di Indonesia. 

 

Ady mengatakan, momentum merger Pelindo dapat digunakan untuk memaksimalkan pelabuhan di Sumatra, khususnya untuk menjadi hub bagi peti kemas ekspor maupun impor. 

“Sumatra sangat cocok untuk dijadikan hub peti kemas internasional mengingat keberadaan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan dunia. Pelindo diharapkan mampu mewujudkan hal tersebut,” kata Ady.  ';

Solusi Subsidi 

Di luar solusi teknis, kita juga harus melakukan hal strategis untuk menata sektor energi.

SELENGKAPNYA

G-20 Ajak Bantu Negara Berpenghasilan Rendah

G-20 mendorong koordinasi untuk membantu kelompok negara berpenghasilan rendah.

SELENGKAPNYA
×