Tentara Saudi mengawasi jamaah haji. (ilustrasi) | EPA-EFE/ASHRAF AMRA

Kabar Tanah Suci

Kisah Nurhalina dan Fenomena Haji Ilegal

Jika berhasil memasuki tanah haram, mereka juga terancam dengan aksi razia aparat kepolisian.

OLEH A SYALABY ICHSAN dari Makkah

Malam belum juga beranjak selepas kami melontar jamrah terakhir pada pergantian hari di Nafar Awal. Perut yang sudah keroncongan membuat kami belanja makanan seadanya. Dua porsi nasi daging, kebab, dan kentang goreng menanti untuk dilahap. Di trotoar sepanjang jalan di Pusat Perbelanjaan Bin Dawood, kami berhenti untuk makan dan meluruskan kaki setelah berjalan dari Jamarat.

Seorang perempuan paruh baya ikut nimbrung bersama kami di bangku jalan. Sambil melepas lelah, dia memperkenalkan diri dengan nama Nurhalina. Sama seperti kami, wanita berusia 60 tahun itu juga baru saja melakukan jamrah terakhir. Dia melontar bersama dua temannya yang lain. Mereka adalah mukimin yang tinggal dan bekerja di Arab Saudi.

Meski sama-sama baru dari Jamarat, Nurhalina dan kawan-kawan  melontar bukan untuk menunaikan haji bagi dirinya sendiri. Ritual itu mereka lakukan untuk ‘klien’ dari Tanah Air.  “Ada yang minta dibadal haji dari Indonesia. Masih keluarga,” ujar dia, Senin (11/7) dini hari.

 
Perempuan bermasker biru itu berkisah, dia menerima order badal haji setiap tahun.
 
 

Perempuan bermasker biru itu berkisah, dia menerima order badal haji setiap tahun. Musim ini adalah tahun perdana Nurhalina menerima permintaan badal setelah sempat vakum akibat pandemi selama dua tahun. Maklum saja, Pemerintah Arab Saudi membatasi jamaah haji jauh lebih sedikit ketimbang musim haji normal.

Jika pada 2019 ada 2,5 juta jamaah yang pergi haji, maka pada 2020 dan 2022 jumlahnya hanya mencapai seribu dan 60 ribu jamaah. Saat itu, Saudi bahkan menaikkan harga tasrekh (surat ijin masuk) untuk berhaji dengan nilai terkecil Rp 46 juta.

Tahun ini menjadi kesempatan Nurhalina dan kawan-kawannya untuk kembali mendulang pundi dari badal haji. Secara hukum agama, badal haji atau menghajikan orang lain dibenarkan dengan ketentuan orang yang menjadi wakil harus sudah melakukan haji wajib bagi dirinya.

Orang yang diwakili juga telah mampu pergi haji tetapi tidak dapat melaksanakan sendiri karena meninggal dunia atau sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya. Nurhalina mengambil kesempatan itu setelah mendapat cuti selama 48 hari dari majikannya.

Lantas, berapa tarif yang dikenakan Nurhalina untuk badal haji? Perempuan berusia 60 tahun itu mengaku mendapatkan uang 2.500 riyal atau Rp 10 juta saat membadalkan orang. Saya kembali mengejar pengakuannya itu dengan pertanyaan lanjutan. “Bukankah tasrekh untuk jamaah pada haji tahun ini paling murah bisa mencapa 10.800 riyal atau sekitar Rp 43 juta?”

 
Ada kendaraan yang mengangkut orang sepertinya setiap musim haji. Dia hanya dikutip ongkos 250 riyal pulang pergi ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
 
 

Dia tersenyum sambil menertawakan pertanyaan polos kami. Pengakuan Nurhalina, dia menjalani prosesi puncak haji bukan lewat jalur resmi. Ada kendaraan yang mengangkut orang sepertinya setiap musim haji. Dia hanya dikutip ongkos 250 riyal pulang pergi ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Setidaknya, dia mengungkapkan, ada lebih dari satu bus yang siap untuk mengantar jamaah seperti mereka. Semuanya diisi oleh orang Indonesia. Di bus tersebut, ada juga jamaah legal yang sudah punya tasrekh resmi untuk berhaji.

Kami pun lanjut bertanya, “Bagaimana bila ketahuan askar? Apakah mereka tidak akan ditahan kemudian dideportasi atau terkena denda? “Pertanyaan itu juga dijawabnya dengan enteng. “(Sebelumnya) saya sering ketahuan tapi saya berani bertengkar. Terus mereka (askar) pergi,” ujar dia.

Tidak ada yang bisa menjamin kebenaran cerita Nurhalina yang bisa semudah itu lolos ke Armuzna. Hanya saja, banyaknya jamaah tanpa izin resmi yang hendak lolos ke Tanah Suci sudah kami dengar sebelumnya. Mereka hendak masuk lewat jalur udara dan darat. Akan tetapi, otoritas Saudi berhasil mencegah mereka sejak awal.

 
Tidak ada yang bisa menjamin kebenaran cerita Nurhalina yang bisa semudah itu lolos ke Armuzna. Hanya saja, banyaknya jamaah tanpa izin resmi yang hendak lolos ke Tanah Suci sudah kami dengar sebelumnya.
 
 

Pada 30 Juni lalu, misalnya, masyarakat Indonesia digemparkan dengan cerita 46 warga Indonesia yang sudah berihram harus dideportasi kembali ke Tanah Air. Padahal, mereka baru tiba di Bandara International King Abdul Aziz Airport (IKAA), Jeddah. Mereka dipulangkan karena menggunakan visa haji palsu yang sebelumnya sempat diduga berasal dari Malaysia dan Singapura. 

Mantan dubes RI untuk Arab Saudi Maftuh Abegebriel pun menduga visa tersebut  hasil editan perangkat lunak komputer seperti Adobe Photoshop atau Ilustrator. Dia juga heran mengapa para petugas Bandara Soekarno-Hatta meloloskan jamaah dengan visa yang secara kasat mata berbeda dengan visa asli tersebut.

Jalur darat juga diperketat. Hingga 11 Juli lalu, ada 72.503 kendaraan yang membawa jamaah tanpa izin memasuki Makkah dan tanah suci dipaksa balik arah. Dilansir dari Saudi Gazette, Kepala Keamanan Haji Arab Saudi Letjen Muhammad Al-Bassami bahkan menjelaskan, ada 27 orang yang menyelenggarakan haji tanpa ijin ditahan.

Nasib serupa juga diterima 6.310 jamaah yang harus dikerangkeng karena tak memiliki izin berhaji. Untuk 27 aktor penyelenggara haji ilegal, pihak Saudi akan memberi beragam hukuman dari penjara, denda hingga deportasi jika mereka berstatus sebagai ekspatriat. Kendaraan yang digunakan untuk mengantar jamaah tersebut bahkan terancam disita.

 
Jika berhasil memasuki tanah haram, mereka juga terancam dengan aksi razia para aparat kepolisian.
 
 

Jika berhasil memasuki tanah haram, mereka juga terancam dengan aksi razia para aparat kepolisian. Di daerah Syisyah misalnya. Dua hari menjelang Arafah, banyak jamaah dari berbagai negara terkena razia askar. Mereka lari berhamburan hingga ke bukit-bukit belakang. Syukurlah tidak ada orang Indonesia di sana.

Kasus jamaah tanpa ijin haji memang terus mewarnai prosesi penyelenggaraan ibadah haji. Apalagi, haji tahun ini bergelar sebagai haji akbar —haji yang bertepatan dengan hari Jumat— yang diyakini sebagian besar Muslim sebagai momentum istimewa untuk berhaji. Faktor lainnya, haji tahun ini merupakan momentum perdana setelah dua tahun pandemi. Banyak orang yang sudah rindu untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Di samping dua momentum tersebut, minat umat Islam dari seluruh dunia untuk berhaji memang amat besar. Hingga akhir tahun lalu, jumlah warga Indonesia yang mendaftar haji mencapai 5,1 juta orang. Masa tunggu paling lama jamaah bisa lebih dari 40 tahun. Tidak heran jika banyak di antara jamaah yang harus menunggu hingga tua. Tidak sedikit di antara mereka yang menunda keberangkatan karena batasan usia 65 tahun dari Arab Saudi pada musim haji tahun ini.

Belum lagi mereka yang wafat dalam masa penungguan. Di sinilah kesabaran kita diuji saat mendengar adanya cerita kemudahan  berhaji dengan jalur non resmi. Semoga kasus jamaah yang dideportasi menjadi pertimbangan bagi masyarakat kita yang masih menunggu untuk berhaji. Kisah ala Nurhalina yang juga kerap kita dengar di Tanah Air janganlah menjadi penyemangat untuk masuk ke Tanah Suci tanpa izin. 

Penjemput Jamaah Haji Diimbau Disiplin Prokes

Jamaah haji diwajibkan menjalani pemeriksaan gejala terkait Covid-19.

SELENGKAPNYA

Ratusan Jamaah Diusir Askar

Para petugas berseragam loreng juga diturunkan untuk memecah kerumunan jamaah.

SELENGKAPNYA

Adalah: Rencana Kompleks Diplomatik AS Ada di Lahan Sitaan

Presiden AS Joe Biden dijadwalkan tiba di Israel pada 13 Juli.

SELENGKAPNYA