Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

12 Jul 2022, 15:18 WIB

Target Followers dan Popularitas

Mengelola akun medsos dengan target followers dan popularitas dibolehkan dengan syarat tertentu.

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamualaikum Wr. Wb.

Apakah boleh atau tidak, saya mengelola akun pribadi untuk mendapatkan followers setiap hari agar mudah menyebarkan konten, tetapi dengan demikian saya menjadi terkenal dan populer? Bagaimana tuntunannya menurut syariah, terlebih lagi umumnya pengelola akun punya target itu? Mohon penjelasan, Ustaz! -- Ahmad, Padang

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Kesimpulannya, mengelola akun media sosial pribadi dengan target jumlah followers tertentu dan agar pemilik akun populer atau dikenal khalayak itu dibolehkan dengan syarat motifnya baik, cara, serta kontennya halal dan baik pula sebagai wasilah untuk tujuan baik atau positif.

Kesimpulan ini bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut.

Pertama, niat dan motifnya baik. Misalnya, mengelola akun pribadi dimaksudkan sebagai kanal dan sarana untuk menyebarkan konten yang baik dan positif seperti informasi keilmuan dan lainnya. Sedangkan, contoh motif yang tidak positif di antaranya popularitas menjadi tujuan akhir.

Karena niat itu ada di hati setiap pemilik akun, hanya diketahui oleh pemilik akun dengan Allah SWT. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Sesungguhnya amal itu bergantung dengan niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu bergantung dengan apa yang ia niatkan….” (HR Muttafaqun ‘Alaihi).

Kedua, cara yang dilakukannya serta konten yang dibuat dan diunggah itu halal. Di antaranya, konten yang diunggah di Instagram, Facebook, dan Youtube adalah konten-konten yang legal dan baik. Seperti, konten hiburan yang memenuhi tuntunan fikih dan adab-adabnya, konten olahraga yang memenuhi tuntunan fikih dan adab-adabnya, konten pendidikan dan edukasi yang memenuhi tuntunan fikih dan adab-adabnya, dan sejenisnya.

Sebaliknya, jika cara yang dilakukan dan konten yang diunggah tidak halal (bertentangan dengan prinsip syariah) dan/atau ilegal (bertentangan dengan undang-undang), itu tidak dibolehkan karena sesuatu yang ilegal itu tidak dibenarkan oleh syariat.

Begitu pula kesibukan membuat konten dan mengelola akun itu tidak boleh melalaikan kewajiban seseorang yang asasi dan lebih prioritas. Karena kerap terjadi, demi sebuah konten, akhirnya konten dibuat, tetapi berisiko menyinggung orang lain, mencelakakan, tidak lazim, dan yang penting beda dengan yang lain.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya” (HR Tirmidzi).

Kesimpulan tersebut sebagaimana kaidah “al-ghayah laa tubariru al-wasilah” bahwa tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara, tetapi tujuan yang halal harus disertai dengan seluruh cara yang halal pula. Jumlah followers akun media sosial serta popularitas pemilik akun itu adalah sarana (wasilah) bukan segalanya, bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk merealisasikan tujuan yang baik dan target yang halal.

 
Media sosial adalah kanal yang netral dan dapat dimanfaatkan bahkan bisa dikapitalisasi untuk tujuan yang positif.
 
 

Media sosial adalah kanal yang netral dan dapat dimanfaatkan bahkan bisa dikapitalisasi untuk tujuan yang positif agar konten yang baik tersebut terpublikasi, dibaca, didengar, dan disaksikan oleh khalayak dengan mudah.

Riya dan pamer (hubbu syuhrah) sangat terkait dengan niat atau motif (masalah hati) dan cara (masalah aplikasi). Oleh karena itu, hati dan cara tersebut harus dikelola dan dimitigasi agar sesuai dengan tuntunan syariah serta tidak terjerumus pada hal-hal yang terlarang.

Jika niat dan cara sudah baik, sesungguhnya pemilik akun menjadi populer (dengan banyak konten yang diunggahnya hingga menarik netizen) itu sesuatu fitrah dan tak terhindarkan. Jadi saat konten itu tersebar di khalayak akan mengakibatkan pemilik akun tersebut dikenal dengan sendirinya.

Dengan tuntunan fikih dan adab tersebut, akun media sosial bisa dimanfaatkan, bahkan bisa dikapitalisasi tanpa harus melakukan hal-hal yang merugikan diri dan orang lain (hal-hal yang terlarang).

Wallahu a’lam.


Indonesia di Mata Kepala Negara AS

Para pemimpin AS sering mengatakan Indonesia sebagai model persemaian antara agama dan nasionalisme.

SELENGKAPNYA

Jamaah Haji Fokus Pemulihan Usai Armuzna

Total jamaah haji Indonesia yang wafat sejak awal keberangkatan berjumlah 41 orang.

SELENGKAPNYA

Misi Penyelamatan di Jalur Jamarat

Hanya Indonesia yang memiliki pos kegawatdaruratan untuk menolong jamaah yang kelelahan.

SELENGKAPNYA
×