IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika

Analisis

Stagflasi Global?

Inflasi kelak akan hilang dengan sendirinya dan pertumbuhan global akan kembali normal.

OLEH IMAN SUGEMA

Akhir-akhir ini banyak analis meramaikan isu bahwa inflasi yang tiba-tiba menyeruak di hampir semua negara akan diikuti dengan stagnasi atau resesi global. Dalam literatur ekonomi hal ini seringkali secara populer disebut sebagai stagflasi.

Tentunya kekhawatiran seperti ini bukanlah sesuatu yang tanpa alasan kuat karena didukung oleh teori dan fakta. Lagian yang mengemukakan isu ini bukanlah orang-orang sembarangan di level nasional maupun internasional. Akan tetapi kalau saja analisis yang akan saya paparkan berikut ini mengandung kebenaran, maka resesi atau stagnasi perekonomian global mungkin merupakan hal yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Sebagaimana kita ketahui bersama, tanda-tanda pemulihan ekonomi global semakin kuat seiring dengan semakin terkendalinya penyebaran penyakit Covid-19 di berbagai belahan dunia. Kerumunan mulai diperbolehkan dan perjalanan antarkota maupun antarnegara semakin diperlonggar.

Kantor, pabrik, dan pusat perdagangan mulai diperbolehkan beroperasi secara normal. Masyarakat sudah beraktivitas seperti biasa. Dalam hal ini memang kita lebih konservatif dibandingkan negara-negara Eropa dan Amerika Utara yang menganggap Covid-19 sudah menjadi flu biasa.

 
Kita menyaksikan pemulihan ekonomi mulai seragam di berbagai belahan dunia sejak akhir tahun lalu.
 
 

Kita menyaksikan pemulihan ekonomi mulai seragam di berbagai belahan dunia sejak akhir tahun lalu. Boleh Anda cek dengan data. Negara yang awalnya mengalami resesi lebih dalam kemudian mencatat pertumbuhan yang lebih baik. Ini namanya base effect dan itu alamiah saja. Lalu mengapa terjadi inflasi global?

Fenomena inflasi global mungkin lebih cocok disebut sebagai demand pull inflation. Ketika aktivitas masyarakat mulai dilonggarkan, permintaan atas barang dan jasa mulai kembali berangsur normal. Masalahnya, kenaikan permintaan ini tidak diikuti dengan kecepatan penyesuaian dalam produksi dan distribusi.

Permintaan, terutama di negara-negara maju, dipenuhi dengan cara menghabiskan stok di gudang. Barang di rak supermarket di Amerika sempat kosong melompong. Tentu hal seperti ini memicu kenaikan harga berbagai barang dan jasa alias inflasi.

Produksi tidak bisa cepat disesuaikan karena sebelumnya para pekerja sebagian dirumahkan atau di-PHK untuk menghemat biaya operasi. Rekrutmen kembali para pekerja bukan hal yang bisa dilakukan dalam sekejap.

 
Produksi tidak bisa cepat disesuaikan karena sebelumnya para pekerja sebagian dirumahkan atau di-PHK untuk menghemat biaya operasi.
 
 

Para pekerja yang di-PHK sudah pindah domisili dan mungkin sudah beralih profesi. Pekerja baru memang tersedia secara luas, tetapi mereka harus dilatih ulang. Konsekuensinya, rata-rata produktivitas menjadi lebih rendah. Produksi tidak siap menyesuaikan dengan kecepatan permintaan.

Jalur distribusi global juga sempat terganggu selama pandemi. Tumpukan kontainer secara tidak merata merupakan masalah tersendiri. Sebagian diubah menjadi rumah tinggal yang sangat murah dan fleksibel. Rumah kecil berbasis kontainer menjadi tren global selama pandemi.

Selain itu, karena kekurangan pekerjaan, para pelaut dirumahkan. Akibatnya, ketika permintaan mulai berangsur normal, distribusi global gagal menyesuaikan diri.

Kegagalan produksi dan distribusi dalam mengimbangi kenaikan permintaan tentunya memicu excess demand. Seperti yang diramalkan oleh teori ilmu ekonomi, hal ini kemudian memicu inflasi.

Anda boleh cek dengan data bahwa urutannya adalah tanda-tanda recovery muncul yang direpresentasikan dengan pertumbuhan yang positif dan kemudian baru menyusul inflasi.

Demand side inflation juga dipicu oleh langkah pemerintah di hampir semua negara untuk membiayai defisit fiskal dengan cara meminta bantuan kepada bank sentral. Jelasnya, defisit ditutupi dengan cara mencetak uang. Akibatnya, likuiditas global mengalir deras ke pasar aset terutama pasar modal dan logam mulia.

 
Defisit ditutupi dengan cara mencetak uang. Akibatnya, likuiditas global mengalir deras ke pasar aset terutama pasar modal dan logam mulia.
 
 

Karena itu, semasa pandemi kita menyaksikan harga saham, surat berharga, dan logam mulia menggelembung. Gelembung harga aset yang likuid tentunya telah menciptakan potensi daya beli ketika masyarakat mulai beraktivitas kembali. Artinya, kenaikan permintaan barang dan jasa merupakan konsekuensi logis dari kelebihan likuiditas.  Ini bukan merupakan fenomena baru.

Kalau analisis ini benar, maka inflasi yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan. Inflasi adalah bentuk dari penyesuaian yang memang harus terjadi setiap ada kelebihan permintaan atau excess demand.

Akan tetapi, kenaikan harga juga merupakan insentif bagi produsen dan distributor untuk meningkatkan produksi dan distribusi secara lebih cepat. Cepat atau lambat, kelebihan permintaan ini akan terpenuhi dan akhirnya inflasi akan kembali normal.

Tetapi kan ada imbas dari perang Rusia-Ukraina? Ya betul. Pasokan barang apa pun dari dan ke negara tersebut menjadi terhambat. Artinya, perang berperan dalam memperlambat penyesuaian produksi dan distribusi global.

Kesenjangan permintaan-penawaran menjadi lebih sulit untuk ditutupi. Semakin lama perang, semakin sulit menutupi excess demand global. Walaupun demikian, lambat atau cepat, excess demand akan tertutupi.

Mohon diingat bahwa harga merupakan insentif untuk meningkatkan produksi. Tentunya kelak barang dan jasa dari kedua negara yang terlibat perang akan disubstitusi oleh barang dan jasa dari negara-negara lain.

Ini hanya masalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian. Inflasi kelak akan hilang dengan sendirinya dan pertumbuhan global akan kembali normal. Semoga analisis ini benar adanya.

Pertaruhan G-7 dan G-20

G-7 berupaya memainkan peran sentral kebijakan ekonomi global dalam konflik Rusia-Ukraina.

SELENGKAPNYA

Tantangan Sepuluh Miliar

Jumlah warga bumi akan mencapai melebihi angka 10 miliar pada akhir abad ini. 

SELENGKAPNYA

Ancaman Krisis Makin Nyata

Beberapa negara mengalami krisis parah sehingga tak mampu membayar utangnya.

SELENGKAPNYA