Cover Dialog Jumat edisi Jumat 24 Juni 2022. Pelit, Mabuk Harta, dan Cinta Dunia. | Republika/Thoudy Badai

Tema Utama

Pelit, Mabuk Harta, dan Cinta Dunia

Sebab pelit adalah kecintaan pada harta yang berlebihan.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Orang yang cinta dunia akan tergila-gila dengan harta. Dia akan menganggap apa yang dimiliki bukan lagi milik Allah, sehingga enggan menyisihkan sebagian hartanya untuk kebaikan orang lain. Apakah Islam membolehkan bersifat pelit? 

Muara Pelit yang Merusak Jiwa, Apa Itu?

Pelit adalah salah satu sifat tercela yang dilarang dalam agama. Meski demikian, tak sedikit orang yang beriman masih dibayang-bayangi rasa pelit dalam menjalani kehidupan. Sebenarnya, apa itu pelit dan bagaimana seseorang bisa berproses terjerumus ke dalamnya? 

Pegiat Bahasa Arab dari UIN Syarif Hidayatullah, Neneng Maghfiro, mengatakan bahwa jika ditarik secara makna, kata pelit dalam bahasa Arab disebut al-bukhlu. Kata tersebut melahirkan fa’il yang disebut bakhil, atau orang yang berlaku pelit.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

“Kalau secara bahasa, memang al-bukhl itu artinya pelit. Tapi, mungkin jika ditinjau secara lebih detail, ada istilah-istilah lain bahasa Arab dalam Alquran yang menggambarkan tentang pelit, tergantung tingkatannya,” kata Neneng saat dihubungi Republika, Rabu (22/6). 

Dengan begitu, kata dia, kata al-bukhl secara pengertian merupakan pelit. Yakni, pelit terhadap sesuatu yang sifatnya tercela. Sedangkan dalam istilah lainnya, pelit dalam level yang lebih berat atau lebih buruk dari al-bukhl adalah as-shoh. Contohnya adalah orang bakhil yang enggan mengeluarkan harta kekayaannya untuk sesuatu yang bersifat wajib, seperti menunaikan zakat.

 
Kata al-bukhl itu berkonotasi buruk, orang yang pelit tidak serta-merta disamakan dengan orang yang berhemat.
 
 

 

Untuk itu, Neneng menjelaskan, karena kata al-bukhl itu berkonotasi buruk, orang yang pelit tidak serta-merta disamakan dengan orang yang berhemat. Dalam bahasa Arab, kata dia, kata hemat disebut iqtishad. Kata ini bisa berarti hemat, cermat, dan sederhana. 

Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna pelit sendiri adalah kikir, yakni orang yang enggan memberi sedekah. Adapun pelit berbeda dengan hemat secara makna.

Jika pelit adalah keengganan memberikan sedekah, hemat adalah sebuah usaha kehati-hatian dalam membelanjakan uang agar tidak boros serta cermat dalam mengelola keuangan.

photo
Cover Dialog Jumat edisi Jumat 24 Juni 2022. Pelit, Mabuk Harta, dan Cinta Dunia. - (Republika/Thoudy Badai)

Pakar Ilmu Alquran KH Ahsin Sakho mengatakan, sebab terjadinya seseorang pelit adalah karena kecintaannya pada harta yang berlebihan. Kiai Ahsin menjelaskan, pada dasarnya manusia diciptakan pada sebuah materi, tanah. Sehingga, rasa enggan dalam memberikan harta kepada orang lain secara cuma-cuma bukanlah perkara yang baru. 

“Sehingga jika sudah dapat satu lembah emas, dia akan mau dua lembah emas, dan seterusnya. Sifatnya material, sifat dasar manusia secara naluriah itu, dia tidak senang jika diminta orang lain meski kaya raya. Inilah sebab yang bisa menjadikan manusia itu bakhil karena kecintaannya pada dunia atau harta itu lebih besar,” kata Kiai Ahsin.

 
Sifatnya material, sifat dasar manusia secara naluriah itu, dia tidak senang jika diminta orang lain meski kaya raya.
 
 

 

Di dalam Alquran, level pelit terbagi-bagi. Ada bakhil yang sifatnya berdosa, yakni orang pelit yang tidak mau memberikan zakat meskipun itu wajib. Ada pula bakhil yang sifatnya tidak baik dalam etika sosial, yakni orang yang abai dan enggan menyisihkan harta kepada orang-orang yang membutuhkan. 

Terhadap orang-orang yang bakhil tersebut, kata Kiai Ahsin, agama sangat melarang sikapnya. Terlebih, Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang yang pelit bukan bagian dari umat Nabi. Nabi berkata, “Laisa minna, laisa minna”. Yang artinya, “(Orang yang pelit itu) bukan bagian dari kami”. 

Dalam rangka itu, umat Islam sejatinya harus memahami bahwa setiap harta dan karunia yang didapat adalah milik Allah SWT. Allah menitipkan harta tersebut kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya untuk diambil kembali dengan cara-cara yang Dia perintahkan. 

“Jadi istilahnya itu, kalau bahasa saya, Allah memerintahkan kita untuk kasih DP (down payment). Masak DP saja tak mau?” katanya.

 
Yang terbebas dari pelit akan diberikan rezeki berlimpah dalam bentuk apa pun oleh Allah.
 
 

 

Dengan penekanan untuk saling berbagi dan menjauhi sifat bukhl, kata Kiai Ahsin, sejatinya Allah SWT ingin menguji dan mengetahui mana saja hamba-hamba-Nya yang mau dan ikhlas memberikan harta. Baik itu dalam bentuk infak, sedekah, zakat, bahkan hadiah.

Dengan demikian, Allah mengetahui ihwal hamba-Nya yang mau berkorban dan yang tidak mau berkorban. “Maka yang terbebas dari sifat pelit, dia akan diberikan kelimpahan rezeki dalam bentuk apa pun oleh Allah, disebutnya barokah. Sebab, Allah mengganti (pemberian)-nya dengan berlipat-lipat. Buktinya banyak sekali, misalnya setiap pagi itu malaikat mendoakan orang yang berinfak,” ujarnya. 

Di dalam Alquran, kisah-kisah mengenai orang yang bakhil juga diabadikan. Kiai Ahsin menjabarkan kisah tentang orang yang pelit yang namanya abadi di Alquran, dialah Qorun. Qorun dikaruniai rezeki dan kedudukan yang berlimpah oleh Allah, tetapi ia berlaku pelit dan sombong sehingga mengabaikan nilai dasar dari rezeki yang ia terima.

photo
Sebab pelit adalah kecintaan pada harta yang berlebihan. Pelit, mabuk harta, dan cinta dunia. - (Pixabay)

Dampak Pelit di Sekeliling Manusia

Islam melarang penganutnya bersifat pelit kepada setiap individu. Selain karena merupakan sifat yang tercela, nyatanya sifat yang satu ini juga menghadirkan dampak yang merugikan diri sendiri maupun lingkup sosial. 

Ilmuwan Psikologi Islam Indra Kusuma menjelaskan, secara psikologis, sikap pelit lahir dari adanya mentalitas kelangkaan. Dasarnya, hal tersebut berbasis pada rasa takut atas kekurangan sesuatu. “Sehingga seakan dia kekurangan, dia seolah-olah hanya memiliki sesuatu yang terbatas. Tidak mau berbagi, jadi pelit,” kata Indra pada Rabu (22/6). 

Orang yang pelit secara psikologi juga berada dalam level yang berbeda-beda. Mulai dari mereka yang enggan memberikan tip, enggan membantu kesulitan orang lain, hingga enggan untuk menunaikan kewajiban materiel yang diembankan dalam sebuah nilai (agama—Red).

photo
Islam melarang penganutnya bersifat pelit. Selain karena sifat tercela, pelit menghadirkan dampak yang merugikan diri sendiri maupun lingkup sosial. Pelit, mabuk harta, cinta dunia. - (Pixabay)

Jika dilihat secara psikologi, kata Indra, orang yang pelit sejatinya telah merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Sebab, dengan mentalitas kekurangan yang dimiliki, hal demikian dapat menjadi hambatan baginya dalam menjalin relasi sosial. Dengan begitu, dengan adanya sifat pelit, relasi sosial, seperti dunia kerja maupun lingkungannya, akan menjadi tidak baik. 

Sedangkan sifat sebaliknya, adalah mentalitas keberlimpahan. Indra menjelaskan bahwa sifat ini lahir dari kepercayaan diri atas kecukupan yang diperoleh sehingga membuatnya memiliki kelayakan untuk berbagi. Jika seseorang memiliki mentalitas semacam itu, akan berdampak pada semakin baiknya lingkup sosial. 

“Kalau dalam Islam, bahasanya itu adalah logika syukur. Jadi, kalau bersyukur, rezekinya akan ditambah. Dia punya mentalitas berkelimpahan,”ujar Indra. 

Adapun orang yang terjerumus dalam sikap pelit secara psikologi penyebabnya didominasi oleh pola asuh yang keliru. Pengaruh orang lain yang signifikan dalam tumbuh kembang anak, kata dia, akan sangat menentukan dan membangun mentalitas anak pada masa depan.

 
Kalau dalam Islam, bahasanya itu adalah logika syukur. Jadi, kalau bersyukur, rezekinya akan ditambah. Dia punya mentalitas berkelimpahan.
 
 

Jika sedari kecil anak diajarkan untuk berbagi, Indra menyebutkan, rasa empati akan tumbuh dan mentalitas keberlimpahan yang dimiliki pun semakin kuat. Hal itu bisa ditanamkan, salah satunya adalah dengan pendidikan yang menitikberatkan pada empati. 

Pakar tasawuf Prof Abuddin Nata menyampaikan, dalam perspektif yang paling sederhana dan dasar sejatinya sifat pelit itu telah dilarang dalam agama. Dalam rukun Islam yang ketiga yang menyebutkan kewajiban berzakat bagi kaum Muslim, hal itu merupakan bentuk dasar pengembangan akhlak untuk menjauhi sifat pelit. 

“Zakat itu mengandung didikan akhlak. Yaitu agar orang yang melaksanakannya dapat membersihkan diri dari sifat kikir, mementingkan diri sendiri, dan membersihkan hartanya dari hak orang lain,” ujar dia.

photo
Kewajiban berzakat bagi kaum Muslim merupakan bentuk dasar pengembangan akhlak untuk menjauhi sifat pelit. - (Pixabay)

Pelaksanaan zakat yang berdimensi akhlak ini bersifat sosial-ekonomis. Hal ini dapat dipersubur dengan sedekah yang sifatnya materiel maupun non-materiel, seperti murah senyum dan ramah. Yang mana hal itu sangat berdampak, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Dengan membiasakan diri untuk saling berbagi dan berempati, memberikan sesuatu kepada orang lain sejatinya dapat menguntungkan dirinya sendiri dan juga orang lain. Yakni, pembersihan diri dari sifat kikir tadi dan juga membangun relasi sosial yang lebih baik. Sebab, sesungguhnya manusia selain harus menjalin ikatan dengan Allah, dia juga merupakan makhluk sosial. Istilahnya dikenal dengan hablu minallah wa hablu minannas.

Untuk itu, dia menekankan bahwa sifat pelit merupakan salah satu hal yang harus dihindari agar tidak merugi. Islam mengajarkan umatnya untuk saling berbagi dan menunaikan kewajiban, misalnya saja dengan berzakat. Dia mengutip pendapat Syekh Muhammad Ghazali bahwa hakikat zakat adalah untuk membersihkan jiwa dan mengangkat derajat manusia ke jenjang yang lebih mulia.

Shinzo Abe dan Warisannya untuk Muslim Jepang

Abe yang wafat di usia 67 tahun menjadi perdana menteri terlama di Jepang.

SELENGKAPNYA

Meraih Ketenangan Jiwa Sejak Dini

Bisakah zikir menjadi antitesa agar anak tak kecanduan gadget?

SELENGKAPNYA

Wukuf Momen Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Manfaatkan waktu wukuf untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan amal ibadah.

SELENGKAPNYA