Polisi berpatroli di kawasan wisata bergaya kota tua yang baru dibangun di Kashgar, Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang, Cina. Wilayah tersebut merupakan salah satu yang paling diawasi di Cina. | REUTERS/Thomas Peter

Internasional

07 Jul 2022, 02:45 WIB

Peretas Klaim Curi Data 1 Miliar Warga Cina

Jika benar terbukti, ini jadi rekor peretasan terbesar dalam sejarah.

BEIJING – Seorang peretas dengan nama semu “ChinaDan” mengeklaim berhasil mencuri data milik 1 miliar warga Cina. Dia menyebut, data tersebut berhasil diperolehnya setelah pusat data Shanghai National Police mengalami kebocoran.

“Pada 2022, pusat data Shanghai National Police bocor. Basis data ini berisi banyak terabita data dan informasi tentang miliaran warga Cina,” kata ChinaDan dalam sebuah unggahan di forum peretas bernama Breach Forums, pekan lalu, dilaporkan Reuters, Rabu (6/7).

Dia kemudian menawarkan penjualan data berukuran 23 terabita seharga 10 bitcoin atau sekitar 200 ribu dolar AS. “Basis data berisi informasi tentang 1 miliar penduduk nasional Cina dan beberapa miliar catatan kasus, termasuk: nama, alamat, tempat lahir, nomor induk kependudukan, nomor ponsel, semua detail kejahatan/kasus,” tulis ChinaDan.

photo
Pemuda mengoperasikan telepon genggam di perumahan Sanliitum di Beijing, pada 2021 lalu. - (EPA-EFE/ROMAN PILIPEY)

Sampel data yang dilihat oleh kantor berita Associated Press mencantumkan nama, tanggal lahir, usia, dan nomor ponsel. Bahkan informasi tentang anak di bawah umur juga termasuk dalam data tersebut.

Klaim soal kepemilikan data 1 miliar penduduk Cina belum bisa diverifikasi. Otoritas Shanghai pun belum merilis keterangan resmi perihal informasi tersebut.

Meski masih buram, unggahan ChinaDan dibahas secara luas di platform media sosial Weibo dan WeChat. Banyak warga yang mengutarakan kekhawatiran mereka. Kemudian, tagar “kebocoran data” diblokir di WeChat pada Ahad (3/7) sore lalu.

Satu orang mengatakan, mereka skeptis dengan kebocoran data itu. Sampai akhirnya mereka berhasil memverifikasi beberapa data pribadi yang bocor secara online, dengan mencoba mencari orang-orang di Alipay menggunakan informasi pribadi mereka.

“Semuanya, harap berhati-hati kalau-kalau ada lebih banyak penipuan melalui telepon di masa depan," kata mereka dalam unggahan  di Weibo.

Terbesar dalam sejarah

Kendra Schaefer, seorang pakar teknologi di konsultan Trivium China yang berbasis di Beijing, mengatakan, sulit untuk menguraikan kebenaran dari rumor kebocoran data tersebut. “Yang paling jelas, itu akan menjadi salah satu pelanggaran terbesar dan terburuk dalam sejarah,” ucapnya, jika klaim ChinaDan benar.

Ilmuwan peneliti utama di perusahaan keamanan siber Sophos, Chester Wisniewski, mengatakan, pelanggaran itu berpotensi sangat memalukan bagi Pemerintah Cina. Selan itu, kerugian politik mungkin akan lebih besar daripada kerusakan pada orang-orang yang datanya dibocorkan.

“Ketika Anda berbicara tentang informasi satu miliar orang dan itu adalah informasi statis --bukan tentang ke mana mereka bepergian, dengan siapa mereka berkomunikasi atau apa yang mereka lakukan-- maka ini jadi sangat tidak menarik,” kata Wisniewski.

photo
Warga mengenakan masker untuk melindungi dari penularan virus Covid-19 sedang menggunakan telepon pintar mereka sebelum memasuki jalan tempat berbelanja di Beijing, Sabtu (16/5/2020). - (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Menurut Wisniewski, ketika peretas mendapatkan data dan meletakkannya di plarform daring, maka tidak mungkin untuk menghapusnya sepenuhnya. Wisniewski menjelaskan, ketika informasi dirilis maka akan selamanya beredar.

“Jadi, jika seseorang percaya informasi mereka terkena serangan ini, mereka harus menganggapan bahwa data mereka selamanya ada untuk siapa saja dan mereka harus melakukan pencegahan untuk melindungi diri sendiri," ujar Wisniewski.

Klaim peretasan oleh ChinaDan ini muncul saat Cina telah berjanji meningkatkan perlindungan privasi data pengguna daring. Beijing menginstruksikan raksasa teknologinya untuk memastikan penyimpanan data yang lebih aman. Hal itu dilakukan setelah adanya keluhan publik tentang salah urus dan penyalahgunaan data.

Pada 2020, serangan siber besar yang diyakini dilakukan oleh peretas Rusia membahayakan beberapa agen federal Amerika Serikat seperti Departemen Luar Negeri, Departemen Keamanan Dalam Negeri, perusahaan telekomunikasi, dan kontraktor pertahanan. Tahun lalu, lebih dari 533 juta pengguna Facebook mempublikasikan data mereka di forum peretasan.

Sumber : Reuters/Associated Press


Industri Incar Pasar Ayam di ASEAN

GPPU berharap ekspor ayam ke Singapura akan terus berlanjut.

SELENGKAPNYA

Tragedi Berdarah di Parade Hari Kemerdekaan AS 

Insiden penembakan juga menyebabkan setidaknya 36 warga mengalami luka-luka.

SELENGKAPNYA

Finlandia dan Swedia Teken Protokol NATO

Kini kedua negara memiliki akses yang lebih besar ke informasi intelijen NATO.

SELENGKAPNYA
×