Warga berolahraga di area luar Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Ahad (22/8). Stadion tersebut merupakan warisan Presiden Sukarno. | Republika/Thoudy Badai

Nasional

04 Jul 2022, 03:45 WIB

Jembatan Penghubung Bangsa-Bangsa Bernama Soekarno

Presiden Pertama RI Soekarno juga mewarisi sejumlah karya arsitektur di sejumlah daerah di Indonesia.

OLEH FEBRIANTO ADI SAPUTRO

Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani menceritakan bagaimana Soekarno atau Bung Karno membuat ‘jembatan’ yang bisa menghubungkan bangsa-bangsa. Puan mengatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam acara diskusi publik dengan tema "Bung Karno: Arsitek Kemerdekaan Bangsa-bangsa" yang diadakan di secara hybrid di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta, Ahad (3/7).

Bung Karno dinilai berhasil menghubungkan para bangsa untuk dapat bergaul satu sama lain dengan cara yang akrab. "Menurut saya, Bung Karno aktif membangun 'jembatan' antarbangsa. Di situlah beliau menjadi 'arsitek' kemerdekaan bangsa-bangsa dengan semangat membangun tatanan dunia baru," kata Puan.

Puan juga menceritakan bagaimana Presiden Indonesia pertama Soekarno atau Bung Karno meraih gelar doktor Honoris Causa (HC) dari Universitas Berlin pada 23 Juni 1956. Bung Karno meraih gelar doktor HC dari Universitas Berlin di bidang Ilmu Pengetahuan Teknik.

Menurut tokoh perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR ini, Bung Karno bertanya dengan civitas Universitas Berlin atas gelar yang diberikan. "Ternyata Presiden Universitas Berlin mengatakan bahwa menurut mereka Presiden Soekarno telah membuat jembatan yang hebat sekali, yaitu 'a bridge between nation', jembatan yang menghubungkan bangsa-bangsa, jembatan yang membuat bangsa-bangsa dapat bergaul satu sama lain dengan cara yang akrab," kata Puan.

Dia menambahkan, dalam pleidoi Bung Karno yaitu Indonesia Menggugat pada tahun 1930 yang menentang kolonialisme dan imperialisme serta pidato pada 1 Juni 1945 sudah jelas bagaimana menginginkan kemerdekaan Indonesia dengan dasar falsafah dan ideologi negara Pancasila.

Bahkan setelah Indonesia merdeka, Bung Karno turut serta membantu negara lain untuk memperoleh kemerdekaan yang kemudian bisa menghelat Konferensi Asia Afrika dengan melahirkan Dasasila Bandung. Pada sidang PBB tahun 1960, Bung Karno menyampaikan dengan jelas bagaimana visinya tentang dunia yang terbebaskan dari imperialisme dan kolonialisme, terbebaskan dari penjajahan dan penindasan.

"Konsistensi dan keteduhan pemikiran Bung Karno pula yang kemudian melahirkan games of the new emerging forces atau Ganefo sebagai wujud nyata konsistensi perjuangan tatanan dunia yang baru dalam berbagai aspek kehidupan," kata dia.

Dia juga menuturkan, setiap tempat yang didatangi Bung Karno terjangkit virus untuk menggelorakan semangat nasionalisme, gotong-royong, Bhinneka Tunggal Ika, semangat toleransi, dan semangat kemandirian. Contohnya, bagaimana pemimpin Uni Soviet tertular semangat toleransi beragama ketika menyinggahi Masjid di St Petersburg.

"Mari kita teruskan perjuangan Bung Karno yang pernah mengatakan 'kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa’," ujar Puan.

Karya arsitektur

Presiden Pertama RI Soekarno juga mewarisi sejumlah karya arsitektur di sejumlah daerah di Indonesia. Salah satu bangunan megah yang sampai saat ini berdiri tegak di ibu kota yaitu Gelora Bung Karno.

Arsitek dan Peneliti Karya Arsitektur Bung Karno, Yuke Ardhiari, mengatakan lewat Gelora Bung Karno, proklamator RI tersebut ingin menunjukkan kebesaran Indonesia dalam bidang olahraga. "Beliau (Bung Karno) mengatakan ingin gedung olahraga terbesar di Asia Tenggara yang belum pernah ada sebelumnya. Bung Karno bilang, saya hanya mau podium itu dan audiens itu tidak terkena hujan dan panas ketika mereka di sana. Mereka harus happy semua, harus merasakan kenyamanan dalam gelanggang," kata Yuke.

Yuke menerangkan, Bung Karno juga menggagas Hotel Indonesia. Hotel yang terletak di pusat kota tersebut berdiri sangat megah pada saat itu. Yuke menuturkan, Bung Karno ingin hotel itu dipakai untuk mewadahi delegasi internasional yang mengikuti Asian Games pada 1962.

Kemudian Bung Karno juga menggagas pembangunan Masjid Istiqlal. Masjid tersebut dibangun berseberangan dengan Gereja Katedral. Bung Karno, ingin Istiqlal menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara.

"Untuk di Jakarta saja, perkiraan sejak beliau menjadi presiden, itu sedikitnya 10 karya yang tercatat dalam proyek Mercusuar Bung Karno," kata dia. 

Sumber : Antara


Muslim Terbaik

Mari berikhtiar menjadi Muslim terbaik.

SELENGKAPNYA

Pemerintah Tetapkan Status Darurat PMK

Laju vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) terhadap hewan ternak masih berjalan relatif lambat.

SELENGKAPNYA

Layanan di Arafah dan Haji Akbar

Selain perbaikan AC, Arafah kali ini akan dilengkapi dengan fasilitas toilet yang jauh lebih banyak.

SELENGKAPNYA
×