Pedagang mengemas minyak curah di lapaknya di Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (29/6/2022). | Republika/Thoudy Badai

Kabar Utama

02 Jul 2022, 03:50 WIB

Inflasi Inti Masih Terkendali

Langkah subsidi yang diberikan pemerintah untuk menekan kenaikan harga dinilai sudah tepat.

JAKARTA -- Laju inflasi nasional khususnya komponen inti dinilai masih terkendali pada Juni 2022. Kondisi ini membuat Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk mempertahankan tingkat suku bunga.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (1/7) mengumumkan, inflasi Juni naik tipis ke level 0,61 persen secara bulanan atau month to month (mtm) dari Mei lalu yang sebesar 0,4 persen mtm. Dengan laju inflasi bulanan itu, inflasi tahun kalender (Januari-Juni) mencapai 3,19 persen. Sedangkan inflasi tahunan tembus 4,35 persen dibandingkan Juni 2021 year on year (yoy), tertinggi sejak 2017.

Kendati demikian, inflasi inti tercatat berada di kisaran 2,63 persen (yoy) dan 1,82 persen (Januari-Juni 2022). Inflasi inti merupakan komponen inflasi yang cenderung menetap di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, inflasi inti Juni 2022 masih rendah. Atas alasan itu, BI menyatakan tak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan.

"Inflasi inti yang rendah memberikan suatu ruang fleksibilitas bagi kami untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuan," kata Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (1/7).

Perry tak menampik bahwa indeks harga konsumen (IHK) Juni 2022 secara tahunan memang meningkat menjadi 4,35 persen. Peningkatan inflasi IHK secara tahunan tersebut disebabkan oleh komponen inflasi bahan makanan yang cenderung meningkat belakangan ini.

Perry pun mengapresiasi pemerintah dan Banggar DPR karena telah menaikkan subsidi. Kebijakan menambah anggaran subdidi telah mendukung pengendalian inflasi, terutama inflasi harga yang diatur pemerintah. "Tentu saja langkah Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat untuk mengendalikan inflasi yang bergejolak," tegasnya.

Perry dalam kesempatan tersebut menegaskan, kebijakan moneter akan diarahkan untuk stabilitas perekonomian, sementara kebijakan lainnya berupa makroprudensial dan sistem pembayaran akan tetap diarahkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

photo
Pedagang mengemas minyak curah di lapaknya di Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (29/6/2022). Pemerintah berencana akan menerapkan aturan baru terkait penggunaan aplikasi Peduli Lindungi saat transaksi penjualan dan oembelian minyak goreng curah pada 11 Juli mendatang. - (Republika/Thoudy Badai)

Kepala BPS Margo Yuwono menyampaikan, sebanyak 85 kota mengalami inflasi dari 90 kota yang masuk perhitungan IHK.  Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi terbesar, yakni 0,47 persen. Kelompok ini mengalami inflasi 1,77 persen pada Juni lalu.

Komoditas yang menyumbang inflasi terbesar adalah cabai merah sebesar 0,24 persen, cabai rawit 0,10 persen, serta bawang merah 0,08 persen. "Kenaikan harga cabai dan bawang utamanya disebabkan faktor cuaca yang menganggu. Turun hujan dan lembab sehingga menyebabkan gagal panen dan suplai terganggu. Terjadi supply shock akibat anomali cuaca," kata Margo dalam konferensi pers, kemarin

Terkait laju inflasi tahunan yang sebesar 4,35 persen, Margo mengatakan angka inflasi itu merupakan yang tertinggi sejak Juni 2017.

Pemerintah dalam asumsi ekonomi makro 2022 menargetkan laju inflasi di kisara 3 plus minus 1 persen. Dengan kata lain, laju inflasi tahunan hingga Juni tahun ini telah melampaui target pemerintah.

Margo menjelaskan, diliat berdasarkan komponen, inflasi harga pangan bergejolak atau volatile foods merupakan yang tertinggi, yaitu  sebesar 10,07 persen yoy. Selanjutnya, komponen penyumbang inflasi terbesar kedua adalah harga yang diatur pemerintah atau administered prices yang tercatat sebesar 5,33 persen yoy.

Margo mengatakan, inflasi ini kemungkinan akan kembali meningkat pada Juli seiring adanya penyesuaian tarif listrik oleh pemerinah untuk golongan 3.500 VA ke atas.

Kenaikan harga pangan global memang telah berdampak pada kenaikan harga sejumlah pangan yang berbahan baku impor. Namun, dampaknya terhadap laju inflasi belum signifikan.

Terdapat tiga komoditas pangan impor yang cukup dominan dikonsumsi masyarakat, di antaranya gandum sebagai bahan baku tepung terigu, gula, serta kedelai yang digunakan membuat tahu tempe. "Meskipun harga tepung terigu, gula, dan tempe mengalami kenaikan, transmisi (kepada inflasi) belum terasa. Andil inflasinya terhadap inflasi di Juni masih tergolong rendah," kata Margo.

BPS mencatat rata-rata harga tepung terigu selama Juni naik menjadi sebesar Rp 12 ribu per kg. Andil terhadap inflasi bulanan di Juni hanya 0,0009 persen. Adapun, untuk komoditas gula, harga stabil di kisaran Rp 14.370 per kg. Gula justru menyumbang deflasi minus 0,001 persen.

photo
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat meninjau kegiatan Gelar Bawang dan Cabai Merah di halaman Toko Tani Indonesia Center, Jakarta, Ahad (19/6/2022). Republika/Thoudy - (Republika/Thoudy Badai)

Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi di sektor pangan agar kenaikan harga bisa dikendalikan. "Di sisa waktu hingga akhir tahun ini ada potensi kenaikan harga pangan global dan potensi krisis pangan. Kalau ini tidak dimitigasi sedari dini, khawatir akan berdampak pada kenaikan inflasi sepanjang tahun," kata Yusuf kepada Republika, Jumat (1/7/2022).

Ia menilai, langkah subsidi yang sudah diberikan pemerintah untuk menekan kenaikan harga sudah tepat, seperti pada komoditas kedelai. Perajin kedelai mendapatkan subsidi harga Rp 1.000 per kg. Namun, hal yang jauh lebih penting adalah pemetaan kemampuan produksi pangan yang bisa diproduksi dalam negeri hingga akhir tahun ini.

Pemerintah wajib mengambil langkah cepat jika memang permintaan terhadap komoditas pangan akan melampaui produksi. "Apakah bisa dinaikkan produksinya atau alternatif lain seperti impor, tapi saya kira itu pilihan kedua," katanya.

Yusuf memproyeksikan laju inflasi hingga akhir tahun masih terdapat potensi kenaikan. Kenaikan inflasi utamanya disebabkan faktor geopolitik perang Rusia-Ukraina yang berdampak pada kenaikan harga energi. Naiknya harga energi lantas mengerek lonjakan harga pangan dampak negatifnya dirasakan oleh negara berkembang seperti Indonesia.

"Faktor geopolitik ini masih abu-abu, meski pemerintah sudah melakukan inisiasi langkah damai tapi saya lihat masih tetap abu-abu," katanya.

Deputi Kemenko Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) telah menyurati seluruh kepala daerah untuk mengendalikan harga pangan yang laju inflasinya sudah 10,03 persen Tingginya inflasi pangan disebabkan oleh kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah akibat musim hujan.

Berbagai langkah juga sudah dilakukan dengan meningkatkan ketersediaan dalam jangka pendek, salah satunya dengan menggerakkan masyarakat untuk ikut menanam komoditas pangan pokok. "Selain itu, pemerintah juga berupaya untuk menjaga kelancaran distribusi dengan subsidi ongkos kirim," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Pusat Statistik (@bps_statistics)

  ';

Defend ID Diminta Fokus Garap Bisnis

Defend ID juga sedang menjajaki potensi proyek senilai Rp 15 triliun.

SELENGKAPNYA

Apa Itu Haji Akbar?

Bila wukufnya hari Jumat, pada tahun tersebut adalah haji akbar.

SELENGKAPNYA

Digitalisasi BPRS Diperkuat

Tantangan utama BPRS adalah bertumbuh di tengah persaingan yang semakin ketat.

SELENGKAPNYA
×