Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

01 Jul 2022, 13:25 WIB

Berkurban Atas Nama yang Sudah Wafat

Para ulama berbeda pendapat seputar kebolehan berkurban untuk yang sudah wafat.

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Apakah boleh berkurban atas nama orang tua yang telah meninggal dunia? Saya ingin berkurban atas nama orang tua saya yang telah meninggal. Mereka belum pernah berkurban karena keterbatasan finansial. Mohon penjelasan, Ustaz. -- Wahyu, Bekasi

Wa’alaikumussalam Wr Wb.

Berkurban atas nama orang yang sudah wafat itu dibolehkan dalam mazhab Hanafi dan Hanbali. Misalnya, Aisyah berkurban atas nama ibunya yang sudah wafat. Ia menyampaikan ke panitia kurban dan tercatat satu kambing dengan pekurban ibunya Aisyah. Maka, apa yang dilakukan Aisyah sudah sesuai dengan syariah.

Jika ditelaah penjelasan seputar berkurban untuk yang sudah wafat, sebagiannya tidak menjelaskan dengan tegas apakah yang dibolehkan itu berkurban atas nama almarhum dengan mencatatkan almarhum sebagai pekurban atau tetap berkurban atas nama yang masih hidup, tetapi pahalanya dihadiahkan kepada almarhum.

Hal ini bisa terlihat pada dalil-dalil yang digunakan ahli fikih yang membolehkannya, di mana sebagian dalilnya adalah kebolehan menghadiahkan pahala kepada almarhum. Sehingga, terlihat saru apakah yang dibolehkan itu berkurban dengan mencatatkan nama almarhum atau menghadiahkan pahala untuk almarhum.

Sesungguhnya, para ulama berbeda pendapat seputar kebolehan berkurban untuk yang sudah wafat sebagai berikut. Pendapat pertama, menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, berkurban untuk almarhum itu dibolehkan.

Secara umum, pendapat yang membolehkan berdalil pada: (a) Menganalogikan (ilhaq/qiyas) pada ibadah haji, sedekah, dan wakaf. Jika boleh berwakaf atas nama dan mencantumkan nama almarhum sebagai pewakaf itu dibolehkan, berkurban dengan mencantumkan/atas nama almarhum sebagai pekurban juga dibolehkan. Karena, ketiganya ibadah yang ada unsur taqarrub dan aspek keuangan.

(b) Sebagian ahli fikih berdalil dengan hadis, “Rasulullah SAW berkurban dengan dua kambing gibas dan berdoa, Ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarga, dan umatnya.” (HR Muslim). (c) Sebagian yang lain berdalil dengan kebolehan menghadiahkan pahala atas kebaikan kepada almarhum.

Pendapat kedua, menurut mazhab Maliki, walaupun dibolehkan, berkurban tersebut makruh. Pendapat ketiga, menurut mazhab Syafi’i, berkurban untuk almarhum itu tidak dibolehkan kecuali saat almarhum berwasiat kepada ahli waris agar berkurban untuknya.

 
Juga apakah kurban dapat dianalogikan dengan sedekah dan wakaf atau tidak.
 
 

Sedangkan, sumber perbedaan pendapat tersebut adalah hadis Rasulullah SAW tersebut di atas tentang Rasulullah berkurban untuk diri, keluarga, dan umatnya yang belum berkurban yang belum jelas (sharih) menjelaskan apakah yang dimaksud dengan umatnya itu berkurban atau menghadiahkan pahala kurban. Juga apakah kurban dapat dianalogikan dengan sedekah dan wakaf atau tidak.

Perbedaan pendapat tersebut dilansir dalam Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah (5/106), “... jika almarhum tidak berwasiat, kemudian ahli waris ingin berkurban untuknya dari dananya, maka ada perbedaan pendapat. Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali membolehkan kurban tersebut. Kecuali mazhab Maliki yang berpendapat makruh.

Pendapat yang membolehkan didasarkan bahwa dengan wafat itu tidak menghalangi taqarrub kepada Allah. Dan telah sahih hadis bahwa Rasulullah berkurban dengan dua domba, salah satunya untuk dirinya dan salah satunya untuk umatnya yang belum berkurban .... Berbeda dengan mazhab Syafi’i yang berpendapat bahwa berkurban untuk yang sudah wafat itu tidak dibolehkan kecuali telah berwasiat atau mewakafkan.”

Berkurban untuk dan atas nama orang tua yang sudah wafat itu menjadi aktivitas yang diutamakan karena bagian dari bakti kepada orang tua.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, "Sesungguhnya ibuku meninggal secara mendadak dan saya menduga jika dia sempat berbicara, pasti dia akan bersedekah. Maka, apakah dia mendapat pahala jika saya bersedekah atas namanya?" Jawab beliau, “Ya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam.


Meraih Sukses Berlimpah dengan Falsafah Trisakti Bung Karno

Pemikiran Bung Karno itu akan menyusun kekuatan dan pembangunan bangsa sekaligus membangun karakter rakyat.

SELENGKAPNYA

Tenda Kesehatan di Mina Diperbaiki

Segala persiapan menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina terus dilakukan.

SELENGKAPNYA

Sambutan Check Point Saat Kembali ke Makkah

Selain Shumaisi dan Jumum, masih ada terminal check point lain yang menyortir masuknya jamaah ke Makkah.

SELENGKAPNYA
×