Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Indonesia Joko Widodo berjabat tangan dalam konferensi pers bersama setelah pertemuan mereka di Kremlin di Moskow, Rusia, Kamis, 30 Juni 2022. | AP Photo/Alexander Zemlianichenko, Pool

Kabar Utama

01 Jul 2022, 03:50 WIB

Presiden Jokowi Temui Putin Bawa Pesan Zelenskyy

Jokowi menyampaikan jaminan keamanan dari Presiden Putin untuk ekspor produk pangan.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung menemui Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (30/6) setelah sehari sebelumnya bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Jokowi membawa pesan dari Zelenskyy kepada Putin sebagai upaya menuntaskan misi perdamaian yang dibawa Indonesia untuk dunia.

Seusai bertemu Zelenskyy di Istana Mariinsky, Kiev, Ukraina, Presiden Jokowi kembali menempuh perjalanan dengan Kereta Luar Biasa (KLB) selama 11 jam hingga tiba di Stasiun Przemysl, Polandia, pada Kamis (30/6) pagi. Jokowi dan Ibu Negara Iriana Widodo beserta rombongan kemudian menggunakan pesawat Garuda Indonesia GIA-1 menuju Bandara Vnukovo II di Moskow, Rusia, dan tiba Kamis siang waktu setempat.

Presiden Jokowi dan rombongan delegasi disambut pejabat Federasi Rusia, di antaranya Kepala Protokol Negara Federasi Rusia Igor Viktorovich Bogdashev dan Wakil Menteri Luar Negeri Federasi Rusia Mikhail Bogdanov. Selain itu, tampak pula Duta Besar RI untuk Rusia Jose Antonio Morato Tavares serta Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI Moskow Kolonel Budi Susilo.

Dalam keterangan pers bersama usai pertemuan, Jokowi menyampaikan adanya jaminan keamanan dari Presiden Putin untuk Ukraina agar bisa melanjutkan ekspor produk pangan, terutama melalui jalur laut.

“Saya sangat menghargai Presiden Putin yang tadi menyampaikan bahwa memberikan jaminan keamanan untuk pasokan pangan dan pupuk baik dari Rusia dan juga Ukraina. Ini sebuah berita yang baik,” kata Jokowi saat keterangan pers bersama.

Jokowi pun menyampaikan dukungannya terhadap upaya PBB untuk melakukan reintegrasi komoditi pangan dan pupuk Rusia dan komoditi pangan Ukraina agar bisa masuk kembali dalam rantai pasok dunia.

“Dan khusus untuk jalur ekspor produk pangan Ukraina, terutama melalui jalur laut, tadi sekali lagi Presiden Putin sudah memberikan jaminannya,” kata dia.

Dalam kesempatan ini, Presiden Jokowi pun menekankan bahwa Indonesia tak memiliki kepentingan apapun dalam kunjungannya baik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin maupun Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Indonesia, kata dia, hanya ingin perang dapat segera dihentikan dan rantai pasok pangan serta pupuk, dan energi dapat segera diperbaiki.

“Karena ini menyangkut kehidupan ratusan juta orang, bahkan milyaran manusia,” tambah dia.

Karena itu, Jokowi mengajak seluruh pemimpin dunia untuk bekerja sama kembali menghidupkan semangat multilateralisme, semangat perdamaian, dan semangat kerja sama. “Hanya dengan spirit itulah perdamaian dapat dicapai,” tambah dia.

Keduanya juga berdiskusi panjang mengenai kerja sama antara Rusia dan Indonesia, baik di bidang investasi, perdagangan, maupun pariwisata. Jokowi menyebut, akan segera dibentuk tim dari kedua negara untuk melakukan pembahasan lebih detil terkait peningkatan kerja sama tersebut.

photo
Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dengan Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) selama pertemuan mereka di Kremlin Moskow di Moskow, Rusia, 30 Juni 2022. - (EPA-EFE/MIKHAEL KLIMENTYEV/SPUTNIK/KREMLIN PO)

Sebelumnya, kepada Zelenskyy, Presiden Jokowi menyampaikan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap situasi yang terjadi di Ukraina setelah operasi militer. Ia menegaskan posisi Indonesia mengenai pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah. Meskipun masih sangat sulit dicapai, penyelesaian konflik secara damai harus diwujudkan.

Jokowi mengatakan, semangat perdamaian tidak boleh luntur. “Dalam kaitan ini, saya menawarkan diri untuk membawa pesan dari Presiden Zelenskyy untuk Presiden Putin,” kata dia dalam siaran pers resminya, Kamis (30/6).

Mantan wali kota Solo itu juga menyampaikan pentingnya Ukraina bagi rantai pasok pangan dunia. Menurut dia, semua usaha harus dilakukan agar Ukraina bisa kembali melakukan ekspor bahan pangan.

“Penting bagi semua pihak untuk memberikan jaminan keamanan bagi kelancaran ekspor pangan Ukraina, termasuk melalui pelabuhan laut. Saya mendukung upaya PBB dalam hal ini,” kata Jokowi. 

Undangan KTT G-20

Presiden Jokowi juga kembali menyampaikan undangan secara langsung kepada Zelenskyy untuk berpartisipasi dalam KTT G-20 yang akan diselenggarakan pada November tahun ini di Bali. Jokowi juga menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus memperkokoh kerja sama bilateral dengan Ukraina.

Zelenskyy menyampaikan apresiasinya atas kedatangan Presiden Jokowi ke Ukraina. Menurut dia, itu adalah kunjungan pemimpin negara Asia pertama ke Ukraina sejak invasi melanda Ukraina. Dia mengatakan, kehadirannya di KTT G-20 nanti akan mempertimbangkan beberapa hal.

“Saya berterima kasih, Pak Presiden (Jokowi), atas undangan pribadi Anda untuk saya berpartisipasi dalam KTT G-20. Tentu saja saya menerima undangan ini. Partisipasi Ukraina akan bergantung pada situasi keamanan di Ukraina dan komposisi peserta KTT,” kata Zelenskyy.

Dalam pertemuan kedua kepala negara, mereka juga membahas masalah krisis pangan dan ancaman kelaparan di dunia akibat perang yang terjadi. Zelenskyy mengatakan, dalam pertemuan tersebut keduanya membahas berbagai upaya untuk menghentikan blokade Rusia agar ekspor gandum Ukraina dapat terus berjalan. Dengan dibukanya blokade dari Rusia tersebut, Ukraina dapat mengekspor jutaan ton biji-bijian ke Indonesia.

“Kita membahas mengenai beberapa agenda global di mana kita harus melakukan setiap hal yang memungkinkan untuk mengangkat blokade Rusia di Laut Hitam untuk meneruskan adanya ekspor gandum. Dan Rusia juga mengancam adanya kelaparan di dunia dan mereka memblokade ekspor dari Ukraina dan mendisrupsi pasar global,” ujar Zelenskyy.

photo
Presiden RI Joko Widodo berbincang dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky  dalam pertemuan di Kiev, Ukraina, Rabu (29/6/2022). - (Agus Suparto, Indonesian Presidential Palace )

Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak seluruh pihak di Tanah Air untuk mendukung misi perdamaian yang dibawa oleh Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Ukraina dan Rusia. Menurut Haedar, dukungan tersebut diperlukan sebagai aktualisasi dalam mewujudkan perdamaian dunia yang diamanatkan oleh konstitusi Indonesia, yakni UUD 1945.

“Semua pihak di dalam negeri perlu mendukung sebagai aktualisasi mewujudkan perdamaian dunia yang menjadi amanat konstitusi Indonesia. Semoga memperoleh jalan solusi dan membuka langkah damai menghentikan perang oleh kedua negara,” kata dia.

Lebih lanjut, Haedar menilai misi perdamaian Presiden Jokowi tersebut merupakan hal yang sangat penting karena pihak-pihak yang memiliki posisi strategis, seperti PBB, belum melakukan langkah tegas dan signifikan sebagaimana diharapkan oleh publik dunia.

Padahal, kata dia, diperlukan keberanian untuk mengambil prakarsa mendamaikan Ukraina dan Rusia demi menghadirkan masa depan dunia yang tertib, maju, dan damai tanpa peperangan.

Kemudian, Haedar pun menilai bahwa sebagai negara yang netral, moderat, dan mewakili negara berpenduduk besar, Indonesia memiliki posisi yang cukup bagus untuk membawa misi damai ini.

Di samping itu, tambah dia, posisi Presiden Jokowi sebagai ketua G-20 cukup penting dan bisa dimanfaatkan untuk mendorong Rusia dan Ukraina berdialog mencari solusi damai serta mengakhiri perang.

Muhammadiyah melalui Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Luar Negeri akan mengkaji perkembangan langkah Presiden Joko Widodo dalam mengusahakan perdamaian antara Ukraina dan Rusia. Setelah pengkajian, lanjut dia, Muhammadiyah dapat mengambil peran melalui jalur nonpemerintahan untuk ikut berpartisipasi mendorong kedua negara tersebut mengakhiri perang.

photo
Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Presiden Indonesia Joko Widodo menghadiri konferensi pers bersama setelah pertemuan mereka di Kremlin di Moskow, Rusia, 30 Juni 2022. - (LAILY_RACHEV Biro Pers Sejretariat Presiden)

Pada dasarnya, menurut Haedar, perang antara Rusia dan Ukraina merupakan tragedi politik yang tidak boleh terjadi. Pada era modern yang menjunjung tinggi kedaulatan antarnegara dan tatanan dunia baru yang beradab ini, menurut dia, perang merupakan paradoks sekaligus perusakan terhadap bangunan peradaban dunia yang semestinya damai.

“Persengketaan dan konflik antarnegara sejatinya dapat diselesaikan dengan cara bermartabat dengan melibatkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” kata Haedar.


Sambutan Check Point Saat Kembali ke Makkah

Selain Shumaisi dan Jumum, masih ada terminal check point lain yang menyortir masuknya jamaah ke Makkah.

SELENGKAPNYA

Jangan Ada Lagi Kerusakan di Ukraina

Peperangan Rusia-Ukraina telah menyebabkan ancaman krisis pangan global.

SELENGKAPNYA

Puluhan Paspampres Bersenjata Lengkap Kawal Jokowi di Kiev

Paspampres menyiapkan tim penyelamatan yang biasanya saat kegiatan tertentu tidak diikutsertakan.

SELENGKAPNYA
×