Suasana di lokasi penemuan puluhan imigran yang meningal dunia dalam truk saat mencoba memasuki Amerika Serikat di San Antonio, Texas, Senin (27/6/2022) waktu setempat. | AP Photo/Eric Gay

Internasional

29 Jun 2022, 03:45 WIB

46 Migran Tewas dalam Kontainer di Texas

Sebanyak 46 jasad migran yang tewas ditemukan di dalam sebuah truk kontainer pada Senin di Texas.

SAN ANTONIO -- Sebanyak 46 jasad migran yang tewas ditemukan di dalam sebuah truk kontainer pada Senin (27/6) di San Antonio, Texas, Amerika Serikat (AS). Ini menjadi salah satu insiden penyelundupan manusia paling mematikan di sepanjang perbatasan AS dan Meksiko.

Kepala Polisi San Antonio William McManus, mengatakan, seseorang mendengar teriakan minta tolong dari sebuah truk, sekitar pukul 18.00 waktu setempat, Senin. Ia kaget karena menemukan pemandangan yang mengerikan di dalam truk. Beberapa jam kemudian, tubuh-tubuh dalam kantong jenazah berjejer di tanah dekat truk kontainer.

McManus mengatakan, ini adalah insiden terbesar yang terjadi di San Antonio. Dia mengatakan, tiga orang ditahan setelah insiden itu, namun keterlibatan mereka belum diketahui.

Sementara menurut Walikota San Antonio Ron Nirenberg, 46 orang yang tewas itu tentu memiliki keluarga yang berupaya mencari hidup lebih baik. "Tidak diragukan lagi, ini tragedi kemanusiaan yang mengerikan," katanya.

photo
Suasana di lokasi penemuan puluhan imigran yang meningal dunia dalam truk saat mencoba memasuki Amerika Serikat di San Antonio, Texas, Senin (27/6/2022) waktu setempat. - (AP Photo/Eric Gay)

Seorang pejabat Departemen Pemadam Kebakaran San Antonio mengatakan, tidak ada tanda-tanda air di dalam truk. Suhu di San Antonio, yang berjarak sekitar 250 km dari perbatasan Meksiko, meningkat hingga mencapai 39,4 derajat Celcius pada Senin (27/6) dengan kelembaban tinggi.

Enam belas orang lain yang ditemukan di dalam trailer diangkut ke rumah sakit karena serangan panas dan kelelahan, termasuk empat anak di bawah umur. Namun, anak-anak dilaporkan dalam keadaan selamat.

"Pasien yang kami temui terasa panas saat disentuh, mereka menderita serangan panas, kelelahan. Itu adalah traktor-trailer berpendingin tetapi tidak ada unit AC yang berfungsi di kontainer itu," kata Kepala Pemadam Kebakaran San Antonio Charles Hood dalam konferensi pers. 

Seorang juru bicara Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) mengatakan bahwa, divisi Investigasi Keamanan Dalam Negeri sedang menyelidiki dugaan penyelundupan manusia. Penemuan puluhan jasad ini menyoroti tantangan dalam mengendalikan penyeberangan migran di perbatasan AS-Meksiko yang telah mencapai rekor tertinggi. 

Masalah penyelundupan menjadi tantangan bagi pemerintahan Presiden AS Joe Biden. Ia pernah berjanji untuk membalikkan beberapa kebijakan imigrasi garis keras dari pendahulunya, mantan presiden Donald Trump. 

Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard menyebut penemuan jasad para migran di dalam kontainer sebagai "tragedi di Texas". Dia mengatakan, pejabat konsuler akan pergi ke rumah sakit untuk membantu para korban.

Mantan pejabat senior unit investigasi ICE, Jack Staton, menyatakan, jalan raya I-35 di dekat tempat truk itu ditemukan, merupakan koridor penyelundupan yang populer. Alasannya, volume lalu lintas truk di lokasi itu memang terhitung besar.

Ini menjadi tragedi paling mematikan dalam selama beberapa dekade terakhir tentang upaya penyelundupan manusia dari Meksiko ke AS. Pada 2017, 10 orang meninggal terperangkap dalam truk yang diparkir depan pasar swalayan di San Antonio. Pada 2003, 19 migran ditemukan tewas dalam truk di San Antonio.

photo
Suasana di lokasi penemuan puluhan imigran yang meningal dunia dalam truk saat mencoba memasuki Amerika Serikat di San Antonio, Texas, Senin (27/6/2022) waktu setempat. - (AP Photo/Eric Gay)

Pada Juli 2017, 10 migran juga tewas dalam traktor-trailer yang ditemukan oleh polisi San Antonio di tempat parkir pasar swalayan.  Pengemudi truk, James Matthew Bradley Jr dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena perannya dalam operasi penyelundupan. Staton mengatakan, sejak insiden 2017, petugas melakukan patroli pencegatan rutin di perbatasan. 

"Hanya masalah waktu hingga tragedi seperti ini akan terjadi lagi," kata Staton.  

Tragedi di Maroko

Sementara, sekitar 2.000 migran Afrika, kebanyakan asal Sudan, mencoba menyeberangi perbatasan Maroko-Spanyol di Melilla pada Jumat (24/6) pekan lalu. Mereka kemudian diadang pasukan keamanan Spanyol dan Maroko yang melakukan aksi represif. Tindakan kekerasan menyebabkan 23 migran tewas. Sementara organisasi Walking Borders mengklaim, sedikitnya 37 orang meninggal dalam kejadian tersebut.

Pada Ahad lalu, Asosiasi Hak Asasi Manusia Maroko (AMDH) menerbitkan sebuah gambar yang menunjukkan pihak berwenang dari negara Afrika Utara itu menggali sekitar 20 kuburan. AMDH memprediksi kuburan itu dimaksudkan untuk para migran yang meninggal dalam kekacauan di perbatasan.

photo
Polisi antihuru-hara berupaya menghalangi imigran yang tiba di Spangyol melalui Melilla via Maroko, Jumat (24/6/2022). - (Javier Bernardo/AP)

Sejumlah organisasi nonpemerintah telah merilis pernyataan bersama menuntut penyelidikan atas kejadian tersebut. AMDH pun secara khusus memohon agar jenazah para migran tak dikubur tanpa penyelidikan.

Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez tak mengomentari tentang tewasnya puluhan migran di perbatasan negaranya dengan Maroko. Dia justru mengapresiasi kerja sama kedua negara di perbatasan. Menurutnya, upaya migrasi massal itu “diselesaikan dengan baik”. 

Ketua Komisi Uni Afrika Moussa Faki Mahamat menyampaikan keprihatinan atas tewasnya puluhan migran Afrika itu. Dia menyerukan agar peristiwa itu segera diselidiki.

"Saya mengungkapkan keterkejutan serta keprihatinan saya yang mendalam atas perlakuan kejam dan merendahkan terhadap para migran Afrika yang berusaha melintasi perbatasan internasional dari Maroko ke Spanyol, dengan kekerasan berikutnya yang menyebabkan kematian sedikitnya 23 orang dan melukai lebih banyak lagi," kata Mahamat lewat akun Twitter resminya, Ahad (26/6), dikutip Anadolu Agency.

Menurut dia, kejadian itu tidak bisa dibiarkan berlalu begitu saja. “Saya menyerukan penyelidikan segera atas masalah ini dan mengingatkan semua negara tentang kewajiban mereka di bawah hukum internasional untuk memperlakukan semua migran dengan bermartabat serta memprioritaskan keselamatan dan hak asasi mereka, sambil menahan diri dari penggunaan kekuatan yang berlebihan,” tulisnya. ';

×