ILUSTRASI. Ibu menyusui anak. | republika

Fikih Muslimah

26 Jun 2022, 09:35 WIB

Bank ASI, Bagaimana Pandangan Fikih?

Manfaat dari ASI yang lebih sedikit itu tidak tampak jika dibandingkan dengan ASI yang lebih banyak.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Keberadaan bank air susu ibu (ASI) di negara-negara Barat membawa dampak kepada pemikiran dalam hal yang sama di negara-negara Muslim. Lantas, bagaimana pandangan fikih terhadap bank ASI? 

Endy Astiwara dalam buku Fikih Kedokteran Kontemporer menjelaskan bahwa sebelum membahas mengenai persusuan dari sudut pandang hukum Islam, perlu diklasifikasikan terlebih dahulu kriteria bayi-bayi yang membutuhkan ASI. 

Pertama, bayi prematur. Semakin bayi dilahirkan kurang dari sembilan bulan maka semakin dia membutuhkan ASI. Hal itu menjadi dasar dalam fikih sebagaimana yang disimpulkan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib tatkala seorang perempuan melahirkan setelah enam bulan perkawinan. Sayidina Ali membela perempuan tersebut bukan bagian dari pezina, sehingga para fukaha bersepakat bahwa persalinan yang dapat melahirkan bayi hidup adalah minimal kehamilan enam bulan.

photo
Seorang pengunjung mal usai menyusui bayinya di ruang menyusui khusus atau mother room. - (republika)

Kedua, bayi yang bobot tubuhnya kurang meskipun dia telah genap berusia sembilan bulan dalam kandungan. Dan ketiga, infeksi akut maupun kronis yang menyerang bayi sehingga membuatnya sangat membutuhkan ASI. Sebab, ASI mengandung banyak antibodi dalam kadar yang sesuai kebutuhan bayi. 

Untuk itu perlu dipahami bahwa yang menjadi pokok pembicaraan adalah definisi radha'ah (persusuan) yang menimbulkan hubungan saudara sepersusuan yang bisa timbul akibat adanya bank ASI. Pada gilirannya itu akan menjadikan mahram yang dilarang untuk melakukan pernikahan di antara mereka. 

Namun demikian, Ibnu Qudamah berpendapat dengan merujuk sebuah hadis, "Laa radhaa'a illa maa ansyaral-azhma wa anbatallahma." Yang artinya, "Tidak ada persusuan kecuali persusuan yang bisa menegakkan tulang dan menumbuhkan daging."

Hadis itu menjadi argumen untuk menjelaskan bahwa tidak semua persusuan dapat menimbulkan kemahraman. Sebab, pemberian ASI yang berimplikasi kemahraman adalah yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan fisik bayi.

 
Pemberian ASI yang berimplikasi kemahraman adalah yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan fisik bayi.
 
 

Hadis itu menafikan pemberian ASI dalam kadar yang sedikit dan yang tidak berpengaruh pada pembentukan fisik, seperti satu atau dua isapan. Sebab, pemberian ASI seperti itu tidak mengakibatkan pertumbuhan gigi dan tulang. 

Masalah berikutnya adalah tentang kadar atau jumlah susu yang menimbulkan kemahraman serta tentang percampuran ASI dari ibu-ibu susu yang berbeda. Majelis ulama mengasumsikan bahwa seandainya dapat diterima pendapat mayoritas ulama yang tidak mensyaratkan persusuan langsung dan isapan, sebab ada faktor lain yang mengakibatkan kemahraman.

Faktor tersebut yakni tidak diketahui perempuan mana yang menyusui seorang bayi; kemudian ukuran air susu yang diberikan hingga jumlah air susu yang setara dengan lima kali susuan yang mengenyangkan seperti apa? 

Apakah ASI campuran dari beberapa orang ibu susu memiliki hukum yang sama dengan ASI yang bersumber dari seorang ibu susu? Abu Yusuf berpendapat, merujuk riwayat dari Abu Hanifah, bahwa jika ASI seorang perempuan dicampur dengan ASI perempuan lain, hukumnya milik ASI yang lebih banyak. Sebab, manfaat dari ASI yang lebih sedikit itu tidak tampak jika dibandingkan dengan ASI yang lebih banyak. 

Akan tetapi, kesulitan berikutnya adalah kasus yang meragukan bahwa dalam hal ini tidak diketahui ASI perempuan mana yang lebih banyak. Di sisi lain, ulama dari mazhab Hanafiyah menyebutkan bahwa seandainya ada seorang perempuan di suatu desa yang menyusui seorang bayi (tanpa bisa diketahui siapa orang tuanya) maka semua perempuan di desa tersebut tidak menjadi mahram si anak yang disusui. 

Sebab, keraguan dalam kasus ini tidak berdampak. Atas dasar itulah, Yusuf Qaradhawi berpendapat bahwa selama masalah ini masih mengandung keraguan maka tidak bisa ditetapkan kemahraman. Sedangkan, al-Allamah Ibnu Qudamah menjelaskan, apabila terjadi keraguan tentang adanya persusuan atau kadar persusuan yang mengakibatkan kemahraman, apakah ia telah sempurna atau tidak, maka hal itu tidak mengakibatkan kemahraman.

Karena menurut ketentuan awalnya, kemahraman itu tidak ada. Hukum awal ini tidak hilang dengan adanya keraguan. Seperti halnya seseorang ragu tentang adanya cerai dan jumlah kalimat cerai yang ia ucapkan. 

Sedangkan, menurut Qaradhawi, orientasi yang lebih kuat dalam masalah persusuan adalah mempersempit kemahraman, sama seperti mempersempit jatuhnya cerai. Meskipun ada banyak ulama yang memperluas dalam kedua masalah tersebut. 


Kongres Bahasa Indonesia Pertama yang Bikin Gempar

Soerabaiasch Handelsblad menyebut Kongres Bahasa Indonesia sebagai demonstrasi radikalisme.

SELENGKAPNYA

Peta Dunia Karya Monumental Al-Idrisi

Dalam membuat peta dunia, sang ilmuwan Muslim didukung Raja Roger II.

SELENGKAPNYA

Al-Idrisi Sang Perintis Peta Dunia

Muhammad al-Idrisi membuat peta dunia pertama yang begitu informatif yang sudah selesai dikerjakan pada 1154.

SELENGKAPNYA
×