Warga yang bermasker antre untuk tes antigen Covid-19, di Beijing, Ahad (19/6/2022). | AP/Andy Wong

Tajuk

23 Jun 2022, 03:34 WIB

Alarm Kewaspadaan

Kenaikan kasus positif mingguan Covid-19 ini harus menjadi alarm yang mesti diwaspadai.

Kenaikan kasus positif Covid-19 di sejumlah wilayah kembali menguat. Tren kenaikan tersebut mesti disikapi dengan tetap menjaga protokol kesehatan dalam keseharian masyarakat.

Pada Rabu (22/6), ada 1.985 kasus Covid-19 di Indonesia. Jumlah kasus positif yang mendekati angka 2.000 ini menjadikan total kasus Covid-19 sejak Maret 2020 hingga Rabu kemarin menjadi 6.072.918 kasus. DKI Jakarta berkontribusi terbanyak dengan 1.226 kasus. Diikuti Jawa Barat 292 kasus positif Covid. Berikutnya adalah Banten dengan 214 kasus.

Kecenderungan peningkatan jumlah kasus ini menunjukkan sejatinya penularan virus Covid-19 dengan beragam variannya masih terjadi di masyarakat kita. Pandemi Covid-19 masih belum sepenuhnya usai.

Ikhtiar kewaspadaan kemungkinan penularan di komunitas-komunitas masyarakat tetap disiagakan. Semua pihak mesti terlibat dalam mencegah secara dini potensi penyebaran ini. Salah satu prokes yang mesti dijalankan adalah penggunaan masker di ruang terbuka maupun tertutup. Penggunaan masker di saat keramaian massa dapat meminimalisasi kemungkinan tertular virus.

 
Ikhtiar kewaspadaan kemungkinan penularan di komunitas-komunitas masyarakat tetap disiagakan. 
 
 

Pemberian vaksinasi dosis lengkap termasuk booster mesti digiatkan kembali. Para pihak yang berkaitan dengan program vaksinasi, semisal bupati dan gubernur di daerah, kembali menggenjot program vaksinasi booster. Apalagi, vaksinasi booster untuk anak-anak menjadi relevan kini mengingat rencana penerapan pembelajaran tatap muka 100 persen pada tahun ajaran baru.

Selanjutnya yang tetap diperhatikan adalah testing dan tracing penderita Covid-19. Tingkat tes Covid-19 menjadi penting sebagai data awal dalam mencegah penularan virus lebih luas dan masif.

Dengan mengetahui bahwa seseorang positif Covid-19, isolasi mandiri atau karantina agar tak ada penularan Covid harus dilakukan. Kemudian dengan mengetahui seseorang positif Covid-19, bisa dilakukan pelacakan siapa saja yang berinteraksi dengannya. Informasi awal ini bisa menjadi ikhtiar mencegah penularan virus lebih luas.

Saat menghadiri Pertemuan Menteri Kesehatan G-20 (the 1st G20 Health Ministers Meeting) di Yogyakarta, Senin (21/6), Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan semua pihak agar tak menganggap pandemi Covid-19 telah usai.

Kendati jumlah kematian lantaran Covid-19 mengalami penurunan hingga 90 persen dibandingkan kasus pada awal 2022, masih ada 40 persen warga bumi yang belum divaksin. Mereka menjadi pihak yang rentan tertular maupun pembawa virus. Dimungkinkan pula terjadinya mutasi virus sehingga terbentuk varian baru.

 
Banyak negara yang telah melonggarkan aturan prokes sehingga seolah-olah kondisi saat ini telah kembali seperti sebelum ada pandemi Covid.
 
 

Apalagi, banyak negara yang telah melonggarkan aturan prokes sehingga seolah-olah kondisi saat ini telah kembali seperti sebelum ada pandemi Covid. Atas kondisi ini, jika kemudian dibangun persepsi bahwa pandemi telah berakhir, kata Tedros, bisa menyesatkan.

Tingkat tes Covid-19 di banyak negara yang rendah bisa membutakan perhatian pada kemungkinan evolusi virus. Tingkat tes Covid-19 di banyak negara yang rendah bisa membutakan perhatian pada kemungkinan evolusi sang virus. Ketidakpedulian pada ancaman penularan dan kepanikan ketika terjadi ledakan kasus pun bisa kembali terulang.

Khusus untuk kasus di Indonesia, enam hari berturut-turut kasus positif tercatat di angka 1.000 kasus. Kenaikan kasus positif mingguan ini harus menjadi alarm yang mesti diwaspadai. Bandingkan dengan jumlah kasus di bawah angka 1.000 selama dua bulan terakhir, tentu kondisi saat ini harus diwaspadai. Meskipun jumlah kasus tersebut tak sebanding dengan total penduduk Indonesia yang 270 juta jiwa.

 
Khusus untuk kasus di Indonesia, enam hari berturut-turut kasus positif tercatat di angka 1.000 kasus. 
 
 

Akan tetapi, standar prosedur yang mesti dilakukan ketika kasus positif dan kasus aktif naik, yang perlu dijaga adalah persentase kesembuhan yang harus tinggi. Demikian pula dengan menekan jumlah kematian akibat Covid. Jika yang terjadi sebaliknya, alarm kewaspadaan mesti dibunyikan lebih kencang lagi.

Penyesuaian kebijakan dalam pelaksanaan kegiatan berskala besar yang dituangkan dalam Surat Edaran Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nomor 22 Tahun 2022 patut dilaksanakan. Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan harus memenuhi protokol kesehatan. Setidaknya ada tiga poin penting.

Pertama, setiap kegiatan harus memenuhi ketentuan kapasitas sesuai level kota/kabupaten yang diatur dalam Inmendagri. Kedua, tim pengawas prokes harus disediakan penyelenggara kegiatan. Ketiga, sarana dan prasarana fasilitas pemeriksaan suhu tubuh dan mengaktifkan aplikasi PeduliLindungi.

Pada ujungnya, disiplin pada implementasi prokes menjadi kata kunci pencegahan dini penularan Covid-19. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan semua elemen masyarakat mesti diingatkan kembali.

Pemulihan kesehatan dan perekonomian nasional yang mulai membaik dengan penurunan kasus Covid harus dipertahankan. Sudah cukup kondisi krisis dampak dari pandemi yang menyengsarakan. Mari alarm kewaspadaan kita lantangkan kembali.


Vaksinasi Ternak Lambat, PMK Meluas

Baru 1.571 ekor ternak yang telah divaksinasi PMK dalam kurun sepekan.

SELENGKAPNYA

Jejak Perjuangan di Jalan Tuty Alawiyah

Pemberian nama dianggap bahwa ada pejuang hebat dari tanah Betawi.

SELENGKAPNYA
×