Pengendara melintas di Jalan Warung Buncit Raya, Jakarta, Selasa (21/6/2022). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan perubahan 22 nama jalan di Jakarta dengan nama toko Betawi, salah satunya Jalan Warung Buncit Raya menjadi Jalan Hj Tutty Alawiyah | Republika/Thoudy Badai

Kabar Utama

22 Jun 2022, 03:50 WIB

Jejak Perjuangan di Jalan Tuty Alawiyah

Pemberian nama dianggap bahwa ada pejuang hebat dari tanah Betawi.

OLEH ZAINUR MAHSIR RAMADHAN

Syifa Fauzia ingat betul hari-hari ketika Tuty Alawiyah memperjuangkan peningkatan kualitas Muslimah dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya. Bahkan, Syifa tak pernah lupa ketika sang ibu melanjutkan perjuangan itu hingga menjabat sebagai menteri Negara Pemberdayaan Perempuan era Presiden Soeharto dan BJ Habibie.

“Ibu kami adalah sosok yang dimiliki tidak hanya bagi kami keluarga, tapi juga masyarakat. Beliau mempunyai tekad kuat sedari masih muda untuk meningkatkan kualitas perempuan,” kata Syifa kepada Republika, Selasa (21/6).

Pemprov DKI Jakarta telah resmi mengganti Jalan Warung Buncit di Jakarta Selatan menjadi Jalan Tuty Alawiyah. Bersamaan dengan itu, ada 21 nama jalan lain yang diganti dengan nama-nama tokoh Betawi.

Penggantian nama itu diharapkan dapat membuat perjuangan para tokoh Betawi dikenang dan menjadi hikmah bagi para penerusnya. Para tokoh itu telah menyimpan banyak inspirasi untuk disebarkan ke generasi selanjutnya.

Semasa hidup, cerita Syifa, peranan almarhumah Tuty sangat luas dalam mengeluarkan potensi Muslimah di Indonesia. Contohnya saat ia mendirikan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) demi melanjutkan perjuangan ayahnya, Abdullah Syafi’ie.

“Beliau sangat cinta keluarga, sangat memegang teguh amanah yang diberikan oleh ayahnya dalam melanjutkan perjuangan, terutama di Assyafi’iyah,” tuturnya.

photo
Presiden ke-3 RI BJ Habibie menyalami Rektor Universitas Islam As-Syafiiyah, Tuty Alawiyah saat open house 1 Syawal 1434 H di kediamannya di Jalan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (8/8/2012). - (Republika/Agung Supriyanto)
 

Meski kini sang ibu telah tiada, Syifa berharap perjuangan dan ilmu yang disebarkan ibunya bisa memotivasi puan-puan lainnya. Syifa mengaku senang saat nama ibunya yang wafat pada 2016 diabadikan menjadi nama jalan di Jakarta bersama 21 tokoh Betawi lainnya.

Penamaan itu, kata dia, diharapkan bisa mengingatkan generasi selanjutnya pada perjuangan Tuty dan meneruskannya. “Meskipun beliau telah wafat, tapi kiprah, perjuangan, dan ilmunya masih sangat bisa memotivasi dan menginspirasi perempuan. Beliau menginginkan agar perempuan dapat berdaya, berilmu, berwawasan, dan bermanfaat,” ungkapnya.

Dalam pesan ibunya, kata Syifa, perempuan kelak harus bisa mengeluarkan pendapat dan potensinya bagi masyarakat luas. Dia juga berpesan agar perempuan-perempuan bisa mencetak generasi penerus keluarga yang lebih baik. “Itulah salah satu pesan yang beliau sering utarakan,” tuturnya.

Syifa mengapresiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memberi nama jalan sesuai dengan nama ibundanya. Menurut dia, itu merupakan penghormatan kepada salah satu tokoh dan ulama Betawi yang dikenal masyarakat luas.

photo
Pengendara melintas di Jalan Warung Buncit Raya, Jakarta, Selasa (21/6/2022). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan perubahan 22 nama jalan di Jakarta dengan nama toko Betawi, salah satunya Jalan Warung Buncit Raya menjadi Jalan Hj Tutty Alawiyah. - (Republika/Thoudy Badai)

Sejarawan Betawi Ridwan Saidi mengatakan, pemberian nama jalan sesuai nama-nama tokoh Betawi merupakan hal baik yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Sebab, bukan hanya warga Betawi, pemberian nama itu juga bisa mengumumkan kepada masyarakat Indonesia bahwa ada pejuang hebat dari tanah Betawi.

“Tuty Alawiyah itu pejuang hebat soal perempuan. Bukan cuma menyuarakan ke warga, tapi juga di DPR,” kata Ridwan yang biasa disapa Babe.

Ketika ditanya tentang peran Tuty semasa hidup, Babe menyebut almarhumah sangat berperan dalam mencerdaskan Muslimah. Dia berharap ada tokoh-tokoh Betawi lainnya yang mencontoh semangat Tuty Alawiyah.

Meski demikian, Babe juga menyoroti nama-nama tokoh besar Betawi lainnya dalam deretan 22 nama yang dijadikan nama jalan. Menurut dia, nama Mualim Teko dan Syekh Junaid Al Batawi juga perlu mendapatkan sorotan khalayak banyak terlepas dari semua nama yang diresmikan.

photo
Syekh Junaid Al Batawi, orang Indonesia pertama yang menjadi imam di masjidil Haram, Makkah. - (istimewa)

Dengan adanya penamaan jalan menggunakan nama tokoh Betawi itu, dirinya berharap ada identitas sosial yang tumbuh di khalayak luas. Jika terjadi, katanya, itu nantinya bisa memberikan kesadaran sejarah sendiri tanpa ada kesalahan redaksi.

“Dengan adanya nama-nama jalan baru itu, semoga orang mengenal dan mempelajari yang dilakukan nantinya sesuai perjuangan tokoh Betawi pada masanya,” ujar Babe.

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan baru saja meresmikan 22 nama baru untuk jalanan di wilayah Jakarta menggunakan nama tokoh-tokoh Betawi. Menurut dia, penamaan jalan menggunakan nama tokoh tersebut merupakan penghormatan terhadap pribadi tokoh Betawi.

“Dari Betawi dilahirkan begitu banyak pribadi yang hidupnya mereka berikan untuk kemajuan, untuk kesejahteraan, untuk keadilan. Karena itulah, penamaan ini kami pandang sebagai sebuah keharusan bagi kita. Sebagai penghargaan, penghormatan atas peran pribadi asal Betawi,” kata Anies.

photo
Kendaraan melintasi Jalan H Bokir Bin Djiun yang baru diresmikan menggantikan nama sebelumnya Jalan Raya Pondok Gede ruas Jalan Raya Bogor - Tamini di Jakarta, Selasa (21/6/12022). - (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Menurut dia, saat ini memang baru 22 nama jalan yang diganti. Anies pun menjanjikan gelombang nama tokoh Betawi lainnya untuk dikenang dengan menjadi nama jalan-jalan Jakarta. Berikut di antara para tokoh yang diabadikan sebagai nama jalan-jalan di Jakarta.

Mualim Teko

Bernama asli Laid Abu Nasr Bin Ibrohim Assamarkhandi, beliau adalah salah satu pembawa Islam ke Tanah Betawi. Ajarannya bertahan dalam dua kitab yang ditulis pada abad ke-10. Ia diperkirakan wafat pada 938 Masehi. Namanya menggantikan nama Jalan depan Taman Wisata Alam Muara Angke, Jakarta Utara.

Syekh Junaid al-Batawi

Sejak awal abad ke-19, banyak ulama dari Nusantara yang menduduki posisi penting di Tanah Suci. Sementara ulama asal Pekojan ini merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi imam besar Masjidil Haram di Makkah. Beliau wafat pada 1840. Namanya diabadikan menggantikan Jalan Lingkar Luar Barat (dari Pasar Cengkareng ke arah Kamal) di Jakarta Barat.

Guru Ma'mun

Nama asli Guru Ma'mun adalah Abdurrazak bin Ma'mun. Beliau adalah ulama sekaligus intelektual Betawi yang lahir pada 1916. Bersama sejumlah ualam lainnya, Guru Ma'mun merupakan sentra intelektualitas Islam di Jakarta pada masanya. Namanya menggantikan Jalan Lingkar Luar Barat (dari Pasar Cengkareng ke arah Kamal), Jakarta Barat.

Entong Gendut

Tokoh ini merupakan syuhada yang gugur saat melawan kesewenang-wenangan kolinial belanda di Jakarta. Pada 1916, menurut sejarawan Ridwan Saidi, ia memimpin mpemberontakan melawan Belanda yang menjual secara sepihak sejumlahtanah di Condet, tempat kelahirannya, pada pra pemodal. Ia kemudian gugur ditembak pasukan belanda. Namanya menggantikan nama Jalan Bekasi Timur Raya, Jakarta Timur.

Haji Darip

Haji Darip adalah putra asli Betawi yang lahir pada tahun 1886. Selain dikenal sebagai mubaligh, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Begitu sekutu mendarat seleaps proklamasi kemerdekaan, ia memutuskan untuk turut angkat senjata mempertahankan kemerdekaan. Namanya menggantikannama Jalan Bekasi Timur Raya, Jakarta Timur.

Mpok Nori

Nuri Sarinuri alias Mpok Nori lahir di Jakarta, 10 Agustus 1930, dikenal sebagai pelawak dan pemeran Indonesia. Ia dalah salah satu komedian asal Betawi yang tergolong legendaris dengan aksen yang khas. Ia meninggal dunia pada usia 84 tahun di tahun 2015. Mpok Nori mengganti nama Jalan Raya Bambu Apus, Jakarta Timur.

Haji Bokir bin Dji'un

Beliau adalah seorang aktor dan seniman "Topeng Betawi" legendaris. Ia juga malang melintang di layar kaca dan layar lebar sebagai aktor film-film komedi. Namanya mentereng dalam serial teater komedi Betawi Pepesan Kosong. Namanya pengganti Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur.

Raden Ismail Djajaningrat

Raden Ismail juga merupakan salah satu aktor asal Betawi yang legendaris. Pada 1922 ia mulai terjun ke dunia sandiwara. Sebagai aktor, ia melanglang buana ke seantero Asia Tenggara. Salah satu perannya yang terkenal adalah dalam film Matjan Kemajoran (1965). Namanya pengganti Jalan Buntu, Jakarta Pusat.

Rama Ratujaya

Ia adalah seorang guru Tarekat yang memimpin pemberontakan Tambun pada 1869. Saat itu, para petani dipimpin guru-guru Tarekat Sufi melakukan pemberontakan melawan Belanda sepanjang 1859-1926. Rama Ratujaya syahid dalam pemberontakan tersebut. Namanya pengganti nama Jalan BKT Sisi Barat, Jakarta Timur.

Hj Tuty Alawiyah

Ulama perempuan ini mencatatkan berbagai prestasi. Sebagai ulama, ia berandil besar memelopori gerakan majelis taklim perempuan. Ia juga sempat menjabat sebagai menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia periode 1998-1999. Namanya menggantikan Jalan Warung Buncit Raya di Jakarta Selatan tempat gedung Republika berlokasi. Semasa hidup, Tuty Alawiyah tergolong kerap diwawancarai media tersebut.

Rohim Sa'ih

Rohim Sa'ih pernah menyediakan lahan untuk disewakan guna pembuatan Perkampungan Budaya Betawi yang sekarang dikenal dengan nama Zona Embrio di Jakarta Selatan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Bantaran Setu Babakan Barat, Jakarta Selatan.

KH Ahmad Suhaimi

Adalah seorang ulama dan tokoh masyarakat yang dikenal sebagai penggagas berdirinya Masjid Raya Baitul Ma’mur. Ia juga mendirikan sejumlah masjid di sekitar Kelurahan Srengseng. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Bantaran Setu Babakan Timur, Jakarta Selatan.

Mahbub Djunaidi

Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh pers nasional. ia telah berkecimpung sejak masa Orde Lama hingga Orde Baru. Mahbub, dikenal sebagai tokoh pers yang dekat dengan Bung Karno. Hal itu disebabkan, Presiden pertama RI itu sangat mengagumi tulisan-tulisannya. Namanya menggantikan nama Jalan Srikaya di Jakarta Pusat.

Guru Amin

KH Raden Muhammad Amin atau dikenal dengan Guru Amin Kalibata lahir pada 3 Juni 1901 di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ia memimpin para santri dan pemuda dalam pertempuran melawan Belanda di Kalibata selepas proklamasi. Namanya menggantikan Jalan Raya Pasar Minggu sisi Utara, Jakarta Selatan

A Hamid Arief

Yang bersangkutan adalah seorang aktor Indonesia yang aktif pada era tahun 1950-1980-an. Ia dikenal sering memerankan tokoh antagonis dalam banyak film. Salah satunya sebagai Adolf Wilhelm Verbond Hinne, musuh bebuyutan Si Pitung. Namanya menggantikan Jalan Tanah Tinggi 1 gang 5 di Jakarta Pusat.

H Imam Sapi’ie

Bang Pi'ie, panggilan akrabnya sebelum merdeka merupakan jagoan di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Namanya juga menggantikan Jalan Senen Raya. Ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan, Bang Pi'ie mengumpulkan para jawara dalam pasukan khusus. Pada 1966, oleh Presiden Sukarno dia dilantik sebagai Menteri Keamanan Nasional dalam Kabinet Dwikora.

Abdullah Ali

Adalah seorang bankir ulung asal Betawi. Karier sebagai bankir dia mulai sebagai kader Bank Tabungan Negara pada 1947. Setelah itu ia beralih ke Bank Indonesia dan akhirnya Bank Central Asia. Abdullah Ali wafat pada 2005. Namanya menggantikan Jalan SMP 76 di Jakarta Pusat.

M Mashabi

M Mashabi adalah salah satu penyanyi gambus paling terkenal di Jakarta sepanjang dekadi 1950-an hingga 1960-an. Ia terkenal dengan lagunya, "Ratapan Anak Tiri". Orkes Melayu dan musik gambus pada saat itulah cikal bakal musik dangdut. Namanya menggantikan Jalan Kebon Kacang Raya Sisi Utara, Jakarta Pusat.

HM Saleh Ishak

HM Saleh Ishak merupakan putra asli Betawi dan pahlawan kemerdekaan. Ia ikut berjuang melawan Belanda pada tahun 1945-1950-an. Namanya ditetapkan sebagai nama jalan Kebon Kacang Raya sisi Selatan, Jakarta Pusat.

Tino Sidin

Nama seniman kelahiran Kota Tebing Tinggi, Sumatra Utara itu harum berkat acara "Gemar Menggambar" yang disiarkan di stasiun TVRI setiap Ahad sore di periode 1980-an hingga 1990-an. Namanya menggantikan Jalan Cikini VII di Jakarta Pusat.

Kiai Mursalin

Beliau merupakan ahli main pukul alias silat sekaligus ulama di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.

Habib Ali bin Ahmad

Beliau adalah ulama dan mubaligh yang pertama kali menyebarkan Islam di Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Panggang dan sekitarnya. Namanya dijadikan sebagai nama jalan di Pulau Panggang.


Presiden: Segera Kendalikan Harga Bahan Pokok

Mendag menargetkan dapat menyelesaikan persoalan minyak goreng dalam waktu satu bulan.

SELENGKAPNYA

WHO Tegaskan Pandemi Belum Usai 

Negara anggota G-20 telah merintis adanya dana perantara keuangan atau financial intermediary fund (FIF) untuk mengantisipasi pandemi pada masa mendatang.

SELENGKAPNYA

Aneka Trik Berhemat Bensin di Seluruh Dunia

Harga bensin dan solar meroket, yang dipicu perang Rusia di Ukraina dan pandemi Covid-19

SELENGKAPNYA
×