Jamaah haji melindungi diri dari terik dengan payung saat berwujuf di Arafah pada 2021 lalu. | AP/Amr Nabil

Kabar Tanah Suci

22 Jun 2022, 03:50 WIB

Jamaah dan Panasnya Jazirah

Dehidrasi juga menjadi kondisi yang harus diwaspadai jamaah.

OLEH A SYALABY ICHSAN dari Madinah, Arab Saudi

Bakda Isya berjamaah, di kamar 307, Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah, Ahad (19/6), kami melenggang keluar untuk membeli perlengkapan mandi dan dapur. Di dekat kantor yang berada di wilayah Al-Mashani, ada dua toko yang menjual barang-barang produk Indonesia.

Pengunjung tak hanya bisa membeli perlengkapan bermerek Lifeboy atau Indofood. Ikan asin dan sambal kemasan pun tersedia. 

Hanya saja, malam di Madinah memang tak sesejuk di Jakarta. Keluar dari gedung ber-AC, kami harus berhadapan dengan suhu sekitar 40 derajat Celcius. Perjalanan ke toko yang sebenarnya hanya berjarak 200 meter terasa lama. Wajah kami memerah bak berada di dekat pemanas setrika. Belum lagi jika siang tiba. Panas yang mencapai 45 derajat membuat kami merasa terpanggang. 

Beberapa kali saya menyempatkan diri untuk berjalan sendiri ke Masjid Nabawi. Jika dihitung, waktu tempuh perjalanan untuk sampai ke masjid mencapai 20 menit jalan kaki. 

Saya sengaja mengambil waktu sore untuk menghindari teriknya matahari siang. Hanya, trik itu pun tak berguna karena panasnya udara seakan tak mengenal waktu. Sepengalaman saya, kami bisa merasakan udara agak sejuk selepas tengah malam hingga sebelum Subuh. 

 
Saya sengaja mengambil waktu sore untuk menghindari teriknya matahari siang. Hanya, trik itu pun tak berguna karena panasnya udara seakan tak mengenal waktu. 
 
 

Saat melihat berita, bebarapa negara Timur Tengah  mencatat suhu tertinggi di dunia pada Sabtu (18/6). Kota-kota di Irak, Kuwait dan Oman menduduki puncak daftar kota terpanas dengan suhu berkisar 49 hingga 50,4 derajat Celcius. Suhu tertinggi tercatat di Amarah, Irak. Beruntung, panasnya Madinah yang saat itu mencapai suhu rata-rata 40 derajat belum seganas negeri-negeri tetangga. 

Jazirah Arab, tempat Kerajaan Arab Saudi berdiri, memang termasuk jazirah terbesar di muka bumi. Jazirah ini dikelilingi lautan dari tiga sudutnya. Meski demikian, iklim laut tidak dapat meredakan teriknya panas di daratan. Laut pun tak bisa menjadi pelembab ketandusannya. 

Sejarawan Arab ternama, Jawwad Ali menulis jika uap air yang naik dari laut tidak mencapai bagian tengah kawasan Arab. Sebab, posisi laut lebih rendah dari daratannya.  Angin samum (angin berhawa sangat panas) pun bertemu dengan kondisi lembab yang datang dari laut secara bersamaan.

Terciptalah benturan cuaca yang dapat mengalahkan salah satunya. Angin samum yang berembus kuat menjadikan iklim lembab terkalahkan. Alhasil, tingginya kelembaban tidak mampir ke bagian tengah Jazirah Arab.

Musim panas di Arab Saudi memang lebih panjang dengan suhu rata-rata berkisar sekitar 40 derajat Celcius. Meski demikian, suhu udara di Saudi saat artikel ini ditulis diprediksi belum mencapai klimaks. Puncak panas Saudi diprediksi mencapai 50 derajat. 

 
Sejarawan Arab ternama, Jawwad Ali menulis jika uap air yang naik dari laut tidak mencapai bagian tengah kawasan Arab. Sebab, posisi laut lebih rendah dari daratannya. 
 
 

Beberapa narasumber berkata, itu adalah suhu saat jamaah berada di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) untuk melakukan ibadah haji — semoga hanya menjadi prediksi. Informasi itu sudah kami dapatkan saat masih berada di Jakarta. 

Sebelum keberangkatan jamaah haji gelombang pertama, kami memenuhi ruang informasi dengan literasi bagi jamaah agar waspada terhadap teriknya udara di Tanah Suci. Selain membawa air minum, para jamaah diimbau untuk membawa semprotan wajah dan penutup kepala. 

Mereka juga diminta untuk secara rutin mengonsumsi air zamzam, kurma dan buah. Selain minum air putih, jamaah pun bisa mengonsumsi oralit sebagai pengganti mineral yang hilang. 

Dehidrasi juga menjadi kondisi yang harus diwaspadai jamaah. Bahayanya, kondisi itu kerap tidak terasa meski tubuh mereka sudah darurat cairan. Tingginya suhu disertai kelembaban yang rendah membuat dehidrasi rawan muncul.

Hal ini ditandai oleh tubuh yang kerap beraktivitas di luar ruangan tetapi tak keluar keringat. Hal tersebut menyebabkan jamaah haji sering tak merasa kehausan padahal mereka dalam kondisi dehidrasi.

 
Dehidrasi juga menjadi kondisi yang harus diwaspadai jamaah. Bahayanya, kondisi itu kerap tidak terasa meski tubuh mereka sudah darurat cairan.
 
 

Di Madinah, sudah ada korban jiwa untuk kasus dehidrasi pada Rabu (15/6) lalu. Jamaah asal Embarkasi Jakarta-Bekasi atas nama Hasbullah biin Burhan (58 tahun), diketahui sempat mengalami dehidrasi. Almarhum mendapatkan penanganan dari Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit setempat. 

Jamaah yang mempunyai penyakit bawaan yakni diabetes dan hipertensi pun dinyatakan wafat setelah mendapatkan setengah jam penanganan. Bagi jamaah lansia dan risiko tinggi (risti) yang sedang menunggu puncak haji, janganlah terlalu memaksakan diri untuk beribadah di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. 

Jamaah bisa menggelar sajadah di kamar masing-masing dengan niat utama demi keselamatan jiwa. Insya Allah, ibadah jamaah di hotel — yang masih termasuk dalam tanah haram — juga terhitung mulia di sisi Allah SWT.  

Jangan sampai semangat menggebu jamaah membuat kondisi menjadi lemah saat dalam masa penantian. Ingatlah risiko sakitnya badan sehingga tidak berdaya saat kawan serombongan tengah khusyuk berwukuf di Padang Arafah.


Wira-wiri Petugas di Bir Ali

Jamaah laki-laki siap dengan dua lembar kain ihram masing-masing.

SELENGKAPNYA

Mantan Pemberontak Jadi Presiden Kolombia

Kemenangan Petro menandai rakyat Kolombia yang ingin perubahan.

SELENGKAPNYA

Satu Abad NU, Momentum Kebangkitan Baru

Ada sembilan klaster program utama yang sudah disiapkan PBNU untuk menyambut satu abad usia NU.

SELENGKAPNYA
×