Sejumlah pekerja melakukan perawatan sumur Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memprediksi Indonesian Crude Price (ICP) masih a | ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.

Ekonomi

20 Jun 2022, 14:13 WIB

Pertamina Hemat Rp 32,8 Triliun pada 2021

Pertamina menerapkan program optimalisasi biaya di seluruh Pertamina Group yang meliputi penghematan biaya.

JAKARTA — PT Pertamina (Persero) berhasil mengefisiensikan biaya operasional perusahaan pada tahun lalu senilai 2,21 miliar dolar AS atau Rp 32,8 triliun (kurs Rp 14.380 per dolar AS). Pertamina menerapkan program optimalisasi biaya di seluruh Pertamina Group yang meliputi penghematan biaya (cost saving), penghindaran biaya (cost avoidance), dan peningkatan pendapatan.

Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini mengatakan, Pertamina juga menjalankan program lindung nilai (hedging) untuk manajemen risiko pasar seiring upaya penghematan biaya. “Cost saving mencapai 1,36 miliar dolar AS, penghindaran biaya sebesar 356 juta dolar AS dan tambahan pendapatan 495 juta dolar AS," kata Emma, Ahad (19/6).

Selain itu, Pertamina juga melakukan sentralisasi pengadaan, prioritas belanja modal, serta manajemen aset dan liabilitas untuk menurunkan biaya atau beban bunga (cost of fund). “Kami berupaya mengoptimalkan seluruh biaya serta mengelola aspek finansial perusahaan agar dapat menekan biaya, termasuk memprioritaskan proyek-proyek yang memiliki hasil cepat,” kata Emma menambahkan.

photo
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (kanan) memaparkan laporan kinerja Pertamina dalam kegiatan Gathering Pimpinan Redaksi Media bersama Direksi Pertamina di Gedung Grha Pertamina, Jakarta, Rabu (8/6/2022). Dalam pertemuan tersebut membahas tentang aktivitas terkini bisnis Pertamina. Republika/Thoudy Badai - (Republika/Thoudy Badai)

Emma menyampaikan, Pertamina juga menerapkan strategi operasional dalam rangka meningkatkan pendapatan yang sebagian besar dijalankan anak usahanya, yakni enam subholding. Keenam subholding tersebut adalah upstream subholding, refining & petrochemical subholding, commercial & trading subholding, gas subholding, power & NRE subholding, serta integrated marine logistics subholding.

Di bisnis hulu, Emma mengatakan, Pertamina terus meningkatkan produksi dan lifting minyak serta gas bumi (migas) untuk memanfaatkan momentum naiknya harga minyak. Hasilnya, produksi migas naik empat persen dan lifting tiga persen.

Emma menyebutkan, kinerja positif dari operasional hulu tersebut disumbangkan dari Blok Rokan dan aset luar negeri. Termasuk upaya konsisten menjaga tingkat produksi melalui pengeboran sumur dan penemuan sumber daya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Pertamina (Persero) (pertamina)

Sepanjang tahun lalu, Pertamina telah melakukan pengeboran 12 sumur eksplorasi dan 350 sumur eksploitasi. Pada tahun yang sama, temuan cadangan (2C) telah mencapai 486,70 million barrels of oil equivalent (mmboe) dan tambahan cadangan terbukti (P1) mencapai 623,47 MMBOE.

Emma menambahkan, Pertamina menerapkan strategi optimasi crude and product di pengolahan dan petrokimia tercatat pada tahun lalu. Hal ini telah berkontribusi pada peningkatan yield of value produk sekitar tiga persen.

“Strategi tersebut terkait dengan pemilihan dan substitusi ekonomis minyak mentah dan memaksimalkan high valuable products dengan high spreads. Di sisi lain, produksi kilang juga meningkat sebagai respons atas permintaan energi yang lebih tinggi akibat pemulihan ekonomi nasional,” kata Emma.

Selanjutnya, Pertamina mengoptimalkan load factor untuk meraih pendapatan dan efisiensi biaya di lini transportasi dan logistik. Di sisi bisnis gas, Pertamina juga meningkatkan volume perdagangan dan transportasi gas serta volume transportasi minyak.

“Dan setelah legal end state, kami juga mengintensifkan resource sharing, seperti sharing fasilitas dan sharing development agreement khususnya di upstream subholding,” kata Emma.


×