Massa yang tergabung dalam Front Persaudaraan Islam bersama Persaudaraan Alumni 212 melakukan aksi memprotes penhinaan terhadap Nabi Muhammad SAW di depan Kantor Kedutaan Besar India, Jakarta, Jumat (17/6/2022). A | Republika/Thoudy Badai

Tajuk

20 Jun 2022, 03:45 WIB

Meneguhkan Toleransi

Penghinaan terhadap Nabi telah memantik protes, baik dari Muslim India maupun dunia.

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW oleh dua politikus partai berkuasa India, Bharatiya Janata Party (BJP) menegaskan kembali pentingnya toleransi. Saling menghormati keragaman keyakinan sehingga mencegah ketegangan hubungan masyarakat di dunia.

Penghinaan terhadap Nabi, telah memantik protes, baik dari Muslim India maupun dunia. Pernyataan pemerintah sejumlah negara juga menunjukkan pentingnya sensitivitas persoalan ini. Apalagi, disampaikan politisi partai berkuasa.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam pertemuan khusus menteri luar negeri ASEAN-India di New Delhi, Kamis (16/6), juga menekankan pentingnya toleransi pada masyarakat multikultural yang ada sekarang ini.

Menlu Retno menyampaikan pula kepada Menlu India Subrahmanyam Jaishankar, keprihatinan dan kecaman terhadap pernyataan dua politikus BJP, yang menghina Nabi Muhammad. Pada kesempatan sama, Jaishankar memberikan respons.

 
Penghinaan terhadap Nabi, telah memantik protes, baik dari Muslim India maupun dunia.
 
 

Menlu India menyatakan, pernyataan dua politikus itu tidak mewakili sama sekali sikap BJP dan Pemerintah India. Kita tahu, BJP memang memberhentikan dua politikus penghina Nabi itu dari jabatannya dan menonaktifkan mereka dari partai.

Pemerintah India menegaskan pula, pernyataan yang dilontarkan politisi BJP bukanlah sikap pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi. Namun, kasus penghinaan Nabi alangkah baiknya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintahan Modi.

Ada sensitivitas atas kasus ini dan berupaya mengantisipasinya agar tak terjadi di kesempatan lain. Ini bisa dilihat pula dari serangkaian peristiwa yang dialami Muslim di India sebelum dan selepas kasus penghinaan Nabi Muhammad.

Ini menuntut perubahan sikap signifikan Pemerintah India dan bakal membuktikan keseriusan menegakkan toleransi di tengah keragaman keyakinan.

 
Ada sensitivitas atas kasus ini dan berupaya mengantisipasinya agar tak terjadi di kesempatan lain. 
 
 

Dalam pertemuan menlu ASEAN-India, dilaporkan pula isu penghinaan terhadap Nabi Muhammad, yang diangkat sejumlah negara. Isu ini dinilai persoalan sensitif dan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan menyatakan hal tersebut dibahas dalam pertemuan informal.

Baginya, kasus di India merupakan pengingat, mengapa kita semua harus begitu hati-hati dan menolak keras ujaran kebencian, ujaran yang memicu penghinaan terhadap pihak lain, dan menimbulkan perpecahan di masyarakat.  

Maka itu, Balakrishnan mengungkapkan, dalam persoalan seperti ini Singapura melakukan pendekatan ketat. Kita berharap, masyarakat global semakin menyadari krusialnya  toleransi di tengah kenyataan adanya keberagaman keyakinan.

Tentu menjadi tindakan kontraproduktif dan melahirkan kegaduhan jika ada pihak yang mengabaikan penghormatan dan toleran terhadap pihak lainnya. Dialog antariman dan bentuk dialog lainnya selama ini memang telah dilakukan.

 
Tentu menjadi tindakan kontraproduktif dan melahirkan kegaduhan jika ada pihak yang mengabaikan penghormatan dan toleran terhadap pihak lainnya.
 
 

Ini dilakukan oleh pimpinan agama dan masyarakat, baik secara bilateral maupun multilateral. Namun, masih saja insiden yang mencederai toleransi dan melahirkan perpecahan. Jadi, memang butuh kerja keras lagi untuk terus menyemai dialog.

Dengan begitu, ada pemahaman lebih baik di antara masyarakat dunia yang beragam. Butuh kesadaran pula, memicu ujaran kebencian dan penghinaan, tak akan membuahkan keuntungan. Sebaliknya, berpotensi untuk melahirkan siklus kebencian dan penghinaan tak henti.

Sudah saatnya, dunia yang kini sarat persoalan dari wabah dan pandemi hingga konflik bersenjata, tak ditambah dengan kerumitan akibat mengabaikan sikap toleransi. Semoga, dunia yang damai tak menjadi angan belaka.


Harmonis Berkat Keterbukaan Finansial

Idealnya tiap pasangan suami istri menerapkan transparansi finansial.

SELENGKAPNYA

Jakarta pada Masa Perang Dunia II

Ketika PD II Belanda banyak menangkap warga Jerman di Indonesia dan ‘dibuang’ ke Pulau Onrust di Kepulauan Seribu.

SELENGKAPNYA

Tumpang Tindih di Indo-Pasifik

Stabilitas ekonomi dan keamanan di Indo-Pasifik memang saling terkait, sehingga terkesan tumpang tindih.

SELENGKAPNYA
×