Alwi Shahab | Daan Yahya/Republika

Jakarta

Jakarta pada Masa Perang Dunia II

Ketika PD II Belanda banyak menangkap warga Jerman di Indonesia dan ‘dibuang’ ke Pulau Onrust di Kepulauan Seribu.

OLEH ALWI SHAHAB

Usia saya tiga tahun saat Nazi pimpinan Adolf Hitler menyerang Polandia pada 1 September 1939 sekaligus menandakan pecahnya Perang Dunia II. Bukan main dahsyatnya perang yang menelan korban jiwa 30 juta orang tewas ini.

Belum lagi, korban tak langsung yang jumlahnya lebih banyak lagi. Semoga saja perang semacam ini tidak pernah terjadi lagi. Apalagi, persenjataan sekarang ini kekuatannya ratusan kali dibandingkan PD II, tak terbayang dampaknya.

Ketika PD II Belanda banyak menangkap warga Jerman di Indonesia dan ‘dibuang’ ke Pulau Onrust di Kepulauan Seribu. Pasalnya, Jerman menjadi musuh Belanda, kemudian menduduki Belanda pada Mei 1940. Warga Jerman di Jakarta saat itu adalah penduduk asing terbesar di Indonesia setelah Belanda.

Tapi, begitu Jepang yang merupakan sekutu Jerman menduduki Indonesia pada 8 Maret 1942, gantian tentara Jepang yang menawan orang Belanda. Di Jakarta, warga Belanda yang sebelumnya menjadi ‘tuan’ di negeri jajahan, berbalik menjadi tawanan perang.

Mereka ditempatkan di kamp-kamp tawanan yang disebut internir yang banyak disediakan Jepang. Sampai 1960-an, orang-orang tua kerap menceritakan kehidupan sebelum penjajahan Jepang. Mereka menyebutnya ‘zaman normal’ karena hidup lebih enak. Sementara, pada masa penjajahan Jepang, kehidupan serbasulit.

 

 
Ketika PD II Belanda banyak menangkap warga Jerman di Indonesia dan ‘dibuang’ ke Pulau Onrust di Kepulauan Seribu. 
 
 

 

Kelaparan terjadi di mana-mana karena logistik, bahan pangan semuanya didahulukan untuk kepentingan bala tentara Jepang. Di jalan-jalan tidak aneh dan tidak heran bila kita menemukan mayat tergeletak di pinggir jalan yang meninggal akibat kelaparan. Banyak rakyat menderita busung lapar. Banyak yang tidak mempunyai pakaian sehingga menggunakan tikar atau karung goni. Yang paling ditakuti adalah Kenpeitai (polisi militer) Jepang yang kejam.

Di Jakarta, markas besar Kenpeitai saat itu terletak di Monas depan Museum Nasional yang sebelumnya merupakan markas polisi Belanda. Bila warga melewati markas militer  Jepang, harus turun dari sepeda dan menunduk memberi hormat. Kalau tidak, mereka akan menempeleng sambil menghardik dengan ucapan bakayaro yang berarti bodoh (kebanyakan orang Indonesia mendengarnya ‘bagero’).

Yang paling mengenaskan adalah ratusan ribu rakyat harus menjalani kerja paksa, di kirim ke tempat yang jauh, seperti Birma (kini Myanmar) dan Siam (Thailand), untuk membangun instalasi perang. Mereka disebut romusha, rakyat yang diperbantukan untuk tentara. Pada 1951, pemerintah memperkirakan jumlah romusha mencapai 4,1 juta orang, kebanyakan dari Jawa. Dari Jakarta saja, sekitar 8.000 orang dipaksa menjadi romusha.

 

 
Kelaparan terjadi di mana-mana karena logistik, bahan pangan semuanya didahulukan untuk kepentingan bala tentara Jepang. 
 
 

 

Tidak terkira banyaknya romusha yang mati karena kelaparan dan hilang tanpa diketahui rimbanya. Sayangnya, hampir tidak ada eks romusha yang menuliskan pengalamannya. Korban perang lain yang terkenal pula adalah pemuas nafsu atau istilahnya dalam bahasa Jepang jugun ianfu, jumlahnya lebih dari 100 ribu orang.

Berlainan dengan romusha, mereka yang kini sudah nenek-nenek dan rata-rata berusia di atas 70 tahun, banyak di antara mereka berani angkat bicara dan menuntut ganti rugi pada Pemerintah Jepang. Pada masa Bung Karno, Jepang membayar ‘pampasan perang’, antara lain, dananya digunakan untuk membangun Hotel Indonesia dan Sarinah.

Perang Dunia II berakhir pada 15 Agustus 1945 setelah Jepang menyerah pada AS dengan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Dua hari kemudian, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI di Jalan Proklamasi 56, Jakarta. Meskipun kemerdekaan ini tidak diakui Belanda dan baru diakui setelah penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949. Selama hampir lima tahun kemerdekaan, terjadi revolusi fisik yang menelan banyak korban jiwa.

Disadur dari Harian Republika edisi 21 Februari 2013. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020.

Tugas Berat Dua Menteri

Persoalan minyak goreng dan lahan di IKN menjadi titipan Presiden untuk diselesaikan menteri baru.

SELENGKAPNYA

Penguatan Mitigasi Bencana

Penanggulangan bencana harus dikelola dengan baik karena mendorong keberhasilan tanggap darurat.

SELENGKAPNYA

Rezeki Pardian, Tempati Hotel ‘Wah’ ala Sultan

Akses hotel jamaah ke Masjid Nabawi langsung menghadap ke Raudhah.

SELENGKAPNYA