Kiswanti pemilik perpustakaan warabal berkeliling naik sepeda. | republika

Uswah

19 Jun 2022, 04:34 WIB

Jihad Literasi dari Mantan ART

Cita-cita Kiswanti dalam mendirikan perpustakaan gratis terus ia pupuk hari demi hari.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Indonesia memiliki indeks yang rendah dalam bidang literasi. Maka, tak heran, memiliki hobi membaca buku menjadi hal yang langka, terutama pada era 1970-an.

Namun, bagi Kiswanti (55 tahun), semangat membaca tak pernah padam sejak pertama ia mengenal dunia bacaan. Pada masa kecil pada 1970-an, Kiswanti bukanlah seseorang yang berasal dari kalangan keluarga ekonomi kelas atas. Ayahnya hanya tukang becak, sementara ibunya hanyalah seorang penjual jamu keliling di Bantul.

Pada usia lima tahun, Kiswanti kecil kala itu kerap mengganggu pembuatan jamu ibunda sehingga sang ayah mencoba mengalihkan perhatiannya ke hal lain. "Saat itu almarhum ayah saya menggunting huruf-huruf kapital dari koran. Dari sanalah lambat laun saya mulai bisa membaca," kata Kiswanti saat dihubungi Republika, Selasa (7/6).

Karena minimnya ekonomi, Kiswanti pun tidak bisa bersekolah meski ia sangat menginginkan dirinya menempuh pendidikan di bangku sekolah. Minatnya terhadap dunia literasi itulah yang membuat Kiswanti kecil kala itu secara diam-diam mengintip aktivitas belajar-mengajar yang ada di sekolah SD di dekat rumahnya.

Kiswanti bercerita bahwa kala itu ia sangat menikmati setiap tulisan yang ditulis oleh para guru di papan tulis yang ia intip dari dinding sekolah berbahan baku rotan bambu. Dia juga kerap membisiki teman sebayanya jawaban-jawaban yang ditanyakan oleh guru di depan kelas. Aktivitas itulah yang pada akhirnya membuat Kiswanti ketahuan oleh pihak sekolah.

 
Akhirnya guru-guru itu memberi tahu orang tua saya dan tidak lama saya diperkenankan masuk ikut sekolah meski tidak terdaftar.
 
 

"Akhirnya guru-guru itu memberi tahu orang tua saya dan tidak lama saya diperkenankan masuk ikut sekolah meski tidak terdaftar. Akhirnya saya tidak bisa naik kelas karena tidak terdaftar dan tidak bayar SPP juga," kata Kiswanti mengenang.

Pada masa itu, ada salah satu orang guru yang mengucapkan kata-kata yang cukup membekas baginya. Bahwa apabila dirinya miskin, lebih baik tidak perlu sekolah. Meski demikian, semangat Kiswanti menempuh pendidikan tak padam dengan dibuktikan sejumlah prestasi yang diraihnya.

Dari sanalah kemudian ada salah seorang guru yang begitu baik dengannya bersedia menanggung SPP dengan syarat dirinya harus membantu-bantu di perpustakaan. Bak gayung bersambut, kesempatan itu langsung diterima Kiswanti dengan tangan terbuka. Modal itulah yang membuatnya dapat menamatkan pendidikan SD.

photo
Perpustakaan keliling ; Kiswanti pemilik perpustakaan warabal berkeliling naik sepeda ; - (republika)

Singkat cerita, keterbatasan ekonomi membuat Kiswanti tak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, ia tetap membaca buku-buku yang dibelikan sang ayah dari hasil menarik becak. Tak heran, Kiswanti dapat mengikuti sejumlah pelajaran yang diajarkan di bangku SMP dan SMA meski tidak bersekolah.

"Ketika teman-teman sebaya saya sudah berkuliah, saya mulai bersurat dengan salah satu kawan yang merantau di Jakarta," ujar dia.

Berkat aktivitas surat-menyurat itu, takdir ternyata membawa Kiswanti pergi merantau ke Jakarta. Kawan yang biasa bersurat dengannya menawarkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga (ART) di rumah pasangan Filipina dan Belanda di bilangan Menteng. Kiswanti pun menerima dan mulai bekerja.

"Saya minta waktu itu jangan digaji dengan uang, saya minta digaji dengan buku," ujar dia.

 
Saya minta waktu itu jangan digaji dengan uang, saya minta digaji dengan buku.
 
 

Bukan sekadar taman baca

Perjalanan getir yang dirasakan Kiswanti untuk mendapatkan buku dan mengakses ilmu pengetahuan rasanya tak ingin ia saksikan menjadi pengalaman banyak anak di Indonesia. Cita-citanya dalam mendirikan perpustakaan gratis terus ia pupuk hari demi hari.

Seusai menikah pada 1993, Kiswanti dan suami pindah ke wilayah Lebak Wangi, Parung. Di wilayah tersebut, dia mendapati kondisi sosial yang mengejutkan. Di mana masih banyak kaum perempuan yang berpakaian kurang senonoh serta anak-anak yang kerap mengucapkan kata-kata kasar.

Hal itu menjadi kegelisahan Kiswanti yang sebisa mungkin coba ia carikan solusi. Dia memahami bahwa untuk melakukan perubahan kepada lingkup sosial yang ada di sekitarnya, ia perlu untuk memahami dan mengenal lebih jauh masyarakat dan dunia sosial.

photo
Kiswanti pemilik perpustakaan warabal berkeliling naik sepeda ; - (republika)

Dari sanalah Kiswanti mulai berbaur kepada warga, mengikuti berbagai majelis taklim, mengajak anak-anak untuk bermain, hingga membantu-bantu warga apabila terdapat acara sosial atau sekadar menyiapkan upacara pemakaman.

"Barulah begitu saya mengenal seperti apa warganya, pada 1997 saya dirikan taman baca yang saya beri nama Taman Baca Lebak Wangi (Warabal)," kata dia.

Aktivitas literasi yang dilakukan Kiswanti bukan hanya berfokus pada meminjamkan buku. Lebih dari itu, Kiswanti berupaya menggerakkan beragam elemen usia dalam sebuah pergerakan yang positif. Mulai dari membuat taman kanak-kanak hingga mendirikan majelis taklim.

 
Nah, di majelis taklim itu kaum ibu selain membaca Alquran, maka kita ada aktivitas membaca terjemahannya juga.
 
 

"Nah, di majelis taklim itu kaum ibu selain membaca Alquran, maka kita ada aktivitas membaca terjemahannya juga. Jadi, biar tahu maknanya Alquran, bukan hanya membaca. Di sini kami juga dampingi dengan ustaz yang paham dengan ilmu tafsir," kata Kiswanti.

Tak sampai di sana, gerakan melalui Taman Baca Warabal ini pun mencoba hadir memecahkan permasalahan sosial, misalnya, dengan mencoba memutus rantai utang para warga dari jeratan rentenir. Melalui majelis taklim, Kiswanti mulai menggerakkan gerakan rajin menabung yang pada kemudian hari berubah menjadi koperasi simpan pinjam yang dapat memberdayakan warga.

Dia percaya bahwa dengan terbukanya informasi dan pendidikan melalui literasi, permasalahan-permasalahan sosial dapat dipecahkan dengan cara-cara yang baik. Kini, Taman Baca Warabal memiliki 23 orang relawan dan 15.875 eksemplar buku dengan anggota taman baca sebanyak 800 orang.

photo
Cita-cita Kiswanti dalam mendirikan perpustakaan gratis terus ia pupuk hari demi hari. Jihad literasi Kiswanti yang mantan ART. - (DOK Pribadi)

PROFIL

Nama lengkap: Kiswanti

Tempat, tanggal, lahir: 4 Desember 1967

Riwayat pendidikan: SD

Riwayat aktivitas: Pendiri Taman Baca Warabal

Prestasi: 2007 menerima Darmin Award, 2008 menerima Nugra Jasa Darma Pustakaloka Perpusnas,

2009 menjadi Pengabdi Budaya Baca Kemendikbud, 2009 Tupperware She Can, 2009 Kartini Award dari Ani Bambang Yudhoyono, 2010 meraih TBM Kreatif Kemendikbud, 2012 Apresiasi Peduli Pendidikan Kemendikbud, 2015 meraih Pertamina Award


Metafisika Kehidupan

Hidup dan mati umat Bani Adam di muka bumi menembus wilayah metafisika.

SELENGKAPNYA

Amal Tersembunyi

Bagaimana dengan kita? Adakah amalan tersembunyi yang cukup hanya diri dan Allah yang tahu?

SELENGKAPNYA

Jokowi Penentu Pemimpin 2024

Jokowi menginginkan kontinuitas program yang tak bergantung pada figur semata.

SELENGKAPNYA
×