Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

17 Jun 2022, 18:41 WIB

Bolehkah Securities Crowdfunding Syariah?

Bolehkah bertransaksi dengan platform securities crowdfunding syariah?

 

 

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalaamu'alaikum Wr Wb.

Ustaz, baru-baru ini saya mendengar ada sebuah platform securities crowdfunding (SCF) syariah yang menawarkan modal untuk UMKM. Apakah diperbolehkan bertransaksi dengan platform tersebut? Mohon penjelasan, Ustaz! -- Hilman-Sukabumi

Wa'alaikumussalam Wr Wb.

Hal ini dimulai dengan keinginan penyedia platform untuk menghubungkan pemilik modal dan pengelola usaha, di mana ada pengelola usaha yang membutuhkan modal dan pemilik dana yang butuh agar dananya ditempatkan untuk usaha tertentu, maka fasilitator menyediakan platform yang menghubungkan dua kebutuhan tersebut.

Sehingga, sebuah usaha mendapatkan hasil urun dana investasi dari banyak pihak yang difasilitasi oleh penyedia platform. Kerja sama segitiga ini persis seperti sukuk dan saham.

Begitu pula karena usaha yang dibiayai oleh para investor ini adalah usaha UMKM dan bukan perusahaan terbuka, SCF ini kemudian berkembang. Kegiatan ini juga akan menghidupkan sektor riil dan para UMKM yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat pada umumnya sebagaimana hadis Rasulullah SAW.

Sa’ad RA menyangka, dirinya memiliki kelebihan atas orang lain yang di bawahnya. Maka Nabi SAW bersabda, “Tidaklah kalian ditolong dan diberikan rezeki kecuali dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian.” (HR al-Bukhari)

Dari sisi keutamaan, aktivitas yang dikelola oleh SCF dan ekosistemnya ini memiliki keutamaan, antara lain, akad syirkah yang dibangun dengan kontribusi para investor yang dikelola oleh penerbit atas kontribusi SCF sebagai fasilitator.

Dalam bahasa perjanjian, disebut akad syirkah yang dikategorikan sebagai akad yang diberkahi. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, "Ada tiga hal yang mengandung berkah, yakni jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah) ... ” (HR Ibnu Majah)

Di antara batasan-batasan syariah yang harus dipenuhi dalam transaksi bisnis SCF adalah sebagai berikut. (1) Usaha yang dikelola oleh penerbit (pihak pengelola dan membutuhkan investor) tersebut harus halal dan tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Pada tataran praktik, khususnya di securities crowdfunding syariah, jika yang ditawarkan oleh penerbit itu adalah saham di mana para investor akan menyertakan dananya dalam bentuk saham, maka usaha yang dikelola itu harus sesuai syariah. Begitu pula jika efek yang ditawarkan itu berbentuk sukuk, harus ada underlying asset yang melandasi penerbitan sukuk tersebut dan underlying asset-nya harus halal.

(2) Dari sisi perjanjian (hak dan kewajiban) yang bisa dipilah menjadi dua. (a) Saat para investor (pemilik dana) menempatkan dana, baik dalam bentuk saham atau sukuk, maka seluruh pemodal tersebut adalah pemilik (owner) dari perusahaan yang dikelola oleh penerbit.

Dalam bahasa perjanjian (akad), mereka adalah para syarik dalam akad syirkah Musahamah dan berlaku seluruh ketentuan akad syirkah dari sisi hak dan kewajiban, di mana para pemilik modal itu berhak mendapatkan dividen. Begitu pula saat ada kerugian, mereka semua ikut menanggung kerugian tersebut sesuai porsi kepemilikan modal masing-masing.

(b) Investasi tersebut berhasil dilakukan karena kontribusi SCF, maka ia mendapatkan fee atas jasanya yang berhasil mendapatkan para investor, mengelola portofolio, dan jasa lainnya dengan akad wakalah bil ujrah dan wakalah bil istitsmar. Penjelasan di atas sebagaimana Fatwa DSN-MUI Nomor 140/DSN-MUI/VllI/2021 tentang Penawaran Efek Syariah Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah (Islamic Securities Crowdfunding).

(3) Kontribusi sosial. Dengan adanya syariah ini, membuka banyak pintu keberkahan, seperti zakat perusahaan, zakat pegawai, wakaf sukuk, dan wakaf saham. Zakat dan wakaf tersebut tidak bisa dilakukan saat portofolionya itu konvensional.

Misalnya, zakat perusahaan bank syariah itu nilainya 2,5 persen dari laba perusahaan, zakat sukuk di mana setiap dana yang diberikan dalam bentuk wakaf itu harus dijadikan aset produktif dan dikelola dalam portofolio yang sesuai syariah dengan risiko terkendali, dan sukuk SCF itu memenuhi risiko terkendali sehingga laik menjadi tempat investasi wakaf.

Wallahu a'lam.


Petugas Perempuan Disiagakan di Area Tawaf

Saat umrah wajib, jumlah jamaah dibatasi sehingga tidak begitu padat.

SELENGKAPNYA

Ar-Rubayyi Berjuang dengan Pena dan Pedang

Sahabiyah yang aktif dalam jihad dan ilmu agama.

SELENGKAPNYA

Memimpin dengan Teladan

Keteladanan adalah fondasi dan keteladanan pemimpin adalah nyawa organisasi.

SELENGKAPNYA
×