Foto mikroskopiklansiran Central Disease Control (CDC) Amerika Serikat yang menunjukkna virion cacar monyet. | Cynthia S. Goldsmith, Russell Regner/CDC via

Internasional

16 Jun 2022, 03:45 WIB

WHO Siap Kaji Status Cacar Monyet

Vaksin untuk cacar biasa diperkirakan efektif 85 persen terhadap cacar monyet.

JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan menggelar sidang komite darurat pada 23 Juni untuk membahas wabah cacar monyet. Para ahli WHO akan memutuskan apakah wabah cacar monyet akan mendapat status darurat untuk tingkat internasional dengan label Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Meski status PHEIC dibahas komite darurat, namun keputusan akhir ada di tangan direktur jenderal (dirjen) WHO. Status ini adalah peringatan tertinggi yang dikeluarkan WHO. Kini status PHEIC hanya berlaku untuk Covid-19 dan polio. Pada 2014, status itu diberikan pada Ebola.

Pada Selasa (14/6), Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, WHO harus bertindak cepat karena virus penyebab cacar monyet berprilaku tidak seperti biasa. Saat ini lebih banyak negara yang terdampak. Ia menekankan pentingnya koordinasi internasional.

Cacar monyet menjadi endemi di sejumlah wilayah Afrika. Namun, kasus kian bertambah di luar wilayah tersebut hanya dalam hitungan bulan. Virus penyebab cacar monyet ini menimbulkan gejala seperti flu dan lesi pada kulit. Penularan penyakit terjadi melalui kontak dekat.

"Kami tidak ingin menunggu sampai situasi menjadi tidak terkendali," kata Direktur Kedaruratan WHO untuk Afrika, Ibrahima Socé Fall.

Sejak beberapa pekan lalu, para ahli telah mendesak WHO untuk segera bertindak. Sebelumnya WHO juga dikritik lamban saat menanggapi awal pandemi Covid-19. Penetapan  WHO bahwa sebuah wabah berstatus darurat kesehatan global dapat membantu percepatan riset dan pendanaan untuk menangani penyakit.

Saat ini lebih dari 1.600 kasus cacar monyet sudah ditemukan di 39 negara non-endemik. WHO pun mencatat terdapat hampir 1.500 kasus yang dicurigai.

Menurut WHO, cacar monyet dinyatakan fatal pada 3 hingga 6 persen kasus. Kematian dilaporkan terjadi di Afrika, dengan jumlah terbanyak di Kongo. Sejauh ini, sebanyak 72 kematian sudah dilaporkan.

Namun, tidak satu pun dari kasus kematian terjadi di negara yang baru terkena dampak penyebaran. Saat ini kasus cacar monyet dilaporkan ada di Inggris, Kanada, Italia, Polandia, Spanyol, dan Amerika Serikat.

photo
Petugas menggunakan mesin thermal scanner untuk memantau suhu tubuh penumpang dari Kuala Lumpur yang telah mendarat di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Jumat (17/5/2019). Bandara Husein Sastranegara mulai memasang alat thermal scanner di pintu kedatangan penumpang internasional guna memantau penumpang dari Singapura dan Malaysia yang berpotensi terjangkit virus cacar monyet (monkeypox). - (ANTARA FOTO)

WHO kini menyiapkan mekanisme berbagi vaksin cacar monyet di lebih dari 30 negara di luar Afrika. Menurut Tedros, mekanisme ini akan siap dalam hitungan pekan. Namun, rencana ini dikritik para ahli karena memungkinkan negara kaya mendapat vaksin meski mereka mampu membeli sendiri.

Vaksin untuk cacar biasa diperkirakan efektif 85 persen terhadap cacar monyet. Direktur WHO untuk Eropa Dr Hans Kluge mengaku khawatir bahwa negara kaya akan memborong vaksin cacar tanpa mempertimbangkan vaksin untuk Afrika.

Kluge mendesak pemerintah dunia "Untuk mengambil pendekatan tanpa mengulangi kesalahan pada pandemi (Covid-19)."

 
WHO akan mengumumkan daftar nama baru untuk virus dan penyakit cacar monyet sesegera mungkin. 
 
 

Ganti nama

WHO juga akan mengganti nama penyakit cacar monyet dengan istilah baru. Hal itu diumumkan di tengah kekhawatiran atas stigma dan rasialisme di sekitar nama penyakit tersebut dan virus penyebabnya. “(WHO) bekerja dengan para mitra dan pakar dari seluruh dunia untuk mengubah nama virus penyebab cacar monyet, klad, serta penyakit yang ditimbulkannya,” kata Tedros, Selasa.

Dia mengungkapkan, WHO akan mengumumkan daftar nama baru untuk virus dan penyakit cacar monyet sesegera mungkin. Pengumuman Ghebreyesus muncul kurang dari sepekan setelah lebih dari 30 ilmuwan internasional menulis dalam sebuah makalah bahwa ada kebutuhan mendesak untuk “nomenklatur non-diskriminatif dan non-stigma” bagi virus cacar monyet.

Saat ini WHO mencantumkan dua jenis klad (virus penyebab cacar monyet) di situs webnya, yakni klad Afrika Barat dan klad Kongo Basin (Afrika Tengah). Dalam makalahnya, para ilmuwan internasional mengatakan, seperti banyak label geografis sebelumnya tentang penyakit menular berdasarkan lokasi pendeteksian pertama, hal itu bisa menyesatkan dan tidak akurat.

Dalam proposal mereka, para ilmuwan mengusulkan klasifikasi baru cacar monyet yang selaras dengan praktik terbaik dalam penamaan penyakit menular. Tujuannya agar "meminimalkan dampak negatif yang tidak perlu pada negara, wilayah geografis, ekonomi, dan manusia, serta mempertimbangkan evolusi dan penyebaran virus.”  

Sumber : Reuters/Associated Press


Wristband Pantau Kesehatan Jamaah Risti

Sebanyak 3.000 jamaah haji Indonesia mendapatkan wristband atau jam kesehatan pintar.

SELENGKAPNYA

Saudi Longgarkan Penggunaan Masker

Kebanyakan jamaah haji Indonesia terpantau masih patuh menggunakan masker.

SELENGKAPNYA

Telkom Pastikan Investasi di GoTo Patuhi GCG 

Akhir pekan lalu, Telkom mencatatkan keuntungan investasi di GoTo senilai Rp 2,74 triliun.

SELENGKAPNYA
×