Petugas berusaha memadamkan kebakaran yang terjadi di Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Ahad (25/4/2022). | Republika/Edwin Putranto

Jakarta

14 Jun 2022, 05:25 WIB

Kasus Kebakaran Meningkat

Insiden kebakaran di Jakarta didominasi rumah terbakar akibat arus pendek listrik.

JAKARTA — Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta merilis data, pada 1 Januari-30 Maret 2022, jumlah kebakaran di Ibu Kota meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Gulkarmat DKI Satriadi Gunawan menuturkan, mayoritas kasus kebakaran dipicu rumah akibat korsleting listrik. "Naik aktivitas yang tadinya istirahat karena pandemi, tiba-tiba anjlok dan jalan gitu loh. Kebanyakan kebakaran justru perumahan," kata Satriadi kepada Republika di Jakarta, Senin (13/6).

Selama periode tiga bulan awal tahun ini, dia menyebut, terdapat 376 kebakaran di lima wilayah Jakarta. Dia menjelaskan, frekuensi kebakaran periode Januari-April 2022 sebenarnya menurun dibandingkan pada 2019 dan 2020. Namun, angka itu naik jika dikomparasi dengan tahun 2021.

photo
Warga mencoba memadamkan api saat sosilalisasi dan simulasi penanggulangan kebakaran di Kantor Sekretariat RW 06, Palmeriam, Matraman, Jakarta, Senin (13/6/2022). Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur melakukan sosilalisasi dan simulasi penanggulangan kebakaran kepada 39 warga dari 13 RT yang ada dari kawasan tersebut guna mengatasi kebakaran skala kecil untuk mengantisipasi bencana kebakaran yang lebih luas.Prayogi/Republika - (Prayogi/Republika.)

Satriadi memerinci, kebakaran periode Januari-Maret 2019 sebanyak 414 kasus, pada Januari-Maret 2020 sebanyak 382 kasus, dan pada Januari-Maret 2021 ada 331 kasus. Jika dijabarkan, dia melanjutkan, sebanyak 376 kebakaran di Jakarta terjadi pada Januari 138 kasus, pada Februari 109 kasus, dan pada Maret 129 kasus.

Dinas Gulkarmat juga mencatat, kebakaran pada April 2022 mencapai 167 kasus atau tertinggi pada tahun ini. Artinya, total ada 543 kasus kebakaran selama kurun waktu Januari-April 2022. Dari jumlah itu, sebanyak 182 kebakaran berada di Jakarta Selatan dan tertinggi kedua di Jakarta Barat dengan 127 kasus.

Menurut Satriadi, dari total 543 kasus kebakaran, masalah arus pendek listrik menjadi penyumbang 364 kasus. Jumlah itu disusul kebakaran kendaraan hingga sampah sekitar 95 kasus dan dugaan kebakaran akibat kebocoran tabung gas 66 kasus.

Dia menyatakan, kebakaran memang banyak terjadi di lingkup perumahan. Misalnya, ada 73 kebakaran di Jakarta yang menimpa rumah warga pada April 2022. Meski belum menghitung angka pasti, kata Satriadi, pemicu kebakaran juga tidak terlepas dari alih fungsi yang dilakukan pemilik rumah, "Itu karena banyak rumah yang tidak sesuai peruntukannya dijadikan tempat industri. Contoh ruko," ujarnya.

Satriadi menjelaskan, kebakaran berbanding lurus dengan aktivitas kelistrikan masyarakat di wilayah tempat kejadian perkara (TKP). Jika di kawasan itu banyak listrik yang terpasang tidak sesuai peruntukan, berpotensi terjadi insiden kebakaran lebih besar. Misalnya, ada kawasan dengan banyak kabel menjuntai juga bisa memicu terjadinya kasus kebakaran.

Anggota Komisi A DPRD DKI Jupiter mengkritik model penanggulangan kebakaran di Ibu Kota yang secara persentase masih rendah. Dia meminta Pemprov DKI untuk menyediakan fasilitas ketahanan kebakaran di daerah padat penduduk, seperti di Tambora. "Kepedulian dan edukasi dari Dinas Gulkarmat masih rendah," kata politikus Partai Nasdem itu.

Dia menganggap, penanganan saat terjadi kebakaran hingga pemadangan juga terlalu lambat. Terlebih, dia menyebut, saat ada kebakaran dengan skala besar, petugas baru datang ketika si jago merah sudah padam dan meluluhlantakkan bangunan.

Jupiter meminta agar Dinas Gulkarmat DKI secara intensif melakukan pelatihan menggandeng warga agar mereka lebih sigap menghadapi peristiwa kebakaran. "Perlu ada relawan yang disiagakan dan disiapkan di permukiman kumuh, baik itu pelatihan ke Karang Taruna maupun lainnya," ujar Jupiter.

photo
Petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur melakukan sosilalisasi dan simulasi penanggulangan kebakaran di Kantor Sekretariat RW 06, Palmeriam, Matraman, Jakarta, Senin (13/6/2022). Prayogi/Republika - (Prayogi/Republika.)

Kesalahan manusia

Pengamat tata kota Universitas Trisaksi Yayat Supriatna mengatakan, banyaknya kebakaran di Jakarta tidak bisa dilepaskan dari unsur kesalahan manusia. Dia menyebut, jika kebakaran didominasi karena arus listrik, perlu ada pencegahan bersama agar tidak terulang di tempat lain.

"Ada 70 persen kebakaran karena instalasi listrik. Biasanya itu karena alat (kelistrikan) yang tidak memenuhi standar nasional dan lahan sempit yang berdesakkan," ujar Yayat.

Menurut dia, jika memang ada kawasan padat penduduk megalami kebakaran, harus ada sistem yang bisa langsung mematikan aliran listrik. Hal itu untuk mencegah api merembet ke bangunan sebelah saat terjadi korsleting.

Hanya saja, kata Yayat, insiden itu masih terus terjadi karena masyarakat memang gemar menggunakan kabel atau menyambung aliran listrik secara manual dengan pertimbangan efektivitas harga atau murah daripada memanggil petugas.

Yayat mengingatkan Pemprov DKI untuk melakukan intervensi kebijakan dengan membuat sumber air di permukiman padat penduduk. Pun dengan jalur evakuasi juga perlu dibuat secara khusus. Sehingga jika terjadi kebakaran, petugas bisa cepat mengendalikannya.

"Dan bangunan di Jakarta itu rumah terus bertambah, bangunan kecil, dan tidak permanen. Itu potensi besar kebakaran," katanya. ';

Meliput di Masa tak Mudah

Di pasar-pasar, harga cabai, bawang, teluar ayam, daging, dan sejumlah komoditas lainnya melonjak tajam.

SELENGKAPNYA

Bahu-Membahu Menyelamatkan Jamaah 

Seluruh tim dokter dan perawat bekerja bahu membahu kompak ikhtiar menyelamatkan nyawa pasien.

SELENGKAPNYA

Kelelahan Jamaah ke Makkah Diantisipasi

Arab Saudi telah menutup pendaftaran haji bagi jamaah domestik.

SELENGKAPNYA
×