Umat Islam antre saat ingin beribadah di area saf Raudhatun Jannah/Raudhah (Taman Surga) di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Senin (6/5/2019). | ANTARA FOTO

Kabar Tanah Suci

13 Jun 2022, 03:45 WIB

Berburu Raudhah 

Jika tidak diatur, agak ngeri membayangkan padatnya Raudhah pada musim haji ini.

OLEH A SYALABY ICHSAN dari Madinah, Arab Saudi

Raudhah menjadi tempat ‘buruan’ jamaah haji dari berbagai belahan dunia yang tiba di Madinah sejak 4 Juni lalu. Banyak orang yang ingin berdoa di Raudhah, sehingga Pemerintah Saudi membatasi lewat aplikasi. Apalagi, haji musim ini merupakan kali pertama setelah sempat ditutup dua tahun pada masa pandemi bagi jamaah internasional.

Kami pun mafhum adanya pembatasan ini. Menurut beberapa referensi, tempat yang berada di antara rumah (makam Nabi) dan mimbar masjid ini hanya seluas 330 meter persegi. Jika tidak diatur, agak ngeri membayangkan padatnya Raudhah pada musim haji ini. 

Untuk memasuki Raudhah, saya bersama kawan-kawan tim Media Center Haji (MCH) pun mengunduh aplikasi Eatmarna. Platform ini mengatur jadwal masuk jamaah ke tempat dahulu Rasulullah SAW menyampaikan petuah Rabbani. Tidak sulit untuk mengunduhnya. Cukup cari di Playstore yang tersedia di telepon pintar, maka aplikasi itu akan muncul. 

 
Jika tidak diatur, agak ngeri membayangkan padatnya Raudhah pada musim haji ini. 
 
 

Setelah memilih pengaturan bahasa Inggris, maka pengguna Eatmarna diarahkan ke beranda. Kita bisa memilih visitor kemudian mengisi beberapa kolom yang tersedia. Ada nama, nomor paspor, nomor visa, kewarganegaraan, nomor ponsel, hingga surel. Setelah itu, kita pun diminta untuk membuat password untuk memasuki aplikasi tersebut. Jika semua sudah terisi, maka kita akan mendapatkan nomor OTP (on time password) sebagai langkah verifikasi. Kemudian, kita diarahkan untuk mengisi jadwal kunjungan sesuai dengan status hari yang sudah disediakan. Hanya jadwal berwarna hijau yang bisa dipilih oleh pengguna.  

Saya beruntung bisa mengisi aplikasi dengan lancar. Sayangnya, ada beberapa teman yang mengalami kesulitan sehingga gagal mengisi aplikasi tersebut. Kolom kewarganegaraan di akun mereka tak memiliki pilihan. Meski demikian, kami semua memutuskan untuk tetap pergi ke Raudhah yang sudah terjadwal pada Kamis pukul 01.00-01.30 WAS dini hari.

Perjalanan antara Kantor Daker Madinah ke Masjid Nabawi memakan waktu berkisar 20 menit jalan kaki. Setibanya di Masjid Nabawi, kami  langsung masuk masjid menuju gerbang 22. Tujuan kami menuju pintu Bab As-Salam, pintu masuk untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar.  Barikade sudah terpasang. Kami berputar menuju antrean untuk menuju ke Raudhah. Di tengah jalan, tampak aplikasi di ponsel saya tidak aktif.  

Platform di telepon pintar pabrikan Taiwan itu memunculkan simbol bulat tanda tak ada koneksi. Saya pun meminta kawan seperjalanan untuk mengaktifkan hotspot-nya. Jaringan internet teman yang menggunakan nomor lokal Arab Saudi ternyata normal. Ponsel saya yang menggunakan nomor provider Indonesia lantas meminjam koneksi dari nomor tersebut. Alhasil, aplikasi itu bisa kembali normal untuk saya tunjukkan kepada petugas jaga.

 
Barikade sudah terpasang. Kami berputar menuju antrean untuk menuju ke Raudhah. Di tengah jalan, tampak aplikasi di ponsel saya tidak aktif.  
 
 

Singkat cerita, saya dan kawan-kawan berhasil masuk untuk shalat dan berdoa. Bagi teman yang belum berhasil mengisi aplikasi, mereka ‘mengakalinya’ dengan tangkapan layar akun teman. Para askar memang sekadar melihat ponsel jamaah. Mereka tak menggunakan alat scan untuk memindai barcode yang telah didapat dari aplikasi. Lainnya, sekadar menunjukkan tasrekh (surat izin) liputan yang tersimpan dalam dokumen digital. 

Kami pun menginjakkan kaki di Raudhah.  Di sana, sudah ada belasan askar yang memantau durasi waktu doa jamaah. Mereka akan mengusir jamaah yang sudah berdoa lebih dari 10 menit. Kami pun memakai jurus klasik agar tak diusir petugas.  Shalat sunah mesti lebih lama dan berpindah-pindah. Agaknya, askar dilarang untuk mengusir jamaah yang sedang shalat. Mereka hanya berteriak-teriak dan mencolek kami yang berupaya untuk tetap tenang. 

Setelah lebih dari 30 menit di dalam, saya akhirnya keluar dari Raudhah. Saya melalui jalur keluar makam Rasulullah untuk kembali kepada tempat antrean menyusul rombongan yang sudah keluar lebih awal. Setibanya di sana, kami yang memang mengenakan rompi petugas haji langsung diserbu jamaah Indonesia. Mereka tidak bisa masuk ke dalam Raudhah karena kerap gagal saat mengisi aplikasi. Bagi jamaah kloter awal, kebanyakan sudah berhasil masuk karena aturan ini baru saja diterapkan beberapa hari yang lalu. 

Pada awalnya, kami memandu mereka untuk mengisi Eatmarna. Sayangnya, kebanyakan di antara jamaah tak menyimpan nomor visa. Mereka hanya tahu nomor paspor yang tertera di gelang tangannya. Kalaupun tahu nomor visa, mereka masih tak bisa mengisinya karena opsi kewarganegaraan (nationality) di aplikasi itu tak bisa terisi. Saya pun berinisiatif untuk meniru cara teman yang berhasil masuk barusan. Kami mengirim tangkapan layar akun aplikasi Eatmarna ke seorang jamaah. Setidaknya, ada tiga jamaah yang berhasil lolos. Satu jamaah lainnya gagal. Askar yang sudah mempelajari situasi lapangan tampak menggeser-geser layar smartphone jamaah itu.

 
Bagi jamaah kloter awal, kebanyakan sudah berhasil masuk karena aturan ini baru saja diterapkan beberapa hari yang lalu. 
 
 

Beberapa jamaah yang gagal masuk menumpahkan kekesalannya kepada kami. Mereka mempertanyakan mengapa panitia tidak menyosialisasikan aturan tersebut sejak di embarkasi. Jamaah lainnya berpendapat kalau aplikasi ini buah dari kebijakan pemerintah yang menggunakan vaksin asal Cina. Mesti dongkol karena jadi sasaran pertanyaan ‘tidak nyambung’, kami sebisa mungkin menjelaskan kebijakan baru tersebut.

Pertama, Eatmarna bukan milik Pemerintah RI melainkan Saudi. Setahu kami, pihak Saudi  baru saja memberlakukan kebijakan masuk lewat aplikasi tersebut. Saudi memang sudah memberlakukan aplikasi Tawakalna untuk masuk ke area Masjid Nabawi saat pandemi. Hanya saja, kebijakan itu lalu dicabut seiring melandainya angka kasus Covid-19. Kebijakan ini baru dirilis lagi saat musim haji ketika jamaah gelombang pertama sudah berada di Madinah lewat aplikasi yang berbeda.

Selain lewat Eatmarna, pihak Saudi memang membantu kantor misi haji setempat untuk mendapatkan Tasrekh masuk ke Raudhah. Sayangnya, tasrekh tersebut dikeluarkan untuk jamaah kloter-kloter awal. Bagi jamaah yang datang setelahnya, kantor misi haji harus menginput sendiri data jamaah lewat platform lain bernama  e-haj.  Setelah itu, tasrekh akan keluar berupa daftar manifest rombongan jamaah maksimal 50 orang beserta jadwalnya. Tasrekh ini akan menjadi tiket masuk mereka ke Raudhah. Hanya saja, aplikasi ini kerap bermasalah (eror). Sekalinya bisa, jadwal masuk Raudhah masih berwarna merah. Keinginan jamaah yang hendak masuk ke Raudhah pun harus tertunda. 

Hanya saja, tidak ada yang tidak mungkin di Tanah Haram ini. Selain cerita kegagalan, banyak juga petugas PPIH dan jamaah yang berhasil masuk ke Raudhah tanpa aplikasi apapun. Ada jamaah sudah tiga kali mengantre berhasil melewati pintu askar. Dia mengiba sambil menunjukkan tiga jari kepada petugas. Ada juga jamaah yang berhasil lolos dari penjagaan karena datang sejak pukul 12 malam. Seorang teman malah masuk setelah membantu mendorong lansia di kursi roda. Mendengar itu semua, hati saya manggut-manggut. Wajar jika Raudhah dijuluki taman surga karena memang tidak semua bisa masuk ke dalamnya.  ';

Menyoal Komitmen Indo-Pasifik AS

Ini jelas membuktikan AS merupakan kekuatan ekonomi utama di Indo-Pasifik.

SELENGKAPNYA

Melanjutkan Momentum Pemulihan

Laju pertumbuhan ekonomi pada 2022 bisa lebih kencang dibandingkan 2021.

SELENGKAPNYA

Tahapan Pemilu 2024 Segera Dimulai

Pemilu 2024 menelan anggaran Rp 76 triliun, naik tiga kali lipat dibanding pemilu sebelumnya.

SELENGKAPNYA
×