Prajurit Israel berseteru dengan pengunjuk rasa Palestina di Pos Pemeriksaan Tayaseer di dekan Lembah Yordan di Tubas, Tepi Barat, Senin (6/6/2022). | EPA-EFE/ALAA BADARNEH

Internasional

13 Jun 2022, 03:45 WIB

Ribuan Warga Tepi Barat Terancam Digusur

PBB dan Uni Eropa mendesak Israel menghentikan penggusuran warga Palestina.

TEPI BARAT -- Sekitar 1.200 warga Palestina di Masafer Yatta, wilayah pendudukan Tepi Barat, berisiko menghadapi pemindahan paksa untuk memberi jalan bagi zona tembak tentara Israel. Keputusan ini diambil oleh pengadilan tinggi Israel, setelah terjadi pertempuran hukum antara Palestina dan Israel selama puluhan tahun.

Keputusan tersebut membuka jalan bagi salah satu perpindahan terbesar sejak Israel merebut wilayah Tepi Barat dalam perang Timur Tengah 1967. Penduduk Palestina menolak untuk pergi dari tanah mereka, dan berharap dunia internasional dapan menekan serta mencegah Israel melakukan penggusuran.

"Mereka ingin mengambil tanah ini dari kami untuk membangun pemukiman. Kami tidak akan pergi," kata Wadha Ayoub Abu Sabha, seorang penduduk al-Fakheit. 

Pada 1980-an, Israel mendeklarasikan daerah Masafer Yatta sebagai zona militer tertutup yang dikenal sebagai “Zona Penembakan 918.” Israel berargumen di pengadilan bahwa, lahan seluas 3.000 hektare di sepanjang perbatasan Israel-Tepi Barat ini sangat penting untuk tujuan pelatihan. Israel mengatakan, orang-orang Palestina yang tinggal di wilayah itu hanyalah penduduk musiman. 

photo
Prajurit Israel terlibat konflik dengan pengunjuk rasa Palestina di Pos Pemeriksaan Tayaseer di dekan Lembah Yordan di Tubas, Tepi Barat, Senin (6/6/2022).  - (EPA-EFE/ALAA BADARNEH)

Warga Palestina yang tinggal di Masafer Yatta, mayoritas berprofesi sebagai penggembala dan petani. Mereka mengklaim memiliki hubungan historis dengan tanah tersebut. “Ini merupakan tahun kesedihan yang luar biasa,” kata Abu Sabha, yang suaranya pecah saat dia duduk di salah satu dari beberapa tenda yang masih berdiri, dan diterangi satu bola lampu.

Komunitas Palestina di bagian South Hebron Hills ini secara tradisional tinggal di gua bawah tanah. Selama dua dekade terakhir, mereka mulai membangun gubuk yang terbuat dari seng di atas tanah.

Abu Sabha mengatakan, pasukan Israel telah menghancurkan konstruksi baru ini selama bertahun-tahun. "Sekarang setelah Israel mendapat dukungan pengadilan, penggusuran kemungkinan akan berlanjut," ujar Abu Sabha. 

Sejumlah barang milik keluarga Abu Sabha menjadi tumpukan puing setelah tentara Israel menghancurkannya dengan buldoser. Dia mengalami kerugian yang signifikan, yaitu kehilangan ternak dan perabotan rumah tangga.

Selama kasus penggusuran ini bergulir di pengadilan, sebagian besar argumen berpusat pada apakah orang-orang Palestina yang tinggal di daerah itu adalah penduduk tetap atau penghuni musiman. Mahkamah Agung Israel menyimpulkan, penduduk Palestina itu gagal membuktikan klaim tempat tinggal permanen mereka, sebelum daerah itu dinyatakan sebagai zona tembak.  

Selama persidangan, Israel dan Palestina saling beradu argumen dengan menunjukkan foto udara dan kutipan dari buku berjudul “Life in the Caves of Mount Hebron,” yang ditulis oleh antropolog Israel Yaacov Havakook dan diterbitkan pada 1985. Havakook menghabiskan waktu tiga tahun untuk mempelajari kehidupan petani dan gembala Palestina di wilayah Masafer Yatta.

Havakook menolak berkomentar lebih lanjut tentang persidangan antara Israel dan Palestina yang memperebutkan wilayah Masafer Yatta. Havakook mengatakan, dia telah mencoba untuk mengajukan pendapat ahli atas nama penduduk Palestina mengikuti permintaan dari salah satu pengacara mereka. Namun Kementerian Pertahanan Israel mencegahnya. 

photo
Prajurit Israel terlibat konflik dengan pengunjuk rasa Palestina di Pos Pemeriksaan Tayaseer di dekan Lembah Yordan di Tubas, Tepi Barat, Senin (6/6/2022). - (EPA-EFE/ALAA BADARNEH)

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa mengutuk putusan pengadilan, dan mendesak Israel untuk menghentikan pembongkaran serta penggusuran warga Palestina. "Pembentukan zona tembak tidak dapat dianggap sebagai 'alasan militer penting' untuk memindahkan penduduk yang berada di bawah pendudukan," kata juru bicara Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.

Dalam transkrip pertemuan menteri pada 1981 terkait pemukiman yang ditemukan oleh peneliti Israel, Menteri Pertanian Ariel Sharon saat itu, menyarankan militer Israel memperluas zona pelatihan di South Hebron Hills untuk merampas tanah penduduk Palestina. Sharon menambahkan, terjadi penyebaran penduduk desa Arab dari perbukitan menuju padang pasir

Saat ini, pembangunan permukiman Yahudi di daerah tersebut terus berkembang. Hal ini semakin membatasi pergerakan warga Palestina dan ruang yang tersedia bagi penduduk untuk bertani dan menggembalakan domba serta kambing mereka. 

Sumber : Reuters


Ustaz Bendri Jaisyurrahman: Lindungi Anak dari Perilaku LGBT

Di balik pengakuan anak, sebenarnya ada kata lain yang tidak tersampaikan.

SELENGKAPNYA

KH Asyiq Mukri, Dai Pejuang dari Bawean

Kiai Asyiq yang ahli ilmu hadis ini memelopori berdirinya NU cabang Singapura.

SELENGKAPNYA
×