Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) memperlihatkan sampah plastik medis yang tidak dikelola dengan baik dan dibuang sembarangan hingga mengalir ke sungai di kawasan Ujung Pancu, Aceh Besar, Aceh, Kamis (2/6/2022). | ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/rwa.

Bodetabek

07 Jun 2022, 19:42 WIB

Berenang di Mikroplastik Sungai Ciliwung

Temuan mikroplastik di Sungai Ciliwung perlu disosialisasikan kepada warga.

OLEH SHABRINA ZAKARIA

Anak-anak bermain dan berenang di Sungai Ciliwung jadi pemandangan biasa bagi Irni (52 tahun), warga Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Dia mengaku tidak tahu jika ternyata sungai yang menjadi lokasi berenang anak-anak itu telah tercemar mikroplastik.

Sejak tinggal di perumahan kawasan Sempur bertahun-tahun lalu, Irni mengaku tidak mendapatkan sosialisasi soal Sungai Ciliwung tercemar. “Belum ada edukasi sejauh ini,” ujar Irni, Senin (6/6).

Temuan mikroplastik di air Sungai Ciliwung merupakan temuan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), yang diungkap pada Ahad (5/6). Temuan itu dari sampel air Sungai Ciliwung di dua titik di Kota Bogor.

Dari data Ecoton, untuk di Kota Bogor pengambilan sampel air dilakukan di titik aliran Ciliwung Kelurahan Sempur, Kota Bogor, dan di bawah Jembatan Besi, Kedung Badak, Kelurahan Cibuluh, Kota Bogor.

Menurut ibu satu anak itu, temuan mikroplastik di Sungai Ciliwung perlu disosialisasikan kepada warga. Menurut dia, warga tak perlu disampaikan secara detail zat-zat kimia apa yang ada di mikroplastik. Namun, warga awam perlu tahu, bagaimana dampak dari mikroplastik terhadap kesehatan manusia baik jangka pendek, apalagi jangka panjang.

photo
Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) memperlihatkan air sungai yang terdapat mikroplastik dengan menggunakan mikroskop di kawasan Ujung Pancu, Aceh Besar, Aceh, Kamis (2/6/2022). Tim ESN menemukan kandungan chlorine, fosfat dan logam berat yang melebihi kapasitas serta mikroplastik pada penelitian dan deteksi kesehatah di Krueng (sungai) Aceh dan beberapa sungai lainnya di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. - (ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/rwa.)

Peneliti Ecoton, Eka Chlara Budiarti, mengakui penemuan mikroplastik menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Ecoton untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat pengguna air sungai. Pengambilan sampel itu, kata Chlara, digunakan untuk mengecek kualitas air Sungai Ciliwung dengan parameter fisika-kimia seperti, pH, TDS, suhu, serta fosfat. Tak hanya itu, sampel air Sungai Ciliwung juga diambil untuk mengidentifikasi kandungan mikroplastik di dalamnya.

“Dari hasil pengujian sampel air sungai menyiratkan bahwa Sungai Ciliwung telah terkontaminasi mikroplastik. Begitu juga untuk kualitas air yang diuji bahwa air Sungai Ciliwung baik di Sempur maupun Cibuluh memiliki kandungan fosfat yang melebihi baku mutu kelas sungai peruntukan air minum, dengan nilai masing-masing, yakni 1.2 ppm dan 1 ppm,” katanya.

Menurut Chlara, sebagian besar warga bisa jadi masih asing dengan temuan mikroplastik. Oleh karena itu, pihaknya berusaha untuk memublikasikan ke media daring dan cetak untuk bisa diketahui warga mengenai penemuan itu. Selain itu, Ecoton sebelumnya juga sudah pernah berkolaborasi dengan komunitas pencinta Ciliwung agar bisa membantu untuk mengidentifikasi mikroplastik di Sungai Ciliwung.

photo
Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) memperlihatkan sampah plastik medis yang tidak dikelola dengan baik dan dibuang sembarangan hingga mengalir ke sungai di kawasan Ujung Pancu, Aceh Besar, Aceh, Kamis (2/6/2022). - (ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/rwa.)

Apalagi, sejumlah titik Sungai Ciliwung dijadikan sumber bahan baku PDAM. Meski demikian, ia tidak memiliki data jika warga mengonsumsi air Sungai Ciliwung secara langsung. “Kalau kemarin kita lihat di sana sebagian ada yang dimanfaatkan sebagai bahan baku PDAM. Ada beberapa anak kecil juga yang berenang,” ujarnya.

Adanya mikroplastik di Sungai Ciliwung telah sampai ke telinga Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. Menurut dia, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah melakukan berbagai upaya untuk kelestarian Sungai Ciliwung, mulai dari pembentukan Satgas Naturalisasi Ciliwung yang dianggarkan di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) setiap bulan. Hal itu juga didukung dengan larangan penggunaan plastik untuk berbelanja atau program Bogor tanpa Plastik (Botak).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ECOTON FOUNDATION (ecoton.id)

Kendati demikian, menurut Bima Arya, penanganan Sungai Ciliwung tidak cukup hanya dari hulu ke hilir dan dilakukan Pemkot Bogor dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor.

“Ini masalah klasik, harus ditangani bersama. Di Bogor kita habis-habisan misalnya, tapi di hulu atau hilirnya nggak commit, nggak ada artinya juga. Otoritas yang lebih tinggi yang punya komitmen,” ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ECOTON FOUNDATION (@ecoton.id)

 


Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama

Albanese optimistis Indonesia akan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar di dunia.

SELENGKAPNYA

Tokoh Buddha: Perhatikan Rasa Keadilan

Rencana kenaikan tiket naik Candi Borobudur yang muncul saat ini belum final.

SELENGKAPNYA

Daerah Kaji Peralihan Honorer ke Outsourcing

Pemerintah berjanji akan terus mencari solusi terbaik bagi para guru non-ASN.

SELENGKAPNYA
×