Petugas kedaruratan menangani penembakan di Natalie Medical Building di Tulsa, Oklahoma, Rabu (1/6/2022). | Ian Maule/Tulsa World via AP

Kabar Utama

03 Jun 2022, 03:50 WIB

AS ‘Diberondong’ Penembakan Massal

Kepolisian Tulsa belum mengungkap identitas pelaku penyerangan bersenjata ke Natalie Medical Building.

WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) kembali harus kehilangan warganya akibat aksi penembakan massal. Hanya berselang sepekan setelah insiden di Robb Elementary School, di Texas, sebuah rumah sakit di Tulsa, Oklahoma, pada Rabu (1/6) waktu setempat, menjadi sasaran serangan pria bersenjata. Sebanyak empat orang dilaporkan tewas.

Departemen Kepolisian Tulsa mengungkapkan, mereka menerima laporan tentang aksi penembakan di Natalie Medical Building yang berada di kampus Saint Francis Hospital pada pukul 16.52 waktu setempat. Tim segera dikerahkan dan tiba di lokasi sekitar empat menit kemudian.

Wakil Kepala Departemen Kepolisian Tulsa Eric Dalgleish mengatakan, petugas yang tiba di lokasi mendengar suara tembakan dari lantai dua Natalie Medical Building. Tim pun bergerak ke sana. “Ada pusat ortopedi, kantor ortopedi, di sana. Tapi saya tidak tahu, apakah itu menempati seluruh lantai atau ada kantor lain di lantai tersebut,” tutur Dalgleish, dikutip laman New York Times, Kamis (2/6).

Saat momen itu berlangsung, ratusan orang sudah berhamburan melarikan diri dari gedung. Kapten Richard Meulenberg dari Departemen Kepolisian Tulsa mengatakan, saat para petugas tiba di pintu masuk lantai dua Natalie Medical Building, suara tembakan berhenti. Mereka menemukan korban ketika melangkah masuk. Namun pelaku penembakan belum tampak.

photo
Petugas kedaruratan menangani penembakan di Natalie Medical Building di Tulsa, Oklahoma, Rabu (1/6/2022). - (Ian Maule/Tulsa World via AP)

Petugas kepolisian Tulsa kemudian menyisir lantai dua Natalie Medical Building. Mereka akhirnya menemukan pelaku, tapi dalam keadaan sudah tergeletak di lantai bersama dua pucuk senjata api miliknya. Dia menembak dirinya sendiri setelah melakukan aksi penyerangan. Menurut kepolisian Tulsa, pelaku adalah pria berusia antara 35-40 tahun.

Kepolisian Tulsa belum mengungkap identitas pelaku atau motifnya melakukan penyerangan bersenjata ke Natalie Medical Building. Sebanyak empat orang tewas dalam serangan itu. Ada pula korban luka, tapi keadaannya tak sampai mengancam jiwa. Menurut Eric Dalgleish, para korban terdiri dari pekerja dan pasien.

Kapten Richard Meulenberg meyakini, aksi penyerangan ke Natalie Medical Building tidak dilakukan secara sembarang. Kendati demikian, Meulenberg menolak memberi komentar lebih lanjut tentang kemungkinan motif pelaku melakukan aksi penyerangan. Namun, pelaku diketahui tinggal di Muskogee.

Departemen Kepolisian Muskogee mengungkapkan, pihaknya sudah diberi tahu Departemen Kepolisian Tulsa bahwa pelaku mungkin telah meninggalkan bom di kediamannya. Kepolisian Muskogee pun segera mengirim tim ke rumah pria tersebut dan memerintahkan warga yang tinggal di sekitarnya agar tidak keluar rumah.

photo
Warga Amerika Serikat berpelukan tak jauh dari lokasi penembakan massal di Natalie Medical Building di Tulsa, Oklahoma, Rabu (1/6/2022). - ( Ian Maule/Tulsa World via AP)

Regu penjinak bom turut diterjunkan ke kediaman pelaku pada Rabu malam. Polisi Muskogee sedang menunggu surat perintah untuk melakukan penggeledahan. Sementara itu, Wali Kota Tulsa GT Bynum telah menyampaikan belasungkawa untuk para korban. “Pikiran sama bersama para korban di sini. Banyak yang keluarganya bahkan belum tahu tentang kejadian ini,” kata Bynum dalam sebuah konferensi pers.

Dia pun sempat sedikit menyinggung tentang wacana pengetatan peraturan kepemilikan senjata api. “Jika kita ingin melakukan diskusi kebijakan, itu adalah sesuatu yang bisa dilakukan pada masa mendatang, tapi tidak malam ini,” ucapnya.

Sementara itu Gedung Putih mengungkapkan, Presiden Joe Biden sudah diberi tahu tentang aksi penembakan di Tulsa. Namun Biden belum merilis pernyataan resmi tentang insiden tersebut.

Aksi penembakan di Natalie Medical Building terjadi hanya delapan hari pascaaksi penyerangan bersenjata di Robb Elementary School di Uvalde, Texas. Peristiwa berdarah pada 24 Mei lalu itu menewaskan 19 anak dan dua guru. Pelaku penembakan ternyata remaja berusia 18 tahun bernama Salvador Ramos. Dia ditembak mati oleh petugas pascakejadian.

Insiden di Robb Elementary School seketika membangkitkan kembali wacana dan seruan agar AS memperketat undang-undang senjata. Saat mengomentari peristiwa penembakan Texas, Biden pun sempat menyinggung tentang hal itu. “Kapan, atas nama Tuhan, kita akan menghadapi lobi senjata? Mengapa kita rela hidup dengan pembantaian ini. Mengapa kita terus membiarkan ini terjadi?” Ujar Biden.

Kata ‘terus’ dalam pernyataan Biden memang cukup merefleksikan keadaan sesungguhnya di AS. Pada 14 Mei lalu, aksi penembakan massal juga terjadi di Buffalo, New York. Seorang remaja kulit putih berusia 18 tahun bernama Payton S Gendron, melepaskan berondongan tembakan ke pengunjung supermarket Tops. Sebanyak 10 orang tewas dan seluruhnya warga kulit hitam. Kebencian rasialis diduga kuat menjadi motif Gendron melakukan penembakan.

Pada 3 April lalu, penembakan massal juga terjadi di Sacramento, Kalifornia. Insiden itu menewaskan enam orang dan melukai 12 lainnya. Beberapa hari pascakejadian, Departemen Kepolisian Sacramento mengatakan, ‘kekerasan geng’ menjadi pusat dari insiden penembakan. Mereka menyebut setidaknya lima pria bersenjata terlibat dalam kejadian tersebut.

photo
Warga Amerika Serikat berpelukan tak jauh dari lokasi penembakan massal di Natalie Medical Building di Tulsa, Oklahoma, Rabu (1/6/2022). - ( Ian Maule/Tulsa World via AP)

Menurut data Gun Violence Archive (GVA), sepanjang tahun ini, AS sudah melaporkan 233 kasus penembakan massal, termasuk yang paling terbaru di Natalie Medical Building. GVA mencirikan penembakan massal sebagai empat atau lebih tembakan atau korban terbunuh, tidak termasuk pelaku. 

Namun, mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menolak seruan untuk memperketat kontrol senjata di negara tersebut. Di hadapan anggota National Rifle Association (NRA) di Houston, Texas, pada Jumat (27/5), Trump mengatakan, eksistensi kejahatan di dunia bukan alasan untuk melucuti senjata warga yang taat hukum.

Menurutnya, eksistensi kejahatan adalah salah satu alasan terbaik untuk mempersenjatai warga yang taat hukum. Berbagai kebijakan pengendalian senjata tak akan memberi dampak apa pun untuk mencegah aksi kekerasan bersenjata. Oleh sebab itu, Trump memandang upaya kontrol senjata sebagai hal yang aneh. 

“Kita semua harus bersatu, Republik serta Demokrat, di setiap negara bagian, dan di setiap tingkat pemerintahan, untuk akhirnya memperkuat sekolah kita dan melindungi anak-anak kita. Yang kita butuhkan sekarang adalah perbaikan keamanan dari atas ke bawah di sekolah di seluruh negeri ini,” ujar Trump.  ';

Tambahan Anggaran Biaya Haji Disetujui

Perlu diperhitungkan dengan cermat dan akuntabel setiap penggunaan dana haji yang saat ini dikelola.

SELENGKAPNYA

Rusia Kembali Tutup Pasokan Gas ke Eropa

Uni Eropa sepakat melakukan embargo parsial terhadap komoditas minyak Rusia.

SELENGKAPNYA

Berbincang Soal TKI Hingga Tari Kuda Kepang

Banyak perkara yang tak perlu timbul, tapi timbul karena kurang informasi dan kurang pemahaman.

SELENGKAPNYA
×