Abida Malik, saudari dari tokoh pembebasan Kashmir Yasin Malik, membacakan ayat Alquran dari jendela kepada para pengunjuk rasa di Srinagar, Rabu (25/5/2022). | AP Photo/Mukhtar Khan

Internasional

30 May 2022, 03:45 WIB

Kekerasan Meningkat di Kashmir

Situasi kekerasan terus tereskalasi di Kashmir, sejak pengadilan India menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada pemimpin pro-kemerdekaan Kashmir Yasin Malik.

SRINAGAR -- Sebanyak 10 pengunjuk rasa meninggal dunia di Kashmir, pada Jumat (27/5). Situasi kekerasan terus tereskalasi di Kashmir, sejak pengadilan India menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada pemimpin pro-kemerdekaan Kashmir Yasin Malik awal pekan ini.

Sehari sebelumnya, para pejabat Kashmir mengatakan, pasukan keamanan telah membunuh enam pengunjuk rasa di wilayah itu dalam 24 jam terakhir. Sementara pengunjuk rasa juga menembak mati seorang pembawa acara televisi berusia 35 tahun dan seorang petugas polisi.

"Tiga milisi masing-masing dari Jaish-e-Muhammad dan Lashkar-e-Taiba meninggal dalam dua baku tembak terpisah,” kata kepala polisi Kashmir, Vijay Kumar. "Kami juga kehilangan seorang polisi dalam salah satu operasi," katanya dikutip dari Aljazirah, Ahad (29/5).

Polisi juga menangkap sedikitnya 10 orang setelah protes dikumandangkan atas hukuman terhadap Malik pada Rabu (25/5).  Malik memimpin Jammu and Kashmir Liberation Front (JKLF) dan menjadi salah satu kelompok bersenjata pertama di Kashmir. Malik ditangkap pada 2019 dan divonis pekan lalu atas tuduhan melakukan tindakan terorisme, mengumpulkan dana secara ilegal, menjadi anggota organisasi teroris, konspirasi, serta hasutan kriminal.

 
photo
Pengunjuk rasa pendukung tokoh pembebasan Kashmir Yasin Malik saat bentrok dengan polisi di Srinagar, Rabu (25/5/2022). - (AP Photo/Mukhtar Khan)

Sebelum hukuman dijatuhkan pada Rabu, puluhan warga Kashmir berkumpul di rumah Malik di Srinagar, kota terbesar di Kashmir yang dikelola India.

Polisi kemudian mengumumkan di Twitter, bahwa 10 pemuda ditangkap karena slogan antinasional dan pelemparan batu di luar rumah Yasin Malik. Dari beberapa kicauan di media sosial, terdapat foto para pelaku yang ditangkap berdiri berjajar sambil menutup telinga dengan kedua tangan, sebuah tindakan yang dianggap sebagai bentuk penghinaan publik dan ekspresi penyesalan.

Mengenakan pakaian kasual dan sandal, orang-orang yang ditangkap, juga terlihat melihat ke tanah, saat dua polisi dengan senapan otomatis berjaga.

Membuat penduduk Kashmir memegang daun telinga atau melakukan sit-up di pinggir jalan adalah hal biasa pada 1990-an. Tindakan ini dilakukan pasukan pemerintah untuk mempermalukan orang dan menghalangi untuk mendukung pemberontak bersenjata yang memerangi pemerintahan India di wilayah Himalaya.

photo
Tokoh pembebasan Kashmir Yasin Malik. - (AP Photo/Mukhtar Khan)

Namun, dalam beberapa tahun terakhir praktik semacam itu sebagian besar telah dihentikan sebagai bentuk hukuman. "Sikap provokatif semacam itu akan selalu ditangani secara ketat serta dengan kekuatan hukum penuh," ujar kepolisian.

Sementara itu, manajemen masjid utama Srinagar, sebuah bangunan berusia 600 tahun yang juga merupakan tempat populer protes anti-India, menuduh pihak berwenang tidak mengizinkan pelaksanaan shalat Jumat.

Manajemen Masjid Jamia, mengatakan pihak berwenang mengunci tempat itu dengan menolak baik laki-laki atau perempuan yang datang untuk shalat Jumat. "Orang-orang, terutama orang tua, perempuan, dan pemuda dari jauh datang ke masjid bersejarah ini, dan mendapatinya berulang kali dikunci. Hal ini membuat mereka sangat sedih,” kata pernyataan tersebut..

Masjid bersejarah itu tetap ditutup selama hampir dua tahun setelah India mencabut status khusus Kashmir pada 2019. Pemerintah mengatakan, khawatir jamaah besar di masjid bisa berubah menjadi protes.

photo
Polisi menjaga pengunjuk rasa pendukung tokoh pembebasan Kashmir Yasin Malik di Srinagar, Rabu (25/5/2022). - ( (AP Photo/Mukhtar Khan))

Selain itu, penutupan itu juga merupakan bagian dari upaya pencegahan penularan Covid-19. Saat ini, Kashmir yang dikelola India merupakan satu-satunya wilayah mayoritas Muslim di negara itu.

Wilayah ini terbagi antara India dan Pakistan sejak Pemerintah Inggris memberikan kemerdekaan pada 1947. Kedua negara mengklaim wilayah itu secara keseluruhan dan telah berperang selama dua kali untuk memperebutkan kendalinya.

Unjuk rasa bersenjata di Kashmir yang dikelola India, telah memerangi pemerintahan sejak 1989. Sebagian besar Muslim Kashmir mendukung tujuan untuk menyatukan wilayah itu, baik di bawah kekuasaan Pakistan atau sebagai negara merdeka.

Di sisi lain, Pemerintah India menegaskan, kekerasan yang terjadi di Kashmir disponsori oleh Pakistan. Saat ini, puluhan ribu warga sipil, pengunjuk rasa, dan pasukan pemerintah gugur pun telah gugur dalam konflik berkepanjangan ini. 


Pemimpin Asia Sepakat Pererat Hubungan

Selain penguatan kerja sama ekonomi, negara-negara Asia bertekad terus menjaga stabilitas perdamaian.

SELENGKAPNYA

El Real Pertegas Dominasi di Benua Biru 

Keberhasilan El Real tak terlepas dari tangan dingin pelatih Carlo Ancelotti.

SELENGKAPNYA

PKS Siap Kolaborasi

PKS mengaku tak ingin di luar pemerintahan usai Pemilu 2024.

SELENGKAPNYA
×