Puisi Satu Rimba Dua Dara | Daan Yahya/Republika

Sastra

Satu Rimba Dua Dara

Puisi-Puisi Romy Sastra

Oleh ROMY SASTRA

Mandau

 

Ketajaman mandau tak diragukan kepada sasaran diwariskan budaya. Mereka berbaju saga menyirat tanya tentang tanah Nusantara atas ganasnya serigala sebagai pemangsa tak pernah kenyang, pecundang.

Maka dari itu, ketajaman mandau tak melukai wajah ibu, tapi ia bahkan lebih tajam lagi. Kata-kata menikam objek yang tersisa dari luka cuaca beriklim risau di mata. Aku menguak rungkad pada diksi puisi yang kutulis ke dalam tubuh renta, menggenggam salju demi memadamkan unggun di dada. Pulanglah tradisi memasuki gerbang generasi baru.

 

Jakarta, 22 Februari 2026

***

 

Kutuk Mantraku Kepadamu

Dari Hulu Kahayan

 

Dari Lembah Muller tumbang mahuroi damang batu 

perahu kayu dipahat menghilir arus kahayan 

jantungku Palangkaraya 

 

kami Dayak bukan bidak ke dalam percaturan otakmu 

menyusun syahwat sebagai pemilik hak 

atas kesuburan tanah-tanah ulayat menyeru lewat mantra 

dan katambung balian mimbul kuluk metu 

 

Mantra kami dawamkan moyang memegang rahasia 

hulu hilir bibir sejarah tak rusak estuari kahayan sebelumnya 

sebab harmoni alam tak berselisih paham 

tapi kalian datang mengeruh dada kami 

risau waspadai musibah sedari awal 

 

Sembilan mata air tubuh bening berlumpur embrio 

ke dalam sungai-sungai mengalir hanyutlah mumbang 

banjir datang kami berteriak:

 

Pulanglah wahai perusak alam sebelum mandau 

mendelik tajam paruh enggang menyapa 

mantra kutuk bala berdialog dalam rimba 

menyatu di persimpangan kuala keruh darah didih ke muara 

sekali lagi, pulanglah kalian! kami tengah berpesta budaya

 

Jakarta, 9 Oktober 2025

***

 

Satu Rimba Dua Dara

 

Paru-paru dunia dirambah demi transmigrasi, mendulang masa depan program pemerintah. Laju angin berbisik di sela daun. Batang pohon sejatinya berdiri gagah, tiba-tiba goyah.

Sejurus masa, ranting kayu bersilang dan patah tak dapat dicegah. Urat tak mampu menyanggah keharmonisan budaya. Anai-anai menyemai sampah. Sikut pendek tak dapat menjangkau lidah, menyimpan bara di balik lumut kata-kata.

"Akulah pejuang dari seberang lautan, menggenggam harga diri, mewujud roh Cakraningrat dan Sakera, bermantra ke ujung lengkung celurit mengadu nasib di tanah rantau."

Tanah Borneo dikultuskan ke dalam peradaban luhung. Kepada mandau yang digadangkan adat atas kamis damang dan mantir dari hulu sungai kepada anak keturunan.

Adat dilestarikan ke semesta alit menuju semesta kabir dari sepasukan panglima penjaga belantara bertelanjang dada, menghilir mengaliri telaga kepadamu:

"Wahai orang-orang dari seberang lautan, sauklah payau airku atas dahaga kita rasakan bersama."

Akan tetapi, tiba-tiba batu karang di kepala menggelinding memasuki rongga, menyimpan kesumat bagaikan laut dioyak badai. Joki menunggang kuda mabuk. Langit sebentuk payung dibakar gejolak. Ego berkeliaran berkelindan di antara dua bayangan hitam mencekam. Elang harimau mengukur nyali. Celurit dan mandau saling berjanji eksistensi, menunjukkan adu sakti menjemput sensasi di batas kesaksian tanpa kesadaran. Mendarahi harga diri, terkoyak duka Nusantara, pedih bertaring kesombongan bertarung diterkam kematian.

Lalu cahaya kebenaran datang atas kesadaran memahami persaudaraan, mufakat di meja perdamaian. Berdamailah celurit dan mandau di tangan heraldik, meminum setetes embun di bawah kalpataru.

Aku merungkai kelam ke dalam sastra. Tak maksud membangunkan yang tertidur mimpi buruk pada sejarah luka duka Nusantara di tanah peradaban Kalimantan yang pernah berdarah, mengunggun abu dan keranda kematian panen raya.

Bersamamu kita mengkaji hikmah di tubuh ibu yang pasrah. Satu rimba tak lagi menjadi bara.

 

Jakarta, 11 Mei 2025

***

 

Dialog Biramsattani

 

Dan baiklah saya buka tirai tirani sejarah purba Ganesha sabana Loxodonta, lalu menghilir ke tanah Sumatra atas nama Biramsattani, "gajah putih", dari Kutaraja, menunggangi Sultan Iskandar Muda sebagai kendaraan meubareh mengusir penjajah.

Jauh sebelumnya, gajah bertitah mengusung peradaban sejarah herbivora mamalia Afrika, Eropa, Amerika, dan Asia, terjalin erat. Ia mewujud dewa-dewi berlari-lari di rindangnya daun dan rerumputan. Tumbuh dewasa memanggul keranda istana gagah perkasa. Menghimpun legiun beriring jalan di tengah hutan, masuk ke desa-desa, ke kota-kota. Menyapamu di ujung belalai:

Haga dipa niku, niku kugusui sayang.

"Aku Biramsattani, dalam hening duduk di tunggul lapuk, bertanya berkali-kali kepada beringin tempat berteduh. Dahannya tak akan luruh. Wahai Tadulako, pemangku Nusantara ini, akankah anak keturunan Biramsattani suatu saat nanti dibiarkan punah setelah belalainya patah, diburu hilang sebelah?"

Di ujung Lampung, hati Raja Buay tengah bersedih, berseru dalam titah:

"Wahai kultur tutur berantai, kabarkan alur telik sandi Biramsattani kepada Suku Tumi yang pernah memikul amanah langit. Demi kelangsungan keturunan, tak hutan dirambah semaunya saja. Rumah-rumah gajah terbakar musnah. Mereka haus dan lapar kehilangan arah sebab pasukan Biramsattani ditembak mati siang tadi. Apa salahnya trah Ganesha itu kini?"
Seandainya Raja Buay masih ada, tak akan gading-gading gajah itu patah. Raja Buay, tetua Jenggala Jaya Dwipa, berduka. Akhirnya gajah dewa rimba tersisa di bumi Sumatra hanya setetes air mata.

Berharap kepada teguran rakyat lewat adat mengikat kuat, serta kepada peraturan yang ada. Biarlah permata rimba hidup berkeluarga, hidupnya tak punah.

Oh, Biramsattani, si gajah putih, sudilah engkau aku belai dan engkau menciumku berkali-kali sampai ke lubuk hatiku terdalam. Lestarilah rimba Sumatra seiring keberlangsungan trah "Ganesha Wignesa Wigneswara" di matamu!

 

Jakarta, 31 Maret 2026

***

 

Epos tarian Sintren

 

Kisahmu di nagari Pantura, ikon Cirebon dan Indramayu. Sebuah khazanah budaya menceritakan Asmaradana Sulandono dan Dewi Sulasih yang tak direstui orang tua: Bahurekso dan Dewi Rantamsari.

Kepada pawang pemegang kunci, genderang tarian berkomat-kamit, diiringi kidung mistis berlangsung taktis. Wewangian kembang tujuh rupa semerbak menyatu dengan asap kemenyan.

Datanglah, tujuh bidadari! Masuk ke kurungan ayam yang disediakan itu! Sebab Dewi Lanjar tengah bersolek di atas buih memutih ombak pesisiran.

Malam yang bisu tanpa lampu bersuara tiba-tiba. Bernyali tarian tanpa henti, terbujur sesaat lalu bangkit. Dikelilingi gaib, tujuh bidadari turun dari kahyangan masuk ke tubuh sintren, bernuansa kidung ke penjuru kampung.

Perkampungan kedatangan tamu kala purnama membangunkan gaok gagak. Mata pisau memburu tubuh sintren yang kerasukan. Gemulai kemayu lenggoknya. Hasrat tumbuh berharap cinta di dalam kebatinan mempertemukan pasangan.

Bangkitlah, kekasihku, dari pertapaanmu, Raden Sulandono! Aku, Dewi Sulasih, tersisih atas perjodohan tak direstui. Aku tumbang pada bayang-bayang Mataram dalam gelap sebagai putri petani peristiwa Kalisalak.

Oh, buih yang memutih disapu ombak, tersapulah air mata garamku dalam hening. Ketika purnama perlahan berarak esok pagi, aku, Dewi Sulasih, terbangun dan tetap jadi penari. Kelak kejadian ini menjadi tradisi sepanjang pesisir Pulau Jawa, Indramayu, budaya yang direstui semesta.

Teruskan bermantra, Tuan Pawang! Biarkan aku pulang membawa tarian mengenang kejadian, sebab zaman menangisi arah, budaya terkikis punah. Maka jagalah yang ikonik tak meninggalkanmu, wahai cucuku. Biarkan purba sangka menjadi kajian yang tak sudah.

Aku si empu madah bermeditasi diksi di atas kesadaran memahami kesaksian jalannya pertunjukan bernilai tinggi di Indramayu. Izinkan aku berkunjung ke kotamu membawa tarian puisi ini.

 

Jakarta, 3 Oktober 2025

***

 

Epos Tarian Randu Kentir

 

Nyi Dariwan tenggelam,

bersemayam di Kali Cimanuk yang dalam

dan tak pernah kembali lagi ke gubuk aki.

Aku mencarimu ke hilir hati,

hanya bayangan yang dapat kuraih,

mewujud randu rambut memutih.

Aku, Ki Dariwan, berkidung kematian,

menganyam gendang trebang.

Menarilah, menari dayang-dayang,

hingga datang selendang mayang.

Nyi Dariwanku sayang,

sudah lama tak pulang-pulang.

Oh, Nyi Dariwanku,

rohmu menari dalam tarian epos

yang dimainkan zaman.

Mereka mengenangmu di Randu Kentir,

menghibur kesunyian kidung Kinanti.

Menarilah, menari anak cucuku,

hingga pagi.

Biarkan purnama tinggal sealis,

budaya yang direstui Mbah Kuwu Sangkan,

kepadamu Dermayu Mulih Harja Kemakmuran.

Epos tari trebang Randu Kentir,

mengukur bayangan diri,

lestari tarian budaya.

Eyang Raden Arya Wiralodra,

mengukir takdir

didawamkan

anak keturunan.

 

Jakarta, 2 Oktober 2025

***

 

Romy Sastra adalah penyair berdarah Minang yang berdomisili di Jakarta Barat. Telah menerbitkan tiga buku puisi tunggal, yaitu Tarian Angin (2019), Alegori (2023), dan Heraldik Berwajah Seribu (2025). Karya-karyanya tergabung dalam lebih dari 150 antologi puisi bersama. Nama Romy Sastra juga tercantum dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia, edisi Yayasan Hari Puisi Indonesia (2019).

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat