Burhanuddin Abdullah | Dok Republika

Nasional

Era AI Makin Cepat, Burhanuddin Abdullah Ingatkan Pelajaran dari Reformasi Perbankan

Reformasi sistem perlu berjalan bersama penguatan kualitas manusia.

JAKARTA – Perubahan ekonomi dan teknologi menuntut penguatan sistem sekaligus peningkatan kualitas manusia agar masyarakat mampu beradaptasi dengan cepat. Pengalaman reformasi perbankan di Indonesia menunjukkan bahwa perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berjalan bersama dengan penguatan literasi, pengetahuan, dan kapasitas masyarakat.

Mantan gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah mengatakan perkembangan ekonomi dan teknologi saat ini menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Menurut dia, perubahan tersebut perlu diikuti kemampuan masyarakat untuk memahami informasi, mengembangkan pengetahuan, serta mengambil keputusan secara lebih baik.

Pandangan tersebut tidak terlepas dari pengalamannya dalam mengawal kebijakan ekonomi dan sektor perbankan. Saat menjabat Gubernur Bank Indonesia periode 2003-2008, salah satu agenda penting yang dikembangkan adalah Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur industri perbankan setelah krisis 1998.

Namun, menurut Burhanuddin, penguatan sistem ekonomi tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia. Ia menilai persoalan literasi dan kemampuan kognitif masyarakat turut berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi.

“Saya ini salah hidup. Saya mengarang ratusan buku di negara yang rakyatnya tidak suka baca,” ujarnya dalam sebuah perbincangan di podcast LPPI.

Burhanuddin mengatakan, rendahnya minat baca tidak semata-mata berkaitan dengan kebiasaan masyarakat, tetapi juga dipengaruhi kondisi ekonomi dan kualitas pendidikan. Ketimpangan kesejahteraan dan persoalan gizi, menurut dia, turut memengaruhi kemampuan kognitif masyarakat.

“Pembagian kue ekonomi yang tidak merata telah menghantam persoalan-persoalan kognitif, persoalan akademik karena stunting dan sebagainya,” katanya.

Menurut Burhanuddin, pemahaman terhadap ekonomi juga tidak cukup dibangun melalui angka dan teori. Ia menilai pengetahuan mengenai sejarah, filsafat, sastra, agama, politik, hingga lingkungan dapat membantu melihat persoalan ekonomi dari perspektif yang lebih luas.

Pandangan tersebut juga menjadi perhatian ketika membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI). Burhanuddin mengakui perkembangan teknologi tersebut menunjukkan kemampuan yang semakin maju dalam mengolah dan menyusun informasi. Kecerdasan buatan ini memang benar-benar cerdas,” ujarnya.

Meski demikian, Burhanuddin menilai kemampuan teknologi tetap memiliki batas dibandingkan manusia. Menurut dia, manusia memiliki nilai, keyakinan, keberanian, dan perasaan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Karena itu, perkembangan AI menurut Burhanuddin perlu diikuti dengan penguatan kemampuan manusia. Teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan dan pengolahan informasi, tetapi keputusan tetap membutuhkan pertimbangan, nilai, serta tanggung jawab manusia.

Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk mencoba dan berinovasi di tengah perubahan ekonomi dan teknologi. Menurut Burhanuddin, kekhawatiran terhadap kesalahan tidak seharusnya menghambat munculnya gagasan baru.

“Jangan takut berbuat salah. Kreatif dan inovatif itu bisa saja salah. Kalau takut salah, kita tidak akan kreatif, tidak akan inovatif, dan akhirnya tidak berbuat apa-apa,” kata Burhanuddin.

Dalam konteks pembangunan ekonomi, pandangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan institusi dan reformasi kebijakan perlu berjalan bersama dengan peningkatan kualitas manusia. Pengalaman reformasi perbankan menjadi salah satu contoh bahwa perubahan sistem membutuhkan penyesuaian kebijakan sekaligus kapasitas pelaku ekonomi dalam menghadapi perubahan.

Burhanuddin juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Ia mengibaratkan pekerjaan, keluarga, pertemanan, kesehatan, dan semangat sebagai lima bola yang harus dijaga secara bersamaan.

“Pekerjaan itu seperti bola karet. Kalau jatuh, masih bisa memantul kembali. Tapi keluarga, pertemanan, kesehatan, dan semangat adalah bola kaca. Kalau jatuh, akan pecah dan sulit disusun kembali,” tuturnya.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat, Burhanuddin melihat tantangan ekonomi ke depan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menciptakan pertumbuhan, tetapi juga bagaimana memastikan masyarakat memiliki pengetahuan, kemampuan beradaptasi, dan keberanian berinovasi. Reformasi kelembagaan, penguatan literasi, dan pemanfaatan teknologi perlu berjalan beriringan agar perubahan ekonomi memberikan manfaat yang lebih luas.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat