Keindahan Istana Alhambra di Granada, Spanyol. Bangunan ini menjadi saksi bisu kejayaan Islam di Iberia abad ke-10 | DOK FLICKR

Tema Utama

29 May 2022, 07:02 WIB

Kemajuan di Era Amiriyah Andalusia

Pada masa ini, Andalusia dipimpin wazir yang bervisi peradaban.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Kota-kota Islam pada abad pertengahan memancarkan cahaya ke berbagai penjuru dunia. Para penulis modern mengakui dan mengagumi kemajuan yang dicapai pusat-pusat peradaban tauhid. Penulis berdarah Yahudi kelahiran Austria-Hungaria, Leopold Weiss (1900-1992), mengajak masyarakat Eropa (Barat) untuk merenungi kontribusi Muslimin bagi kebudayaan mutakhir.

Menurut jurnalis poliglot itu, era pencerahan tidak dimulai dari kota-kota Barat. “Zaman ilmiah modern yang sekarang kita hidup di dalamnya dibuka oleh kantong-kantong Islam, seperti Damaskus, Kairo, Baghdad, dan Kordoba,” tulis intelektual yang bernama Muhammad Asad—sejak menjadi mualaf—itu dalam Islam at the Crossroads (1934).

Dari kota-kota yang disebutkannya itu, Kordoba merupakan yang terdekat dari jangkauan Barat. Selama tiga abad, kota tersebut menjadi pusat pemerintahan daulah Bani Umayyah di Andalusia—sebutan untuk wilayah Muslimin di Semenanjung Iberia.

Puluhan penguasa silih berganti memimpin negeri tersebut, dari yang semula berbentuk emirat (756-929 M) hingga menjadi sebuah kekhalifahan-tandingan (929-1031 M).

photo
Semenanjung Iberia saat berada dalam kendali Daulah Islam. - (DOK WIKIPEDIA)

Salah seorang pemimpin besar dalam sejarah Kekhalifahan Kordoba adalah Abdul Malik al-Muzhaffar. Dia bukan khalifah, melainkan perdana menteri (al-hajib) kedua Kordoba. Sejak Hisyam II al-Mu`ayyad Billah (1010-1013 M) naik takhta, otoritas al-hajib kian membesar.

Agar tidak terkesan adanya “matahari kembar”, urusan pemerintahan eksekutif kemudian menjadi bidang kerja perdana menteri. Kekuasaan atas negeri itu secara de facto berada di tangan al-hajib. Bagaimanapun, sosok khalifah tetap dipertahankan sebagai simbol pemersatu negeri.

Saat Hisyam II duduk di kursi khalifah, yang menjadi wazirnya adalah al-Manshur bin Abi Amir. Sosok yang disebut orang-orang Eropa sebagai Almanzor itu merupakan bapak kandung Abdul Malik al-Muzhaffar.

Prof Raghib as-Sirjani dalam Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia mengatakan, bapak dan anak itu dengan cakap memimpin Kordoba dan Andalusia pada umumnya. Keduanya berhasil mewujudkan stabilitas politik, sesuatu yang lantas mendukung perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat.

As-Sirjani menyebut periode kepemimpinan al-Manshur (978-1002 M) dan penerusnya, al-Muzhaffar (1002-1008 M), sebagai era Amiriyah. Sebab, keduanya berasal dari keturunan Abi Amir al-Ma’afiri. Dalam rentang masa tiga dekade itu (978-1008 M), mereka berhasil menyuburkan Andalusia sebagai sentra ilmu pengetahuan dan sains. Kordoba adalah permatanya Eropa kala itu.

photo
Lukisan al-Zahrawi sedang memeriksa pasien di rumah sakit di Kordoba. Bapak ilmu bedah modern itu hidup pada era Amiriyah - (DOK FLICKR)

As-Sirjani merangkum beberapa tokoh intelektual yang mengemuka pada era Amiriyah. Pertama, Syekh Ahmad bin Abdullah bin Dzakwan. Dia merupakan khatib utama di Masjid Agung Kordoba. Al-Manshur lantas mengangkatnya untuk memimpin peradilan negeri.

Bagi sang wazir, Ahmad bin Abdullah merupakan sosok penasihat yang sangat jernih. Kata-kata yang keluar dari lisannya jauh lebih dipercayainya ketimbang laporan para menteri. Ketika al-Muzhaffar menjadi perdana menteri, kedekatan dengan sang fakih tidak lantas berkurang.

Kedua, Ibnu Jaljal. Pemilik nama lengkap Abu Dawud Sulaiman bin Hasan itu merupakan pakar dalam bidang kedokteran dan farmasi. Sepanjang hayatnya, ilmuwan tersebut telah menuliskan banyak sekali karya, termasuk Thabaqat al-Athibba’ wa al-Hukama.

Kitab itu mengikhtisarkan sejarah pengobatan yang berkembang di dunia belahan timur dan barat. Di dalamnya, sang penulis menyajikan profil tidak kurang dari 57 ahli fisiologi dari Yunani, Spanyol, Persia, Arab, dan Afrika. Berbagai pemikiran Ibnu Jaljal kemudian dikaji para sarjana Barat, seperti Albertus Magnus. Biarawan Ordo Dominikan dari abad ke-13 itu terkenal di kalangan Katolik sebagai tokoh yang menjembatani antara sains dan agama.

Ketiga, Abu al-Qasim Maslamah bin Ahmad al-Majrithy. Saintis yang dijuluki “imam para matematikawan Andalusia” itu berasal dari Majrith (Madrid). Di antara banyak jasanya adalah menerjemahkan Planispherium karya Ptolemeus, memperbaiki terjemahan Almagest, mempresisikan tabel astronomi al-Khwarizmi, serta memelopori teknik-teknik geodesi dan triangulasi. Ia juga dikenang sebagai penyusun tabel konversi kalender Persia ke penanggalan Hijriyah.

photo
Lukisan yang menggambarkan warga Andalusia Arab dan non-Arab sedang menyelesaikan problem matematika. Pada era Amiriyah, peradaban Islam di Andalusia kian maju dan kosmopolit - (DOK WIKIMEDIA)

Di ranah keilmuan kimia, al-Majrithy termasuk yang paling awal meneliti kegunaan merkurat oksida (HgO). Sejarawan dari abad ke-14, Ibnu Khaldun, memuji kitab Ghayah al-Hakim dan Rutbah al-Hakim yang membicarakan perihal disiplin ilmu tersebut karya sang ilmuwan Madrid.

Beberapa penulis di era modern mengaitkannya dengan perkumpulan ilmiah namun “misterius”, yakni Ikhwan al-Safa. Sebab, salah satu karyanya yakni Rasa’il Ikhwan ash-Shafa memiliki judul yang persis sama dengan Rasa’il Ikhwan al-Shafa walaupun berisi hal-hal yang lain.

Keempat, Ibnu al-Faradhy. Hafiz Alquran yang ahli sejarah itu bernama lengkap Abu al-Walid Abdullah bin Muhammad bin Yusuf al-Azdi. Lelaki yang lahir di Kordoba pada 962 M itu menyusun banyak buku, termasuk Akhbar Syu’ara al-Andalus yang mengumpulkan data kaum terpelajar Andalusia pada masanya.

Di samping itu, ada pula Kitab fii al-Mu’talaf wa al-Mukhtalaf serta Musytabah an-Nisbah. Di antara murid-muridnya adalah Abu Umar bin Abdil Barr, yang di kemudian hari menjadi ulama besar mazhab Maliki.

Kelima, Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas al-Zahrawi. Orang-orang Eropa menyebut namanya Abulcasis. Dialah sosok yang diakui luas sebagai ahli bedah terbaik pada abad pertengahan. Bahkan, tidak sedikit yang menggelarinya “peletak dasar ilmu bedah medis modern".

 
Hingga abad ke-19, terjemahan Kitab at-Tashrif tetap menjadi rujukan para sarjana Barat, baik di kampus-kampus maupun rumah-rumah sakit.
 
 

Ia menulis sebuah ensiklopedia berjudul Kitab at-Tashrif, yang terdiri atas 30 jilid. Buku yang diselesaikannya dalam kurun waktu setengah abad itu berisi banyak informasi mengenai praktik-praktik kedokteran, termasuk penanganan operasi medis dan alat-alat bedah—yang jumlahnya tidak kurang dari 26 buah. Hingga abad ke-19, terjemahan Kitab at-Tashrif tetap menjadi rujukan para sarjana Barat, baik di kampus-kampus maupun rumah-rumah sakit.

“Abulcasis meletakkan dasar-dasar dan aturan-aturan operasi pembedahan. Di antaranya yang terpenting adalah mengikat pembuluh darah untuk mencegah agar (darah) tidak mengalir serta menciptakan benang jahit untuk pembedahan,” tulis as-Sirjani.

Benang itu disebut juga catgut mungkin karena bahan pembuatannya dari usus hewan, yakni kambing atau sapi, yang dipilin hingga mirip “usus kucing.”

Al-Zahrawi juga mengembangkan alat bedah untuk operasi caesar dan pengangkatan katarak. Dialah orang pertama yang menemukan akar penyebab kelumpuhan, yang ternyata berkaitan dengan tulang belakang.

Yang juga luar biasa, sang mahaguru sering kali menangani sendiri kasus-kasus pembedahan medis, tidak menugaskan murid atau bawahannya, bahkan untuk proses yang tidak seorang pun pakar medis selainnya berani turun tangan.

Popularitas al-Zahrawi sebagai dokter bedah yang andal menyebar hingga ke seantero Eropa. Will Durant (meninggal 1981), penulis buku The Story of Civilization, menuturkan, Kordoba menjadi incaran banyak bangsawan maupun elite Barat kala itu untuk mendapatkan penanganan medis yang prima. Ibu kota daulah Umayyah-Andalusia itu pun memiliki tidak kurang dari 50 unit rumah sakit yang menawarkan poli bedah.


Andalusia Sejak Abad ke-10, Iberia Era Amiriyah

Sejak pertengahan abad ke-10 hingga awal abad ke-11, Kordoba menjadi permata Eropa.

SELENGKAPNYA

Masjid Arab, Jejak Kebaikan Hati Utsmani

Sejak saat itu, tempat ibadah tersebut lebih populer dengan nama Masjid Arab atau Arap Camii.

SELENGKAPNYA

Albert Ray Myers Menemukan Tujuan Hidup

Albert Ray Myers mulai mengenal ajaran Islam sejak hijrah ke Indonesia.

SELENGKAPNYA
×