Cover Islam Digest edisi Ahad 29 Mei 2022. Andalusia Sejak Abad ke-10, Iberia Era Amiriyah | Islam Digest/Republika

Tema Utama

29 May 2022, 06:52 WIB

Andalusia Sejak Abad ke-10, Iberia Era Amiriyah

Sejak pertengahan abad ke-10 hingga awal abad ke-11, Kordoba menjadi permata Eropa.

 

 
Dinamika melanda sejak kukuhnya Kekhalifahan Kordoba di Andalusia, Semenanjung Iberia. Memasuki abad ke-10, daulah di Benua Eropa itu dipimpin perdana menteri yang piawai. Pada masanya, peradaban Islam kembali tumbuh subur.
 
 

OLEH HASANUL RIZQA

 

Sejak abad kedelapan, peradaban Islam mulai tumbuh subur di Semenanjung Iberia. Keadaan wilayah tersebut sangat kontras dengan situasi umumnya di Eropa pada tempo yang sama. Prof Raghib as-Sirjani dalam Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia mengatakan, Benua Biru kala itu masih didominasi hutan belantara.

Desa-desa setempat menerapkan pertanian yang terbelakang. Rawa-rawa yang menggenangi pinggiran kota menyebarkan bau busuk. Paris dan London, misalnya, tidak sebanding dengan kota-kota yang dipimpin Muslimin di Andalusia. Jalan-jalan di sana tidak dilengkapi dengan saluran air. Pada malam hari, gelap gulita menyelimuti karena ketiadaan penerang.

Kawula di kedua kota tersebut tinggal dalam rumah-rumah yang berbahan kayu dan tanah, beratapkan jerami. Kediaman mereka serasa penuh sesak karena nyaris tidak berventilasi. Kamar-kamar tidak tertata rapi. Semua anggota keluarga tidur di satu ruang yang sama. Bahkan, binatang ternak sering kali dikumpulkan dengan mereka.

photo
Keindahan Istana Alhambra di Granada, Spanyol. Bangunan ini menjadi saksi bisu kejayaan Islam di Iberia abad ke-10 - (DOK FLICKR)

Bagaimana dengan kawasan Islam, Andalusia? As-Sirjani menyebutkan antara lain Granada, Sevilla, dan Kordoba sebagai contohnya. Di Granada, sang peneguh Bani Umayyah Iberia, Abdurrahman ad-Dakhil, membangun berbagai fasilitas umum.

Belakangan, pada abad ke-13 penguasa Muslim setempat mendirikan sebuah karya arsitektur Islam yang amat menakjubkan. Istana Alhambra berada di atas bukit yang menghadap kota tersebut.

Di Sevilla, Daulah Umayyah menggerakkan industri tekstil. Kota tepian Sungai Guadalquivir tersebut, menurut as-Sirjani, menjadi lokasi pabrik-pabrik dengan total enam ribu alat tenun sutra.

Pemerintah setempat juga mendukung geliat perkebunan warga. Setiap penjuru kota dikelilingi pohon-pohon zaitun. Karena itu, ada banyak pengolahan minyak zaitun di sana. Jumlahnya tidak kurang dari 100 ribu unit.

Adapun Kordoba menjadi wajah kejayaan Islam di Iberia. Inilah kota yang dipilih Bani Umayyah sebagai pusat pemerintahan. Maka berdirilah banyak bangunan megah di sana. Salah satunya adalah Masjid Agung Kordoba, yang diinisiasi Abdurrahman ad-Dakhil pada 785 M.

Di kemudian hari, cicitnya yang bernama Abdurrahman III an-Nashir Lidinillah memaklumkan terbentuknya Kekhalifahan Kordoba pada 929. Sejak itu, semakin gencarlah pembangunan pelbagai sarana dan prasarana peradaban di sana.

photo
Patung Abdurrahman ad-Dakhil di Granada, Spanyol. - (DOK PINIMG)

Kota yang dalam bahasa Arab disebut al-Qurthubah ath-Thayyibah itu juga menjadi pusat keilmuan yang berwatak kosmopolitan. Hal itu terjadi berkat dukungan penguasa setempat. Kaum terpelajar, baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim, difasilitasi guna mengembangkan ilmu pengetahuan. Penerus Abdurrahman III, Khalifah al-Hakam II (wafat 976) juga menjadi teladan kepemimpinan yang mencintai literasi.

Tidak kurang dari 70 perpustakaan publik tersebar merata di seantero Kordoba dalam masa kekuasaannya. Setiap unit memiliki koleksi buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu eksemplar.

Pengembangan Universitas Kordoba pun berlangsung pesat. Lembaga tersebut menjadi perguruan tinggi yang paling disegani seantero Eropa pada masa itu. Dalam konteks dunia Islam, reputasinya sebanding dengan Universitas al-Azhar di Kairo atau Universitas Nizhamiyah di Baghdad.

Banyak pelajar dari berbagai wilayah Eropa datang untuk menimba ilmu di Kordoba. Apalagi, kampus itu terbuka, baik pada mahasiswa Muslim maupun non-Muslim. Untuk sekadar menyebut satu contoh, seorang tokoh Katolik pernah belajar di sana. Dialah Gerbert d'Aurillac (945-1003), yang akhirnya diangkat komunitas Kristen Barat menjadi Paus Sylvester II.

photo
Masjid Agung Kordoba, salah satu peninggalan Abdurrahman ad-Dakhil. - (DOK WIKIPEDIA)

'Yang beruntung'

Andalusia merupakan sebutan bagi wilayah yang dikuasai Muslimin di Semenanjung Iberia. Sejarawan berbeda pendapat mengenai asal mula atau etimologinya.

Ada yang mengatakan, nama tersebut berasal dari penyebutan bahasa Arab untuk Vandal, bangsa yang menguasai Iberia antara tahun 435 dan 534 M. Sarjana ulung, Ibnu Khaldun, dalam catatannya pada abad ke-14 menyebut mereka sebagai al-Fandalus.

Teori lain, yang diajukan sejarawan Halm (1989), menduga bahwa nama Andalusia berasal dari bahasa Latin untuk menyebut Gothica sors, yakni negeri Visigoth—kerajaan yang dilawan aliansi Umayyah-Ceuta pada 711 M. Gothica sors diterjemahkan ke dalam bahasa Gothik, landahlauts. Menurut Halm, bahasa Arab kemudian mengadopsinya menjadi al-andalus.

Di Andalusia, kekuasaan Muslim mengalami pasang surut akibat beberapa konflik politik yang terjadi. Bagaimanapun, para penguasa setempat memanfaatkan segala daya untuk mengukuhkan peradaban Islam, khususnya ketika stabilitas berlangsung.

Di antara mereka adalah pemimpin yang namanya secara harfiah berarti ‘orang yang beruntung’, al-Muzhaffar. As-Sirjani mengatakan, wazir Kekhalifahan Kordoba pada awal abad ke-11 itu menghadirkan masa gemilang.

Pemilik nama lengkap Abdul Malik al-Muzhaffar itu merupakan putra perdana menteri (al-hajib) pertama Kordoba, al-Manshur bin Abi Amir. Sosok yang disebut bangsa Eropa barat sebagai Almanzor itu memiliki kekuasaan politik yang besar pada masa Khalifah Hisyam II.

photo
Al-Manshur bin Abi Amir atau Almanzor, dan putranya, al-Muzhaffar, merupakan peletak dasar Era Amiriyah di Andalusia - (DOK WIKIPEDIA )

Maka sesudah ayahnya wafat pada 1002 M, al-Muzhaffar segera mendatangi Istana. Ia meminta haknya kepada sang khalifah agar ditetapkan sebagai penerus jabatan almarhum.

Naiknya al-Muzhaffar bin al-Manshur sebagai perdana menteri baru membuat gentar kerajaan-kerajaan Kristen di utara Andalusia. As-Sirjani menerangkan, biasanya para raja Kristen langsung melanggar perjanjian damai yang dibuat dengan Muslimin sebelumnya begitu amir meninggal dunia.

Kebiasaan itu ternyata tidak dilakukan sesudah Almanzor wafat. Barangkali, penyebabnya adalah berbagai pukulan telak yang pernah dilakukan sang wazir semasa hidupnya.

Namun, negeri Kristen di timur Andalusia, Barcelona, tetap berupaya melawan. Maka al-Muzhaffar menyiapkan pasukan dalam jumlah besar ke kota tersebut. Usai pertempuran, Muslimin berhasil meraih kemenangan. Beberapa benteng setempat dapat direbut.

Sang wazir kemudian membuat kebijakan agar wilayah-wilayah yang sudah ditaklukkan itu segera dihuni umat Islam. Penghidupan mereka dibiayai kas negara. Pada Idul Fitri 393 Hijriyah, ia memimpin shalat Id di Barcelona, sekaligus menandakan kedaulatan Kordoba terhadap lawan.

 
Pada Idul Fitri 393 Hijriyah, ia memimpin shalat Id di Barcelona, sekaligus menandakan kedaulatan Kordoba terhadap lawan.
 
 

Dengan kepemimpinan yang tegas dan berwibawa, Andalusia pada masa itu menjadi negeri yang sangat dihormati di Eropa. Raja-raja Kristen di pinggiran Iberia tidak punya banyak pilihan selain mengikat perjanjian damai dengan Kekhalifahan Kordoba.

Memang, ada kerajaan Castille yang masih saja bersikeras mengadakan pemberontakan. Akan tetapi, perlawanan itu lambat laun dapat dipatahkan al-Muzhaffar.

Tidak hanya mewaspadai potensi ancaman di Semenanjung, ia juga melihat kekuatan dari seberang lautan. Al-Muzhaffar mulanya berupaya menjalin kerja sama dengan Dinasti al-Maghrawiyin di Afrika utara. Namun, pemimpin mereka, Ziri bin Athiya, menolak proposal tersebut.

Tidak ada opsi lain, wazir Kekhalifahan Kordoba itu lantas mengirimkan pasukan yang dikomandoi Wadhih ash-Shiqlabi, gubernur Andalusia tengah. Beberapa bulan kemudian, misi tersebut sukses mengalahkan Ziri. Bahkan, Fez dan beberapa kota di Maghribiyah (Maroko) dapat direbut dari tangan mereka.

photo
Kerajaan Iberia yang berada di ujung barat daya benua Eropa. - (DOK Wikipedia)

Permata Eropa

Sejak pertengahan abad ke-10 hingga awal abad ke-11, Kordoba menjadi “Permata Eropa". Pusat Daulah Umayyah di Andalusia itu berperan sebagai jembatan peradaban Islam di Benua Biru. Dari sanalah, orang-orang Barat mulai mengenal dan mempelajari berbagai kemajuan yang dicapai Muslimin.

As-Sirjani mengatakan, Kordoba dan Andalusia secara keseluruhan adalah saluran penting untuk proses transfer pemberadaban (civilising) dari Islam ke Eropa (baca: Barat). Hal itu mencakup bidang ilmu, pemikiran, sosial, ekonomi, dan sebagainya.

Wilayah Muslimin ini memang sempat dilanda kekacauan politik yang hebat pascawafatnya al-Muzhaffar pada 1008 M. Namun, Andalusia terus bertahan sebagai mimbar pencerahan hingga titik nadir yang tidak lagi terpulihkan, Reconquista, yang ditandai jatuhnya Granada pada 1492 M.

Keagungan daulah Islam ini diakui para penulis Eropa yang sezaman ataupun era modern. Sosiolog Prancis Gustave Le Bon menulis, “Begitu orang-orang Arab berhasil menaklukkan Spanyol, mereka mulai menegakkan risalah peradaban di sana. Mereka memberikan perhatian yang besar untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan sastra, menerjemahkan buku-buku Yunani dan Latin, dan mendirikan universitas-universitas yang menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan dan peradaban di Eropa dalam waktu yang lama.”

Mekarnya peradaban Islam di Andalusia juga didukung kebijakan penguasa yang tidak menutup kesempatan bagi siapapun warga. Selama tidak mengancam keamanan negeri, para amir dan khalifah mempersilakan warga dari kalangan Nasrani ataupun Yahudi untuk bekerja di institusi-institusi pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Keberadaan kaum terpelajar non-Muslim bukanlah hal yang tabu di lembaga-lembaga yang dibiayai negara.

 
Keberadaan kaum terpelajar non-Muslim bukanlah hal yang tabu di lembaga-lembaga yang dibiayai negara.
 
 

Dengan membangun banyak sarana dan prasarana pendidikan, khalifah dapat menerapkan pembudayaan dengan medium bahasa Arab. Orang-orang Spanyol, termasuk yang non-Muslim, menjadi terbiasa berbahasa Arab. Bahkan, menurut as-Sirjani, mereka lebih mengutamakannya daripada bahasa Latin.

Seperti Bait al-Hikmah Baghdad di timur, Kordoba pun menjadi tempat penerjemahan buku-buku ilmiah dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Di antara karya-karya yang diterjemahkan ialah catatan Gallienus, Hippokrates, Plato, Aristoteles, dan Euklid. Sebaliknya, proses alih bahasa dari Arab ke Latin pun gencar dilakukan.

Seorang penerjemah yang masyhur pada masa itu adalah Jirarid ath-Tholtoli. Intelektual kelahiran Italia itu datang ke Toledo pada 1150 M. Dikatakan bahwa ia menerjemahkan 100 buku, termasuk Al-Qanun karya Ibnu Sina dan Al-Manshuri-nya ar-Razi.


Masjid Arab, Jejak Kebaikan Hati Utsmani

Sejak saat itu, tempat ibadah tersebut lebih populer dengan nama Masjid Arab atau Arap Camii.

SELENGKAPNYA

Albert Ray Myers Menemukan Tujuan Hidup

Albert Ray Myers mulai mengenal ajaran Islam sejak hijrah ke Indonesia.

SELENGKAPNYA

Jauhi Sifat Dengki

Islam mengajarkan umatnya agar menjauhi sifat dengki.

SELENGKAPNYA
×