Arsip Foto : Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif (kanan) menjawab pertanyaan wartawan seusai menemui pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Rabu (23/12/2015). Buya Syafii Maarif wafat pada Jumat, 27 Mei 2022. | ANTARA FOTO/Reno Esnir

Nasional

28 May 2022, 14:00 WIB

Syafi’i Ma’arif sebagai Pemersatu Bangsa

Buya Syafi'i merupakan tokoh inspiratif dalam pembangunan Indonesia

KHOIRUL BAKHRI BASYARUDIN; Alumni Emir Abdelkadir University of Islamic Sciences Aljazair

 

Gus Dur (Allah yarhamuh) pernah menulis sebuah artikel yang fenomenal dan viral pada masanya, dimuat pada rubrik Kolom, Majalah Tempo edisi 27 Maret 1993, artikel tersebut diberi judul "Tiga Pendekar dari Chicago". Tiga pendekar tersebut adalah tiga cendikiawan muslim kelas kakap; Nurcholish Madjid (Allah Yarham), Syafi'i Ma'arif (Allah Yarham) dan Amien Rais, ketiganya adalah alumni The University of Chicago, Amerika Serikat. Murid ideologis Fazlur Rahman Malik, salah satu tokoh dan pemikir Islam neomodernis paling produktif.

Jika diambil garis kesamaan, ketiganya termasuk dalam kelompok pemikir muslim pembaharu “non tradisional”. Gus Dur membahas ketiga cendikiawan tersebut dalam artikel khusus, karena kekhasan corak pemikiran ketiganya: Nurcholish Madjid, terkenal dengan gagasan universalitas Islam. Gagasan tersebut berangkat dari keterbukaan (Inklusivitas) Islam pada puncak kejayaanya sekitar sepuluh abad lalu. Dengan sikap keterbukaan tersebut Islam menyerap segala hal yang terbaik, dari mana pun datangnya, meski dari agama dan kebudayaan yang berbeda. Dalam setiap gagasanya Nurcholish Madjid selalu menekankan persamaan pada setiap perbedaan yang ada, baik dalam konteks keagamaan ataupun kebudayaan. Oleh karenanya, Nurcholish Madjid menolak gagasan Partai Politik (Islam), karena baginya, dengan membawa Islam pada konteks politik praktis (Partai) justru akan mengkerdilkan Islam dan membawa Islam pada eksklusifitas. Dimana nilai universal Islam rentan disalahgunakan. Terkanal sekali slogan Cak Nur "Islam Yes, Partai (Islam) No".

Tentu saja, gagasan Nurcholish ditolak habis-habisan oleh Amien Rais, sebagai aktivis pergerakan yang besar di Persyarikatan Muhammadiyah dan kemudian mendirikan partai politik (Baca: PAN) dan maju sebagai calon Presiden pada periode 2004-2009. Amien Rais pada era tersebut terkenal dengan gagasan "cara hidup Islami", yang telah Ia kampanyekan lewat mimbar-mimbar kampus. Cara hidup tersebut adalah nilai-nilai khas Islam yang dipegang teguh secara konsisten. Nilai-nilai tersebut bisa saja dikembangkan oleh umat beragama atau faham lain. Berangkat dari pemikiran tersebut, maka nilai-nilai Islam harus dilestarikan dan dipertahankan, dan upaya terbaik dalam pelestarian nilai-nilai Islam adalah melalui sistem politik, sebagai salah satu piranti sosial yang paripurna. Dengan artian, kekuasaan politik sebagai keharusan dalam upaya pelestarian nilai-nilai tersebut. 

Berbeda dengan Amien Rais, meskipun lahir dari rahim Persyarikatan yang sama, kemudian pernah menjabat sebagai orang nomer wahid di Persyarikatan Muhammadiyah, nampaknya Ahmad Syafi'i Ma'arif memilih jalan "da'wah" yang lain, jika boleh dikatakan, aliran pemikiranya lebih dekat dengan Nurcholish Madjid jika dibandingkan dengan saudara sepersyarikatanya Amien Rais. Syafi'i Ma'arif lebih memilih pola "kultural non struktural", dan tidak terlalu mengutamakan kekhasan Islam sebagai sistem politik. Tetapi menurut Gus Dur, Syafi'i Ma'arif sebagai "orang organisasi" juga menekankan pentingnya memasuki pusat-pusat kekuasaan (power centers). Dengan memegang kewenangan kekuasaan, aktivis gerakan Islam (Islamic Movements) memiliki kesempatan lebih luas untuk untuk mengembangkan nilai-nilai Islam sebagai "budaya bangsa", secara tekstual Gus Dur menyebut Syafi'i Ma'arif sebagai "Islam Yes, Partai Islam Yes". 

Yang menarik, jika diperhatikan pola pemikiran dan konsistensi gerakan, Syafi'i Ma'arif adalah “attawassuth baynahuma” atau poros tengah antara Nurcholish Madjid dan Amien Rais. Bahkan, Syafi’I Ma’arif mangkat kehadapan Sang Kuasa diantara keduanya, setelah Nurcholish Madjid dan sebelum Amien Rais.

 

 


×