ILUSTRASI Pada masa Nabi SAW, terdapat para sahabat dari kalangan perempuan. Seorang di antaranya yang terjun ke medan jihad ialah Nusaibah binti Kaab | DOK WIKIPEDIA

Kisah

29 May 2022, 03:35 WIB

Heroisme Nusaibah binti Ka’ab

Salah seorang tokoh yang menjadi mujahid adalah Nusaibah binti Ka’ab.

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam sejarah, perang acap kali menjadi jalan yang tak terelakkan untuk mempertahankan diri. Kaum Muslimin pada masa sahabat Nabi Muhammad SAW pun mengalaminya.

Bersama Rasulullah SAW, mereka melakukan jihad fii sabilillah. Sesudah beliau wafat, perjuangan pun terus berlanjut karena munculnya golongan-golongan perusak.

Salah seorang tokoh yang menjadi mujahid adalah Nusaibah binti Ka’ab. Sahabat dari kalangan perempuan ini akrab disapa Ummu Ammarah. Dialah ibu dari sahabat Nabi SAW yang bernama Hubaib dan Abdullah bin Zaid.

Bersama suami dan anak-anaknya, Nusaibah memeluk Islam. Maka keluarga yang hidup bersahaja ini dengan setia mengikuti dakwah Rasul SAW. Salah satu ajang jihad yang pernah mereka ikuti adalah Perang Uhud.

Nabi SAW bersabda mengenai suami Ummu Ammarah, “Semoga Allah memberkahi kalian sekeluarga. Kedudukan ibumu lebih mulia dari kedudukan Fulan dan Fulan. Semoga Allah memberkahi kalian sekeluarga.”

 
Semoga Allah memberkahi kalian sekeluarga. Kedudukan ibumu lebih mulia dari kedudukan Fulan dan Fulan. Semoga Allah memberkahi kalian sekeluarga.
 
 

Mendengar itu, istri Zaid bin Ashim tersebut dengan segera memohon kepada beliau, “Berdoalah kepada Allah agar kami menemani Anda di surga.” Nabi SAW kemudian bersabda, “Ya Allah, jadikanlah mereka (keluarga Zaid bin Ashim) sebagai teman-temanku di surga.”

Amat suka cita perasaan Nusaibah. Dalam sebuah riwayat, disebutkan dirinya berkata, “Aku tidak peduli lagi dengan musibah yang menimpaku di dunia.”

Pada masa Nabi SAW, wanita ini ikut serta dalam berbagai ekspedisi Muslimin. Misalnya, Perang Uhud, Hudaibiyah, Khaibah, Umrah Qadha, dan Fathu Mekah. Sesudah al-Musthafa wafat, Nusaibah pun tetap tegar dan pantang menyerah.

Di Perang Yamamah, ia cukup menderita. Perempuan tersebut mengalami putus pada tangannya. Tidak kurang dari 12 luka dirasakannya hari itu. Bagaimanapun, Nusaibah tetap bertahan.

Seseorang bertanya mengenai kisah di balik putusnya lengan Nusaibah. Ia pun menjawab, “Ya, pada Perang Yamamah, aku bersama adikku bersama mengatur orang-orang Anshar. Lalu kami tiba di kebun.”

Selanjutnya, biarkan pengikutnya bertempur dengan cara duet satu lawan satu. Hingga kemudian pertempuran semakin sengit. Si nabi palsu, Musailamah al-Kadzab, semakin terdesak. Satu per satu, pintu benteng pertahanannya dapat dipatahkan serbuah orang-orang yang beriman.

“Bawa aku ke sana untuk membuka pintu gerbang!” seru Nusaibah.

Rupanya, ia hendak melemparkan diri sendiri ke tengah musuh. Saat para pendukung nabi palsu itu menghadapi Muslimah tersebut, maka pasukan Muslimin dapat berfokus pada pintu lainnya.

Maka pasukan kaum Muslimin membawanya dan melemparnya di tengah mereka. Sungguh menegangkan. Bagaimanapun, trik ini berhasil.

Selanjutnya, Nusaibah mengincar Musailimah al-Kadzab. Lantas, seorang laki-laki dari pengikutnya muncul secara tiba-tiba. Sabetan pedangnya memutus tangan Muslimah tersebut. “Demi Allah, aku tidak memperdulikan itu hingga kutemui si manusia jahat (Musailimah al-Kadzab) telah terbunuh. Lalu putraku menutupi lukaku dengan bajunya,” tutur dia.

Belakangan, Nusaibah mengetahui bahwa senjata yang menghabisi nyawa si nabi palsu adalah milik putranya. “Kukatakan padanya, ‘Kau yang membunuhnya, wahai putraku’? Ia menjawab, ‘Iya, Bu,’” kenangnya.

Nusaibah langsung sujud syukur kepada Allah SWT.


Banjir Rob dan Penurunan Tanah

Banjir rob kian parah kalau wilayah pesisirnya mengalami penurunan tanah.

SELENGKAPNYA

Sintesis Wakaf dan Bisnis

Penyusunan feasibility study yang akurat memperbesar peluang keberhasilan pengembangan aset wakaf.

SELENGKAPNYA

Seumpama Pohon Durian

Salah satu ayat kauniyah itu adalah pohon durian yang harum dan enak rasanya.

SELENGKAPNYA
×