Pekerja memberi minum anak sapi usai memerah susu sapi di perternakan sapi perah di kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (25/5/2022). Menurut pekerja isu terkait Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) akhir-akhir ini tidak berpengaruh terhadap penjualan susu sapi. | Prayogi/Republika.

Kabar Utama

27 May 2022, 03:45 WIB

‘Perketat Hewan Kurban dari PMK’

Polda Sumatra Utara (Sumut) mengumumkan status larangan jual-beli hewan ternak dari dan ke 48 desa di provinsi tersebut.

JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta pemerintah daerah untuk mengoptimalisasikan fungsi dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang ada di tiap kecamatan dalam menangani wabah penyakit mulut dan kuku atau PMK pada ternak. Syahrul mengatakan, saat ini keberadaan Puskeswan sangat dibutuhkan.

"Keberadaan Puskeswan harus bisa mendeteksi penyakit hewan seperti PMK. Puskeswan kita dorong untuk berperan optimal sebagai unit terdepan dalam mempercepat proses pelayanan dan penanganan kesehatan hewan," ujar Syahrul dalam pernyataan resmi, Kamis (26/5).

Syahrul melanjutkan, keberadaan Puskeswan sangat vital untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penularan kontak langsung antar hewan ke hewan atau manusia ke hewan. Selain itu, keberadaan puskeswan selama ini mampu mendekatkan peternak dengan petugas kesehatan hewan.

"Saya yakin puskeswan mampu memberikan pelayanan kesehatan hewan yang optimal untuk meningkatkan kualitas kesehatan hewan dan ternak, sehingga PMK ini segera dapat diatasi," kata dia.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nasrullah mengatakan terus melakukan pengawasan ketat terhadap semua hewan ternak yang akan dijadikan kurban dari PMK. Pengawasan tersebut di antaranya mengatur persyaratan teknis tempat penjualan hewan kurban dan tempat pemotongan hewan kurban baik yang dilakukan di RPH maupun di luar RPH.

"Kemudian mengatur prosedur pemotongan hewan kurban dan pendistribusian daging kurban," kata Nasrullah.

Sementara, jumlah hewan ternak yang terjangkit PMK terus bertambah. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang, Jawa Timur mencatat 509 ekor sapi telah terpapar PMK hingga 25 Mei 2022.

Plt Kepala DPKH Kabupaten Malang, Nurcahyo mengatakan, saat ini kasus PMK di Kabupaten Malang terus mengalami penambahan. Namun pihaknya bersama para peternak telah melakukan berbagai upaya untuk pencegahan.

photo
Petugas memeriksa mulut seekor sapi saat pemeriksaan hewan ternak terkait wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Pasar Hewan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (25/5/2022). - (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

"Pengendalian dan juga pengobatan bagi yang terindikasi," kata Nurcahyo saat bersilaturahmi dengan para pedagang hewan ternak di UPT Dinas Peternakan, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Rabu (25/5).

Di Kota Bandung, Jawa Barat, ada lima sapi yang terdeteksi positif PMK. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan, kelima sapi yang terdeteksi positif PMK ditemukan di salah satu peternakan di Babakan Ciparay dan didatangkan dari Pasar Ciwareg, Purwakarta.

Gin Gin menegaskan, saat ini kelima sapi tersebut tengah menjalani proses karantina dan isolasi yang diprediksikan akan berlangsung selama 14 hari. Selama proses karantina, seluruh sapi akan diberikan obat-obatan dan pemeriksaan rutin, ujarnya.

Selain itu, Pemerintah Kota Bandung melalui DKPP akan mendirikan posko penjagaan di empat titik di wilayah perbatasan Kota Bandung. Posko tersebut, kata dia, akan mulai diaktifkan setelah Surat Keputusan Wali Kota Bandung tentang pembentukan Satuan Tugas PMK disahkan. Dia mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk menentukan pemetaan titik pendirian posko.

photo
Anggota Polres Klaten menutup portal pasar hewan di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (25/5/2022). Pemerintah Kabupaten Klaten menutup sementara tujuh pasar hewan sapi dan kambing pada 25 Mei - 7 Juni 2022 untuk menekan penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/tom. - (ANTARA FOTO)

Tutup akses

Polda Sumatra Utara mengumumkan status larangan jual-beli hewan ternak dari dan ke 48 desa di provinsi tersebut. Kapolda Sumut, Inspektur Jenderal (Irjen) Panca Putra Simanjuntak mengatakan, dari penelusuran tim Satgas PMK tercatat sembilan wilayah kabupaten dan kota, yang terjangkiti penyakit hewan tersebut.

“Dari data yang kita terima, di Sumut itu, saat ini tercatat ada sekitar 2.674 ekor hewan ternak yang diduga terjangkit PMK,” kata Panca.

Kata dia, dari jumlah tersebut, sekitar 1.300 hewan ternak, saat ini dalam masa penyembuhan. Dari rekapitulasi sampai 23 Mei, tercatat di Sumut ada total 2.674 hewan ternak yang terjangkit PMK. 


Rekatkan Dukungan untuk Palestina

Dukungan nyata diharapkan membantu perjuangan rakyat Palestina.

SELENGKAPNYA

Saat Kemanusiaan Abaikan Palestina

Ada perbedaan Barat dan Eropa dalam menyikapi konflik Palestina-Israel dengan Ukraina-Rusia.

SELENGKAPNYA

Jangan Berhenti Mencintai Palestina

Palestina tak juga menjadi isu prioritas bagi warga dunia yang lebih tegas saat Perang Ukraina.

SELENGKAPNYA
×