Seorang mualaf, Simon S Iwan Wibowo, menuturkan kisahnya dalam menemukan hidayah Illahi. | DOK IST

Oase

22 May 2022, 08:47 WIB

Simon Wibowo yang Berislam di Usia Muda

Simon Wibowo mulai ingin menjadi Muslim saat masih duduk di bangku SMA.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

 

Allah Ta’ala menetapkan jalan hidayah bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Cahaya petunjuk Illahi menyinari hati dengan berbagai cara. Ada yang merasakannya setelah mendengarkan ayat-ayat suci Alquran dibacakan. Ada pula yang tergugah hatinya usai menyaksikan teladan seorang Muslim di sekitarnya.

Banyak cara untuk datangnya hidayah dari Allah SWT. Yang pasti, tidak ada yang bisa menghindar dari ketetapan-Nya. “Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya” (QS Yunus: 107).

Bagi Iwan Wibowo, karunia terbesar yang Allah anugerahkan untuknya adalah iman dan Islam. Mualaf tersebut mengaku bahagia dengan keislamannya. Bahkan, dirinya kini terus menekuni ilmu-ilmu agama. Masyarakat di lingkungan tempatnya berada juga memanggilnya dengan sebutan ustaz.

Lelaki yang kini berusia 23 tahun itu menuturkan kisahnya. Pemilik nama lengkap Simon Sofian Iwan Wibowo tersebut pertama kali tertarik memeluk Islam saat dirinya duduk di bangku SMA. Tentunya, agama tauhid telah lama dikenalnya sebelum itu.

Guru mengaji anak-anak itu berasal dari keluarga non-Muslim. Ayah dan ibu Iwan Wibowo memiliki latar kultural campuran, Jawa-Tionghoa. Di Cilacap, Jawa Tengah, mereka saat itu menjadi satu-satunya keluarga yang tidak beragama Islam.

 
Ayah saya merupakan keturunan Tionghoa dan ibu saya campuran Jawa dan Tionghoa. Kedua orang tua saya merupakan non-Muslim satu-satunya di kampung saat itu.
 
 

“Ayah saya merupakan keturunan Tionghoa dan ibu saya campuran Jawa dan Tionghoa. Kedua orang tua saya merupakan non-Muslim satu-satunya di kampung saat itu,” ujar Iwan Wibowo kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Mereka memiliki seorang asisten rumah tangga (ART). Pengasuh-anak itu merupakan seorang Muslimah. Mbak Ginah, demikian namanya.

Kedua orang tua Iwan tidak selalu berada di rumah lantaran sibuk mengurus usaha. Karena itu, sering kali ia menyaksikan ART tersebut melaksanakan ibadah khas Islam, terutama shalat lima waktu.

Perkenalannya dengan Islam tidak hanya melalui Mbak Ginah. Hal itu juga dilatari interaksinya dengan lingkungan sekitar rumah. Iwan kecil sering diajak kawan-kawannya untuk bermain di dekat masjid. Maka ia akrab dengan suasana azan, shalat berjamaah, atau ritual mengaji. Beberapa temannya rutin ke rumah ibadah Islam itu, khususnya tiap petang menjelang. Mereka tampak membawa mushaf Alquran.

Ia ingat, ketika Ramadhan tiba Mbak Ginah beberapa kali mengikuti buka puasa bersama dan tarawih di masjid setempat. Pada suatu hari Ramadhan, ART-nya itu menunjukkan kepada Iwan sebuah baju koko. Tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya, bocah non-Muslim itu mengenakan pakaian tersebut.

Lingkungan islami ini cukup memengaruhi kehidupannya semasa anak-anak. Bagaimanapun, nuansa yang diterimanya dari SD agak berbeda. Sebab, lembaga pendidikan itu berbasis agama non-Islam. Tidak ada murid Muslim di sana.

Berbeda halnya ketika ia lulus dan masuk SMP. Walaupun tetap bernama sekolah agama tertentu, ada murid Muslim di sana. Iwan pun memiliki beberapa sahabat yang beragama Islam. Bahkan, pergaulannya lebih dekat dengan mereka yang Muslim.

 
Tidak jarang, apabila waktu shalat tiba Iwan memilih untuk menunggu sahabatnya di dekat halaman masjid.
 
 

Tidak jarang, apabila waktu shalat tiba Iwan memilih untuk menunggu sahabatnya di dekat halaman masjid. Begitu kawan-dekatnya itu sudah selesai menunaikan shalat, ia pun pulang bersama atau melanjutkan bermain.

Memasuki jenjang baru, yakni SMA, Iwan semakin kritis dalam berpikir. Pemuda ini kadang kala merenungi tujuan kehidupan atau konsep ketuhanan. Perenungan itu mengantarkannya pada kesadaran berislam.

Ya, dirinya mulai tertarik untuk mempelajari lebih dekat agama tauhid. Berbeda dengan dua jenjang sekolah sebelumnya, di SMA Negeri ini pergaulannya lebih majemuk. Jumlah kawannya yang Muslim kian banyak. Dari mereka, Iwan mencari tahu, bagaimana caranya mengenal Islam.

Teman-temannya menyambut positif keinginan Iwan mempelajari Islam. Terlebih lagi, pemuda itu sering melakukan kebiasaan yang umumnya dilakukan seorang Muslim. Ambil contoh, mengucapkan “alhamdulillah” sesaat sesudah bersin.

“Ya, saya dahulu sudah terbiasa untuk mengucapkan lafal-lafal Islam, seperti alhamdulillah maupun istighfar,” katanya mengenang.

Waktu itu, tekadnya untuk menjadi Muslim sudah kuat. Ia bahkan berjanji kepada dirinya sendiri, apabila telah lulus SMA atau mencapai usia dewasa maka akan bersyahadat.

 
Saya dahulu sudah terbiasa untuk mengucapkan lafal-lafal Islam, seperti alhamdulillah maupun istighfar.
 
 

Hingga menyelesaikan studinya di sekolah negeri itu, remaja ini tetap pada identitasnya sebagai non-Muslim. Ibadah setiap akhir pekan pun masih dilakoninya. Bagaimanapun, hati kecilnya lebih condong pada Islam.

Pada 2017, ia berhasil menamatkan pendidikan menengah. Selanjutnya, Iwan menjadi mahasiswa di Amikom Purwokerto, Jawa Tengah. Lokasi kampus itu cukup jauh dari rumah. Pemuda ini kemudian memutuskan untuk tinggal di indekos di ibu kota Kabupaten Banyumas tersebut.

Semasa mahasiswa, dirinya memiliki banyak kawan. Umumnya mereka adalah Muslim. Salah satu teman dekatnya adalah Aldi.

Melalui anjuran sahabatnya itu, Iwan mulai gemar menonton dakwah digital yang dilakukan sejumlah dai muda, semisal Ustaz Felix Siauw dan Ustaz Zakir Naik. Lama kelamaan, hobinya adalah menonton ceramah mereka. Ia mengambil kesan, para mubaligh menjelaskan aspek-aspek Islam secara gamblang.

Dengan mendengarkan pemaparan Ustaz Zakir Naik, misalnya, Iwan mulai membaca ulang kitab agamanya dahulu. Ternyata, ada beberapa pokok pembahasan di sana yang terasa baru disadarinya. Lebih mengejutkan lagi, perihal tersebut cenderung dekat dengan ajaran Islam.

Sejak saat itu, Iwan menjadi semakin yakin untuk memeluk agama Islam. Ia pun meminta bantuan temannya untuk menghubungi seorang dosen mata kuliah agama Islam. Ketika waktu perkuliahan usai, pemuda asal Cilacap itu berbicara dengan sang dosen untuk menyampaikan maksudnya.

Setelah itu, Iwan mempersiapkan diri untuk bersyahadat. Dengan disaksikan kawan-kawan sekelas, prosesnya untuk secara resmi berislam pun dilakukan. Atas saran dosen tersebut, ia kembali mengikrarkan dua kalimat tauhid di Masjid Fatimatuzzahra, Purwokerto.

Maka sejak Februari 2018, dirinya mendapatkan sertifikat mualaf dari sana. Bahkan, takmir setempat menawarinya untuk mondok di pesantren Fatimatuzzahra. Tawaran itu ditolaknya secara halus karena masa akhir semester hampir tiba. Ia ingin menghabiskan waktu liburan di rumah, sesuai dengan keinginan ayah dan ibunya.

photo
Iwan Wibowo bersama dengan istri tercinta. Sebelum masuk Islam, mualaf tersebut terinspirasi oleh ceramah-ceramah Dr Zakir Naik. - (DOK IST)

Respons keluarga

Kembali ke Cilacap, Iwan menyampaikan kepada kedua orang tuanya mengenai agama barunya. Ayah dan ibunya sempat terkejut. Sang bapak bahkan mencurigai bahwa keislamannya terjadi karena bujukan pacar.

Namun, tuduhan itu ditampiknya. Lagi pula, ia saat itu tidak sedang dekat dengan gadis mana pun.

Karena baru saja memeluk Islam, Iwan berusaha sebaik mungkin untuk mengamalkan ajaran agama ini. Ia selalu berpakaian yang rapi, lengkap dengan peci dan tasbih di saku. Ia juga datang ke masjid pada awal waktu-waktu shalat.

Di desanya, kebanyakan orang sibuk bekerja pada siang dan sore hari. Alhasil, tidak jarang Iwan mengumandangkan azan dan iqamah seorang diri. Ia pun menjadi imam shalat. Pernah suatu ketika, makmumnya hanya seorang nenek di shaf perempuan.

Sempat ayahnya berbincang kepadanya. Kelak, suatu hari usahanya akan diwariskan kepadanya. Namun, bapaknya khawatir akan perubahan sikap Iwan. Sebab, tiap azan berkumandang dirinya langsung bergegas pergi dari rumah untuk mendatangi masjid.

 
Bapaknya khawatir akan perubahan sikap Iwan. Sebab, tiap azan berkumandang dirinya langsung bergegas pergi dari rumah untuk mendatangi masjid.
 
 

Dengan santun, Iwan menjelaskan bahwa durasi shalat tidaklah lama. Di samping itu, operasional usaha dapat dititipkan barang lima atau 10 menit kepada pegawai. Mendengar jawaban itu, ayahnya dapat menerima dengan lapang dada.

Karena satu dan lain hal, kedua orang tua Iwan berpisah. Ibu kandungnya lalu menikah lagi dengan seorang lelaki Muslim. Belakangan, sang ibu memutuskan untuk ikut mengimani agama suaminya itu. Hingga tutup usia, perempuan ini tetap menjadi Muslimah.

Usai libur semester, Iwan berangkat ke Purwokerto untuk meneruskan studi. Di sakunya, terdapat sejumlah uang yang akan digunakannya untuk membayar iuran indekos. Sesampainya di tujuan, azan berkumandang. Tanpa menunggu apa-apa, ia segera melangkahkan kaki ke masjid.

Siapa sangka, ujian hidup terjadi. Di masjid itu, sesudah shalat berjamaah Iwan menjumpai seorang laki-laki yang berwajah lusuh. Kepadanya, orang itu mengaku membutuhkan uang beberapa ratus ribu rupiah.

“Tetapi, saya mungkin terhipnotis. Niat saya baik ingin membantu orang tersebut. Saya justru memberikan seluruh uang yang ada, sekitar Rp 2,7 juta,” katanya mengingat lagi momen itu.

Begitu melangkah jauh dari masjid, ia baru menyadari keadaannya. Terlambat, orang yang meminta-minta tadi sudah tidak ada di lokasi. Sementara, uang untuk membayar sewa indekos sudah ikut tiada.

Iwan tiba-tiba teringat akan pesan seorang takmir masjid yang menjadi tempatnya mengikrarkan syahadat dahulu. Ustaz tersebut menawarinya untuk tinggal di Pondok Pesantren Mafaza, lembaga yang menyediakan fasilitas untuk mendalami Islam bagi mahasiswa.

Iwan kemudian menghubungi ustaz tersebut. Suara dari ujung telepon dengan ramah mempersilakannya untuk datang ke Mafaza. Bahkan, ia dijemput untuk sampai ke sana.

 
Di antara kawan-kawan seangkatan ia termasuk cepat dalam menerima materi. Sebanyak 10 juz Alquran pun dihafalkannya dengan baik.
 
 

Singkat cerita, Iwan menjadi mahasantri setempat. Dengan tekun, berbagai pelajaran dikajinya. Bahkan, di antara kawan-kawan seangkatan ia termasuk cepat dalam menerima materi. Sebanyak 10 juz Alquran pun dihafalkannya dengan baik.

Setelah lulus dari program pesantren, Iwan pun mengabdikan dirinya untuk mengajar mengaji. Allah menakdirkannya berjumpa dengan seorang perempuan, yang lantas menjadi jodohnya.

Iwan kemudian menikah. Tidak lama berselang, ia memutuskan untuk berhenti kuliah di semester kelima. Sempat menjalani aktivitas rutin berdakwah. Beberapa waktu berselang, ia kembali mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di kampus yang berbeda, dengan alokasi waktu kuliah yang lebih luang.

“Maklum saja, kini saya telah memiliki anak dan istri. Tentu saya harus memprioritaskan untuk mencari nafkah. Namun demikian, saya tetap berusaha untuk menamatkan kuliah kali ini,” ucapnya.

Kini, Iwan berharap kepada Allah SWT agar dimampukan untuk menjadi kepala keluarga yang saleh. Ia pun bermunajat, semoga Allah memberikan hidayah pula kepada seluruh keluarga besarnya, baik dari garis ayah maupun ibu kandungnya.

 


Jangan Lupa Bahagia

Kebahagiaan sesungguhnya datang dari kemampuan memaknai hidup dan nilai-nilai yang dijunjung.

SELENGKAPNYA

Zainab binti Abu Salamah Tumbuh di Bawah Asuhan Rasulullah

Zainab meriwayatkan hadis tentang ketentuan masa berkabung untuk seorang perempuan.

SELENGKAPNYA

Batavia Kolonial dan Jakarta Soekarno

Setelah kemerdekaan, Jakarta berubah total. Sejumlah patung dan tempat yang menggambarkan masa kejayaan kolonail dihancurkan.

SELENGKAPNYA
×