Umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri 1443 Hijriah di Lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat, Senin (2/5/2022). Tumakninah dalam Alquran sebagai suatu kondisi yang menenteramkan kejiwaan seseorang. | ANTARA FOTO/Novrian Arbi/hp.

Tuntunan

22 May 2022, 09:47 WIB

Tumakninah dalam Shalat

Tumakninah dalam Alquran sebagai suatu kondisi yang menenteramkan kejiwaan seseorang.

OLEH A SYALABY ICHSAN

Banyak dari kita yang menunaikan shalat hanya sekadar gerakan untuk menggugurkan kewajiban. Bukan hanya tidak benar-benar paham akan makna di balik bacaan shalat, kita pun terkadang amat tergesa dalam shalat.

Salah satu yang menjadi fenomena yakni shalat tarawih 23 rakaat selama tujuh menit yang kerap viral saat Ramadhan tiba. Padahal, shalat butuh tumakninah. Jumhur ulama bahkan sepakat jika tumakninah masuk ke dalam rukun shalat. 

Dr Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Ensiklopedia Sholat menyebut, tumakninah berarti diam (tenang) selama membaca zikir yang wajib dibaca. Jika tidak diam (tenang) berarti belum tumakninah.

Wahbah Juhaili menjelaskan, tumakninah menurut istilah adalah diam setelah gerakan atau diam di antara dua gerakan sehingga memisahkan, misalnya antara bangkit dari rukuk dan turun dari rukuk hendak sujud. Batasan tumakninah sekadar membaca tasbih (subhanallah). Tumakninah dilakukan ketika rukuk, i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud.

 
Tumakninah dilakukan ketika rukuk, i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud
 
 

Allah SWT menjelaskan tumakninah dalam Alquran sebagai suatu kondisi yang menenteramkan kejiwaan seseorang. Kondisi ini disebabkan karena iman. “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram (tathmainnu) disebabkan karena zikrullah. Sungguh, hanya dengan mengingat Allah hati mereka tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat yang baik. “(QS ar-Ra’d: 28-29).

Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah menyebut, iman di sini bukan sekadar pengetahuan tentang objek iman. Pengetahuan tentang sesuatu belum tentu mengantarkan kita kepada keyakinan apalagi ketenteraman.

Kata tuthmainnu pun menggunakan bentuk kata kerja masa kini. Penggunaannya bukan bertujuan menggambarkan terjadinya ketenteraman pada masa tertentu tetapi yang dimaksud adalah kepada kesinambungan dan kemantapannya. 

Ketenteraman ini bisa kita dapatkan dengan keimanan yang didasari pengetahuan. Suatu pengetahuan yang disertai dengan kesadaran akan kebesaran Allah serta kelemahan dan kebutuhan makhluk kepada-Nya. Saat pengetahuan dan kesadaran itu bergabung dalam jiwa seseorang, ketika itu lahir ketenangan dan ketenteraman.

 
Ketenteraman ini bisa kita dapatkan dengan keimanan yang didasari pengetahuan. Suatu pengetahuan yang disertai dengan kesadaran akan kebesaran Allah.
 
 

Perasaan itu datang saat kita menyadari Allah adalah Penguasa tunggal dan Pengatur alam raya. Apa yang ada di dalam genggaman tangan-Nya segala sesuatu. Ketika kita menyebut-nyebut nama-Nya, mengingat kekuasaan-Nya, serta sifat-sifat-Nya yang agung, maka itu akan membuat kita tenteram.

Banyak hadis yang menekankan tentang urgensi tumakninah ini. Salah satunya yakni saat Rasulullah SAW mengajari seorang lelaki yang masuk masjid untuk menunaikan shalat. Beliau SAW menyuruh lelaki itu untuk mengulangi shalatnya hingga tiga kali hingga meminta nabi untuk mengajarkannya. 

Artinya: "Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW masuk ke masjid, kemudian ada seorang laki-laki masuk masjid lalu shalat. Kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Beliau menjawab dan berkata kepadanya, 'Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!' Maka orang itu mengulangi shalatnya seperti yang dilakukannya pertama tadi.

Lalu datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi salam. Namun Beliau kembali berkata: 'Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!'

Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata, 'Demi Dzat yang mengutus anda dengan hak, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarkanlah aku!'

photo
Jamaah melaksanakan Shalat Tarawih di Masjid Lautze, Jakarta, Sabtu (16/4/2022)..Prayogi/Republika - (Prayogi/Republika.)

Beliau lantas berkata: 'Jika kamu berdiri untuk shalat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Alquran kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tumakninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar tumakninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan tumakninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh shalat (rakaat)-mu'." (HR Bukhari (793), Muslim (397))

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bahkan mengecam seseorang yang shalat dengan tergesa-gesa. Hingga beliau SAW mengumpamakan gerakan pelakunya macam burung gagak yang sedang mematuk darah. “Tahukah kamu orang ini? Siapa yang meninggal dalam keadaan seperti ini maka dia mati di atas agama selain Muhammad. Dia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah.” (HR Ibnu Khuzaimah).

Tidak heran sejumlah ulama mazhab menetapkan kewajiban untuk tumakninah. Salah satunya, yakni Mazhab Maliki dalam al-Fiqhu-Al Maliku yang menjelaskan, “Apabila tidak bangkit dari ruku (i’tidal) dan tumakninah ketika (i’tidal) batal shalatnya. Dalil wajibnya i’tidal adalah hadis Nabi ketika lewat di samping orang yang shalat, maka Nabi bersabda: 'Kemudian bangkit dari rukuk (i’tidal) sehingga tumakninah dalam i’tidal, kemudian bangkit dari rukuk tersebut sehingga berdiri tegak lurus. Menurut pendapat mazhab Maliki amar (perintah) di sini adalah lil wujub (wajib)."

Dalam salah satu kajiannya, pendiri Quantum Akhyar Institute Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, sebaiknya tumakninah dilakukan dengan memastikan gerakan shlat kita sudah benar dan nyaman sebelum membaca doa. Misalnya, pastikan gerakan rukuk memang sudah benar dalam artian sejajar bagian depan dengan bagian belakang.

Darah bisa mengalir dengan lancar. Secara kesehatan pun sudah bagus. Jika kondisi itu sudah terpenuhi, baru dibacakan doa sesuai dengan tuntunan. Wallahu a’lam.


Fasilitas untuk Calhaj Dijamin Berkualitas

Kualitas layanan juga diprioritaskan untuk menjamin kenyamanan calhaj selama di Tanah Suci.

SELENGKAPNYA

DMO Minyak Sawit Diberlakukan Lagi 

Kebijakan pencabutan larangan ekspor akan diikuti pemberlakuan DMO dan DPO.

SELENGKAPNYA

Ketakutan Singapura

Singapura sangat membutuhkan hubungan baik dengan Indonesia tapi terkesan seperti tidak butuh.

SELENGKAPNYA
×