Pengunjung memindai kode batang pembayaran non tunai saat membeli produk UMKM di Foodhall Oleh-oleh Umi Stasiun Bandung, Jawa Barat, Ahad (24/4/2022). | ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Opini

20 May 2022, 03:45 WIB

Refleksi Harkitnas 2022

Bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang begitu sangat kompleks.

ABDULLAH MUKTI, Tenaga Ahli Revolusi Mental Kemenko PMK

Setiap tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Hari yang bersejarah tersebut menjadi tonggak awal bangsa ini tegak menjadi bangsa yang satu, Bangsa Indonesia. 

Tanggal 20 Mei menjadi pijakan 20 tahun berikutnya akan Sumpah Pemuda. Budi Utomo menjadi tonggak bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena mampu menumbuhkan semangat perjuangan. Oleh karena itu, memperingati Hari Kebangkitan Nasional tidak hanya boleh berhenti menjadi seremonial tanpa merefleksikannya spirit etos kebangkitan nasional yang berdaulat, dan menjadikan bangsa Indonesia yang kokoh kuat dan mandiri.

Relevansi Kebangkitan Nasional 

Revolusi Mental adalah perubahan cara berpikir untuk merespons, bertindak, dan bekerja. Ide dasar dari Revolusi Mental adalah membangun jiwa bangsa, yaitu jiwa merdeka, jiwa kebebasan untuk meraih kemajuan. Semangat Revolusi Mental adalah melanjutkan perjuangan besar mengisi janji kemerdekaan.

 
Bangsa Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang begitu sangat kompleks. Di antaranya, kedaulatan dan kemandirian bangsa melalui pilar perekonomian. 
 
 

Gagasan genuine Bung Karno mengenai Revolusi Mental melalui Trisakti, diterjemahkan dalam konteks kekinian oleh Presiden Joko Widodo. Diharapkan, melalui Revolusi Mental kedaulatan bangsa dan negara Indonesia dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan dapat tercapai. 

Bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang begitu sangat kompleks. Di antaranya, mengenai kedaulatan dan kemandirian bangsa melalui pilar perekonomian. Pilar perekonomian Indonesia pilar ekonomi kerakyatan, di mana kedaulatan rakyat menjadi pokok utama mewujudkan Indonesia mandiri. 

Sebagaimana yang diungkapkan Arif Budimanta mengutip gagasan Mohammad Hatta bahwasanya inti dari kedaulatan rakyat sesungguhnya adalah segala kebijakan negara berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Oleh karena itu, Arif Budimanta menegaskan, dibutuhkan sistem ekonomi yang ajek sebagai landasan atau acuan bersama (common platform) dalam pembuatan seluruh kebijakan ekonomi ke depannya. Sistem ini hendaknya mengacu pada norma-norma dan prinsip-prinsip Pancasila sebagai dasar negara serta UUD 1945 sebagai landasan konstitusionalnya. 

Sistem inilah yang disebut sebagai Sistem Ekonomi Pancasila. Mubyarto secara sederhana mengatakan (2004), sistem ekonomi Pancasila bukan kapitalisme dan bukan pula sosialisme. Sistem ekonomi Pancasila pada dasarnya memiliki tiga corak inti utama.

Pertama, ia merupakan roh dari ekonomi yang dikehendaki konstitusi. Kedua, ia tidak anti terhadap pasar, karena justru di pasar itulah perlu ada perlindungan terhadap pelaku-pelaku ekonomi agar dapat berelasi dengan adil.

Ketiga, sebagai konsekuensi dari dua poin sebelumnya, negara harus hadir mendukung serta menopang pelaku pasar yang lemah dan terlemahkan (Arif Budimanta, 2019). 

 
Konsep ekonomi kerakyatan adalah sebuah ideologi “jalan tengah”, yang digagas Hatta dalam menanggapi kegagalan komunisme dan liberalisme yang berkembang saat itu.
 
 

Kaitannya dengan ekonomi kerakyatan, konsep ekonomi kerakyatan adalah sebuah ideologi “jalan tengah”, yang digagas Hatta dalam menanggapi kegagalan komunisme dan liberalisme yang berkembang saat itu. Konsep ini diejawantahkan dalam Pasal 33 UUD 1945 dan penempatan koperasi dalam perekonomian Indonesia. Akan tetapi, nama besar koperasi yang digagas oleh Mohammad Hatta mengalami kendala, bahkan berada di persimpangan jalan. 

Ada lima tantangan dan isu strategis terkait koperasi. Pertama, belum ada penetapan acuan kebijakan nasional terkait pembudayaan sistem ekonomi kerakyatan melalui platform koperasi (asas gotong royong dan  etika kolektif). Kedua, semangat dan pengamalan nilai-nilai Pancasila (gotong-royong, kemandirian  dan  kebersamaan) yang belum terpatri kuat. 

Ketiga, masih adanya ketimpangan akses terhadap penguasaan modal ataupun pemerataan prasarana pendukung dalam aktivitas ekonomi rakyat berbasis koperasi. Keempat, masih kurangnya SDM berkualitas dan berdaya saing untuk merespons perkembangan pasar nasional dan internasional.

Kelima, masih kurangnya edukasi ataupun sosialisasi “menarik” tentang pembudayaan sistem ekonomi kerakyatan melalui koperasi, terutama bagi generasi muda. 

Strategi dan langkah 

Oleh karena itu, memperingati Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2022 kali ini, dalam konteks Gerakan Nasional Revolusi Mental ikhtiar Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) berkolaborasi dan bersinergi dengan Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Koperasi dan UMKM, dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengupayakan, mewujudkan Gerakan Nasional Revolusi Mental Gerakan Indonesia Mandiri, melalui Gerakan Ayo Berkoperasi. Momentum Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2022 diharapkan, menjadi katalisator kebangkitan Gerakan Ayo Berkoperasi.

 
Untuk mewujudkan gerakan berkoperasi, perlu disusun beberapa strategi menggelorakan Gerakan Ayo Berkoperasi di Hari Kebangkitan Nasional.
 
 

Untuk mewujudkan gerakan berkoperasi, perlu disusun beberapa strategi menggelorakan Gerakan Ayo Berkoperasi di Hari Kebangkitan Nasional. Pertama, digitalisasi Gerakan Koperasi Berbasis Start-Up. Kedua, pelibatan generasi milenial dalam menggelorakan Gerakan Ayo Berkoperasi.

Ketiga, praktik baik Gerakan Berkoperasi yang telah berhasil menggerakkan ekonomi kerakyatan dan kemandirian masyarakat. Keempat, kampanye secara masif dan sistematis Gerakan Ayo Berkoperasi secara serial (aplikatif-mengena dan aksi nyata). Kelima, menggerakkan Gerakan Ayo Berkoperasi secara kolaboratif sinergis dengan berbagai pihak.

Upaya menggelorakan Gerakan Ayo Berkoperasi membutuhkan upaya yang simultan berkepanjangan dan konsisten secara struktural, yang menekankan kepada perubahan dan penguatan regulasi. Gerakan kultural berupa pembudayaan Gerakan Ayo Berkoperasi dan gerakan prosesual, di mana upaya penumbuhan lingkungan Gerakan Ayo Berkoperasi. 

Akhirnya, momentum Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2022 diharapkan, menjadi momentum kebangkitan Gerakan Ayo Berkoperasi agar terwujud Bangsa Indonesia yang berdaulat, bangsa yang mandiri berlandaskan napas jiwa ekonomi kerakyatan. Menggelorakan Gerakan Ayo Berkoperasi sejatinya, menegakkan kembali kedaulatan Indonesia yang mandiri, sejahtera, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Dua Sisi Teknologi Robotik

Tak selamanya kehadiran robot menjadi ancaman bagi manusia.

SELENGKAPNYA

Kecerdasan Artifisial Tingkatkan Kinerja LKS

LKS menjadi penggerak keuangan syariah.

SELENGKAPNYA
×