Garis polisi. (ilustrasi) | ANTARA FOTO

Kisah Dalam Negeri

20 May 2022, 03:45 WIB

Menanti Tersangka Pembunuhan Ibu-Anak di Subang

Polda Jabar tidak pernah mengeluarkan data teknis terkait penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan ini.

OLEH RIZKY SURYARANDIKA

Pembunuhan sadis terhadap Tuti Surhartini (55 tahun) dan anaknya, Amalia Mustika Ratu (23), di Subang masih misterius. Polisi hingga kini belum mampu mengungkap siapa pelaku pembunuhan ibu beranak di rumahnya pada 18 Agustus 2021 itu.

Pada Rabu kelam itu, suami Tuti sekaligus ayah Amalia, Yosef Hidayah yang beru pulang menemukan rumahnya dalam kondisi tidak wajar. Tidak lama berselang, ia menemukan tubuh Tuti dan Amalia dalam konsisi tak bernyawa di dalam bagasi mobil Alphard yang di parkir di garasi rumahnya.

Hasil olah tempat kejadian perkara, kepolisian mengaku menemukan titik terang. Pelaku diduga lebih dari satu orang dan mengetahui seluk beluk rumah korban. Setelah membunuh korban di kamar, pelaku sempat dibersihkan di kamar mandi, lalu membawa mereka ke dalam bagasi mobil.

 
Hasil olah tempat kejadian perkara, kepolisian mengaku menemukan titik terang. Pelaku diduga lebih dari satu orang dan mengetahui seluk beluk rumah korban.
 
 

Namun, kinerja kepolisian berjalan lambat. Mereka belum mampu mengungkap siapa pelaku pembunuhan itu. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Ibrahim Tompo mengeklaim penyidik masih bekerja keras mengungkap kasus itu.

"Kami membentuk tim khusus yang terdiri dari Polda (Jabar) dan Polres (Subang). Kita semua berharap semoga kasus ini bisa secepatnya terungkap," kata Ibrahim dalam keterangannya kepada Republika, Kamis (19/5).

Menurut dia, sebanyak 121 saksi telah diperiksa, begitu juga dengan 216 item barang bukti yang ditemukan. "Kami sudah memeriksa 10 TKP dan agenda saat ini melakukan pendalaman terhadap beberapa saksi, barang bukti dan juga beberapa TKP," ujar Ibrahim.

Menurut dia, Polda Jabar tidak pernah mengeluarkan data teknis terkait penyelidikan dan penyidikan. Sebab, hal tersebut bertentangan dengan Undang-undang Kebebasan Informasi Publik, karena termasuk informasi yang dikecualikan. "Dihimbau kepada beberapa pihak yang melansir informasi terkait hal ini agar menghentikan memberikan info yang tidak faktual dan tidak mendasar," kata Ibrahim.

 
Polda Jabar tidak pernah mengeluarkan data teknis terkait penyelidikan dan penyidikan. 
 
 

Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Irjen Benny Mamoto mengaku terus memonitor kasus ini dengan meminta informasi perkembangan kasus kepada Polda Jabar secara rutin. Berdasarkan penelusuran sementara, pihak kepolisian sudah menemukan DNA di tempat Tuti dan Amalia kehilangan nyawa. Namun sayangnya kepolisian terkendala dalam mengidentifikasi pemilik DNA itu karena belum ada pembandingnya.

Benny mengakui, data DNA pembanding itu cenderung sukar diperoleh karena tak ada pusat data DNA di Tanah Air. "Kalau data base DNA atau DNA pembanding sudah ada sebenarnya mudah bagi kepolisian mengidentifikasi siapa saja yang ada di TKP," kata Benny.

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala sempat mendatangi TKP pembunuhan di Subang pada Mei ini. Ia mengkritisi kurang terjaganya keaslian TKP itu karena ditumbuhi rumput liar.

"Saya awalnya membayangkan rumah itu masih rapih dan terawat. Nyatanya tidak. Khususnya setelah 9 bulan, rumput liar di mana-mana," kata Adrianus.

Adrianus mengingatkan kepolisian supaya memperhatikan kondisi TKP, apalagi yang belum ada tersangkanya. Sebab menurutnya, kepolisian bisa merugi karena kehilangan peluang mendapat bukti baru di TKP. 

"Polisi perlu juga memelihara lokasi itu selaku TKP agar 'jejak' yang mungkin masih ada bisa dimanfaatkan. Kalau TKP rusak karena tidak dirawat, yang rugi polisi sendiri," ujar Adrianus. 


Dua Sisi Teknologi Robotik

Tak selamanya kehadiran robot menjadi ancaman bagi manusia.

SELENGKAPNYA

Netralitas ASEAN Diuji

Tekanan AS soal Rusia-Ukraina membayangi pertemuan puncak di Kamboja (ASEAN Related Summit), Indonesia (G20), dan Thailand (APEC). Bagaimana respons ketiga negara itu?

SELENGKAPNYA

Kecerdasan Artifisial Tingkatkan Kinerja LKS

LKS menjadi penggerak keuangan syariah.

SELENGKAPNYA
×