Pendeta Kristen mendoakan jenazah jurnalis Ajazirah Shireen Abu Akleh sebelum disemayamkan di kamar jenazah di rumah sakit di Jenin, Tepu Barat, Rabu (11/5/2022). | AP Photo/Majdi Mohammed

Opini

19 May 2022, 03:45 WIB

Pembunuhan Shireen dan Dampak Perang Ukraina

Sikap AS dan Uni Eropa atas pembunuhan Shireen tak lepas dari perang Rusia-Ukraina.

SMITH ALHADAR, Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

Pembunuhan wartawan Palestina yang meliput konflik Israel-Palestina di lapangan sudah lama menjadi kebijakan Israel. Tujuannya, menghapus aksi kekerasan Israel dan membungkam suara Palestina.

Pada 15 Mei tahun lalu, di tengah perang Hamas-Israel, Israel mengebom gedung di Jalur Gaza tempat kantor berita Aljazirah berkantor. Wartawan Aljazirah, Shireen Abu Akleh, yang dibunuh Israel pada 11 Mei lalu merupakan korban pembunuhan terakhir dari 55 wartawan Palestina sejak 2000.

Pembunuhan-pembunuhan berdarah dingin itu selama ini tidak cukup mendapat perhatian  -- apalagi sanksi internasional --  karena dihalangi AS dan sekutu Barat. Tapi kali ini, yakni pembunuhan Shireen, direpons berbeda oleh DK PBB, AS, Uni Eropa, Inggris, dan Komisi Tinggi HAM PBB. Mereka menolak investigasi yang akan dilakukan Israel, yang integritas dan kredibilitasnya tak dipercaya. Sebaliknya, mereka menuntut investigasi segera, menyeluruh, transparan, dan imparsial.

Reaksi luas komunitas internasional, khususnya AS dan UE, tentu saja tak diduga Israel yang selama ini menikmati privilese dalam membunuh orang Palestina, yang dipandang membahayakan kepentingannya. Bahkan, sekadar menampilkan bendera Palestina di Yerusalem pun  sudah dianggap  sebagai tindakan subversif. Serangan aparat Israel terhadap para pengusung peti jenazah Shireen yang dibalut bendera Palestina adalah salah satu contohnya.

 
Reaksi luas komunitas internasional, khususnya AS dan UE, tentu saja tak diduga Israel yang selama ini menikmati privilese dalam membunuh orang Palestina, yang dipandang membahayakan kepentingannya.
 
 

Sejak menduduki Yerusalem Timur pada 1967 dan dianeksasi pada 1981, Israel memang berusaha menghapus apa pun jejak dan simbol Palestina di kota suci tiga agama itu. Maka represi Israel atas warga Palestina di Yerusalem Timur, termasuk upaya menghilangkan bendera Palestina dan merobohkan kompleks Masjid al-Aqsa untuk dibangun Bukit Kuil di atas puingnya, terus dilakukan. Bendera, yang di bawahnya semua komponen Palestina bersatu, menjadi atribut yang menakutkan Israel karena menginspirasi kemerdekaan Palestina.

Sikap AS dan Uni Eropa yang akomodatif terhadap kekecewaan Arab atas pembunuhan Shireen tak lepas dari perang Rusia-Ukraina. Hal itu pertama-tama dapat dilihat pada pernyataan pers 15 anggota DK PBB setelah bahasa yang menekankan pentingnya kebebasan media -- dan perlunya wartawan yang bekerja di daerah berbahaya untuk dilindungi -- dihilangkan atas desakan Cina dan Rusia. Pernyataan dewan diulang bahwa wartawan harus dilindungi seperti warga sipil. Negosiasi di DK PBB berjalan sengit.

Cina menekan AS untuk mencabut paragraf yang mengutuk pelanggaran yang dilakukan terhadap media di seluruh dunia. Beijing adalah salah satu anggota yang menginisiasi pernyataan tentang pembunuhan itu, dan ketika draf awal tidak mencantumkan Israel, Cina mendorongnya untuk dimasukkan bahwa pembunuhan itu dilakukan aparat keamanan Israel.

Cina menuntut penghapusan paragraf tertentu agar teks fokus pada pembunuhan Shireen dan pendudukan Israel, serta menghindari penyembunyian kesalahan-kesalahan pada isu itu.

AS, Inggris, dan Prancis sebagai anggota tetap DK PBB terpaksa menerima draf yang diusulkan Cina dan Rusia guna memenangkan hati bangsa Arab khususnya, yang akibat perang Ukraina, posisinya menjadi strategis. Rencana embargo total NATO atas minyak dan gas Rusia untuk melemahkan kekuatan perang Moskow tidak mungkin dapat dilaksanakan, tanpa sokongan negara-negara Arab produsen gas dan minyak untuk mengganti gas dan minyak Rusia yang hilang di Eropa.

 
AS, Inggris, dan Prancis sebagai anggota tetap DK PBB terpaksa menerima draf yang diusulkan Cina dan Rusia guna memenangkan hati bangsa Arab khususnya, yang akibat perang Ukraina, posisinya menjadi strategis. 
 
 

Sejauh ini, bujukan AS dan UE kepada negara-negara Arab Teluk – khususnya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar – untuk memompa lebih banyak energi mereka untuk dipasok ke Eropa tak mendapat sambutan. Mereka, bersama negara Arab pengekspor minyak dan gas lain, mengambil sikap netral terkait perang Ukraina.

Berikut beberapa alasan mereka menolak bujukan AS dan Barat. Pertama, mereka ingin mempertahankan tingginya harga minyak dan gas dunia. Kedua, Rusia adalah anggota OPEC+, yang telah ikut menetapkan harga minyak dan gas sebelum perang Ukraina. Melanggar komitmen itu akan membuat OPEC+ di mana Rusia adalah mitra strategis akan bubar, yang tentu akan merugikan mereka dalam jangka panjang.

Ketiga, mereka hendak mengimbangi hegemoni AS di Timur Tengah dengan menjaga hubungan baik dengan Rusia dan Cina. Dengan kata lain, mereka mendukung tatanan dunia multipolar ketika kekuatan AS sebagai negara adidaya tunggal, mulai meredup di tengah kebangkitan Rusia dan Cina yang pengaruhnya terus membesar.

Di luar itu, kendati masih mengharapkan AS sebagai pelindung keamanannya, Saudi kecewa pada perubahan kebijakan AS di bawah Biden. Pertama, Washington tak lagi mendukung koalisi pimpinan Saudi dalam perang melawan milisi Syiah Houthi dukungan Iran, yang belakangan meningkatkan serangan terhadap kota-kota dan instalasi minyak Saudi.

 
Di luar itu, kendati masih mengharapkan AS sebagai pelindung keamanannya, Saudi kecewa pada perubahan kebijakan AS di bawah Biden. 
 
 

Kedua, berbeda dengan Presiden AS Donald Trump, Biden hendak memulihkan perjanjian nuklir Iran. Perundingan selama satu tahun terakhir untuk memulihkan perjanjian antara Iran dan P51 (AS, Rusia, Cina, Inggris, Prancis) plus Jerman itu hampir final.

Bila kesepakatan dicapai, Iran dapat mengekspor minyak dan gasnya kembali ke pasar global, yang dikhawatirkan negara Arab Teluk akan membuat Iran makin leluasa menjalankan politik ekspansifnya di kawasan, dengan mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Arab. Ini dipandang mengancam keamanan mereka. UEA, Bahrain, Yordania, dan Mesir juga membagi keprihatinan Riyadh.

Sikap AS dan UE yang cenderung pro-Palestina terkait pembunuhan Shireen, tak lain untuk mengimbangi Rusia dan Cina yang ingin memanfaatkan insiden itu untuk menjauhkan Timur Tengah dari pengaruh AS dan sekutu Barat, selain Biden harus mendengar suara aktivis HAM di AS dan anggota Kongres dari Demokrat, yang mengecam tindakan Israel.

Memang bila NATO dan AS sangat kritis terhadap pelanggaran HAM Rusia di Ukraina, pembunuhan Shireen harus juga dikutuk keras. Kalau tidak, tuduhan AS dan sekutu Barat menerapkan standar ganda tak dapat dihindari.


ASEAN Perkuat Kerja Sama Ekonomi 

Pertemuan itu membahas konsolidasi antarnegara untuk kembali memperkuat kerja sama ekonomi.

SELENGKAPNYA

Mencermati RUU Sisdiknas (4)

Sejauh ini tidak ada info atau gosip tentang revisi Naskah Akademik RUU tentang Sisdiknas.

SELENGKAPNYA

Kejutan, Ratu Inggris Resmikan Elizabeth Line

Ratu berusia 96 tahun ini diketahui telah mengurangi sebagian besar keterlibatan dalam acara publik.

SELENGKAPNYA
×