Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. | AP/John Minchillo/POOL AP

Internasional

19 May 2022, 03:45 WIB

PBB Luncurkan Rencana Energi Terbarukan

Guterres mendesak dunia beralih dari penggunaan subsidi bahan bakar fosil ke energi terbarukan.

JENEWA -- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres meresmikan rencana lima poin untuk memulai memperluas penggunaan energi terbarukan, Rabu (18/5). Harapannya, rencana itu meningkatkan perhatian dunia pada perubahan iklim.

"Kita harus segera mengakhiri polusi bahan bakar fosil dan mempercepat transisi energi terbarukan sebelum kita membakar satu-satunya rumah kita (Bumi—Red)," kata Guterres, Rabu. "Waktunya sudah habis."

Sementara itu, badan cuaca PBB, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), melaporkan konsentrasi gas rumah kaca, panas laut, permukaan air dan keasaman laut mencapai rekor tertingginya tahun lalu. Peringatan terbaru Guterres ini tentang risiko bencana lingkungan diluncurkan setelah WMO merilis laporan respons pemerintah di dunia dalam perubahan iklim, “State of the Climate Report for 2021”.

"Laporan ‘State of the Climate’ hari ini merupakan litani suram kegagalan manusia mengatasi disrupsi iklim, sistem energi global rusak, dan membawa kita semakin dekat pada bencana iklim," kata Guterres.

Dalam laporan WMO tersebut, bumi semakin panas dalam tujuh tahun terakhir. WMO mengatakan, dampak dari cuaca ekstrem mengakibatkan kematian dan penyakit, imigrasi, dan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar AS. 

Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas mengatakan, pada 2020, emisi turun setelah pandemi virus korona menghentikan aktivitas manusia. Namun, tambahnya, itu tidak mengubah "gambaran besarnya" karena karbon dioksida yang merupakan penyebab utama gas rumah kaca sudah lama ada dan bertahan, sedangkan emisi terus tumbuh.

"Kita telah melihat stabilnya pertumbuhan konsentrasi karbon dioksida yang berkaitan pada fakta kita masih menggunakan terlalu banyak bahan bakar fosil, deforestasi di berbagai wilayah seperti Amazon, Afrika, dan Asia Selatan masih berlanjut," kata Taalas.

Lima rencana Guterres

Rencana terbaru Guterres akan disampaikan dalam konferensi iklim PBB berikutnya di Mesir pada November mendatang. Ia mendorong transfer teknologi dan mencabut semua perlindungan hak cipta pada teknologi terbarukan, seperti penyimpanan baterai.

Rencana yang kedua, Guterres ingin akses rantai pasokan dan bahan mentah untuk teknologi terbarukan diperluas. Saat ini, semua itu masih terpusat di segelintir negara diperluas.

Pada rencana ketiga, Guterres juga ingin pemerintah mereformasi cara mereka mempromosikan energi terbarukan, seperti mempercepat proyek-proyek energi surya dan angin. Rencana berikutnya, Guterres menyerukan agar pemerintah mengalihkan sumber daya dari subsidi industri bahan bakar fosil yang kini mencapai setengah triliun dolar AS per tahun.

Itu diakuinya bukan tugas yang mudah. Subsidi-subsidi itu meringankan beban finansial konsumen, tapi juga menyuntikan banyak uang pada perusahaan energi.

"Saat rakyat menderita karena tingginya harga di stasiun pengisian bensin, industri minyak dan gas meraup miliaran dari pasar yang terganggu, skandal ini harus dihentikan," kata Guterres.

Rencana kelima, Guterres mengatakan, investasi swasta dan publik pada energi terbarukan harus dinaikkan setidaknya tiga kali lipat hingga 4 triliun dolar AS per tahun. Ia mencatat subsidi pemerintah untuk bahan bakar fosil saat ini tiga kali lebih besar dari energi terbarukan.

Inisiatif-inisiatif PBB itu dibangun berdasarkan satu gagasan: emisi gas rumah kaca yang diciptakan manusia di era industri memerangkap panas di atmosfer, permukaan bumi, samudra, dan laut. Pada akhirnya, itu berdampak membuat bencana alam semakin sering, seperti banjir, badai, kekeringan, dan kebakaran hutan.

Ilmuwan iklim Zeke Hausfather dari perusahaan teknologi nonprofit yang berfokus pada data lingkungan ilmiah, Stripe and Berkeley Earth, mengatakan bahwa cara yang baik menuju emisi nol adalah dengan membuat energi bersih murah.

"Sementara negara-negara kaya dapat mengeluarkan lebih banyak dana untuk energi bersih, negara pendapatan rendah dan menengah mungkin lebih enggan untuk menerima pertukaran antara mengurangi emisi dan mengangkat miliaran orang dari kemiskinan," katanya.

Pakar iklim memuji ambisi PBB dan mengkhawatirkan temuan WMO. Mereka mengatakan, sejumlah negara bergerak menuju arah yang salah.

"Penggunaan batu bara yang kotor kembali meningkat sebagai insentif stimulasi ekonomi Covid-19 di Cina dan India, kami membangun lebih banyak pabrik batu bara di seluruh dunia dibandingkan dengan saat kita luring, bagaimana mungkin ini terjadi di tahun 2021?" kata profesor ilmu sistem bumi dari Stanford University, Rob Jackson, yang juga ketua Global Carbon Project.

Profesor pendidikan lingkungan di University of Michigan, Jonathan Overpeck, mencatat bahan bakar fosil berperan besar dalam perang Rusia di Ukraina. Rusia merupakan produsen minyak dan gas dunia, termasuk melalui pipa yang transit di Ukraina. 

Sumber : Associated Press


ASEAN Perkuat Kerja Sama Ekonomi 

Pertemuan itu membahas konsolidasi antarnegara untuk kembali memperkuat kerja sama ekonomi.

SELENGKAPNYA

Pembunuhan Shireen dan Dampak Perang Ukraina

Sikap AS dan Uni Eropa atas pembunuhan Shireen tak lepas dari perang Rusia-Ukraina.

SELENGKAPNYA

Kejutan, Ratu Inggris Resmikan Elizabeth Line

Ratu berusia 96 tahun ini diketahui telah mengurangi sebagian besar keterlibatan dalam acara publik.

SELENGKAPNYA
×